Sabtu, 28 Desember 2013

PERHIMAK Hantar Pemuda Kebumen Raih Sukses



Foto: Mahasiswa UI Asal Kebumen
Minimnya angka pelajar daerah yang bisa memasuki gerbang perguruan tinggi, menggerakkan sekelompok pemuda dari Kebumen untuk memfasilitasi 'adik-adiknya' agar mereka dapat menikmati bangku kuliah.

Mahasiswa UI asal Kebumen

Sejak dulu kiprah para pemuda pada sebuah bangsa memang tidak bisa disepelekan. Meski banyak yang memandang sebelah mata karena pengalaman mereka yang belum seberapa, namun nyatanya banyak generasi muda yang juga mengukirkan prestasi.

Kiprah pemuda pada masa kini pun tak bisa dianggap sepele. Mari tengok sejenak sebuah perhimpunan para pemuda dari Kabupaten Ke­bumen, sebuah daerah kecil di Jawa Tengah. Daerah yang menurut da­ta Badan Pusat Statistik (BPS) adalah kabupaten nomor 3 dengan penduduk termiskin di Jawa Te­ngah ini ternyata melahirkan se­buah gerakan pemuda yang cukup luar biasa.
Berawal dari sebuah kelompok belajar 6 orang pemuda sekitar 11 tahun lalu, akhirnya terlahir sebuah perhimpunan asal kabupaten Kebumen yang diberi nama PERHIMAK (Perhimpunan Mahasiswa Kebumen). Enam orang pemuda ter­sebut dibawa oleh seorang mahasiswa jurusan Teknik Mesin FT UI Ardiyansyah (saat ini dosen di ju­rusan tersebut, Red.) asal Kebumen, dalam rangka persiapan ujian ma­suk perguruan tinggi.

Keenam orang ini kemudian di­terima di berbagai perguruan tinggi favorit, salah satunya UI. Dua orang yang berhasil masuk ke UI tersebut mendapatkan advokasi (keringan­an) dari UI dan hal ini sungguh jauh dari bayangan mereka tentang mahalnya biaya yang harus dike­luarkan untuk kuliah.
Saat itu memang sebagian besar masyarakat di Kebumen berpikir bahwa kuliah hanya untuk mereka yang memiliki uang lebih. Meski anak-anak mereka banyak yang ber­prestasi di bidang akademik, namun orang tua berpikir bahwa itu tidak cukup membawa mereka menuju bangku perguruan tinggi.
Terkuaknya fakta bahwa kuliah ternyata bisa dirasakan oleh semua golongan, apalagi jika ber­prestasi dalam bidang akademik, kedua pemuda ini mengumpulkan teman-teman Kebumen lainnya yang berada di UI untuk mengadakan sharing informasi tentang per­kuliahan di SMA Negeri 1 Kebumen, sekolah mereka dahulu.

“Saat itu mahasiswa asal Kebu­men masih sedikit sekali. Masih susah mencarinya. SDM benar-benar terbatas,” ungkap Tribuana salah satu founder PERHIMAK UI yang saat ini terpilih sebagai ketua alumni PERHIMAK UI.

Dengan sumber daya manusia yang sangat minim, saat itu para pemuda tersebut memberikan informasi bahwa kuliah itu terbuka untuk siapa saja. Namun bukan hanya itu saja yang mereka lakukan. Bermodal niat membantu adik-adiknya sesama warga Kebumen, mereka mengajak adik-adik yang saat itu sudah selesai ujian akhir untuk ikut ke Jakarta dan membimbing mereka mempersiapkan ujian ma­suk perguruan tinggi negeri. Meski minim dana, namun itu tidak menyurutkan langkah mereka. Di sela kesibukan perkuliahan dan orga­nisasi, mereka membantu adik-adik untuk persiapan ujian masuk.

“Awalnya ada sekitar 7 orang yang akhirnya ikut kami ke Jakarta setelah kami mengadakan sharing di SMA kami dulu. Kami tampung mereka di asrama atau di tempat kost teman, karena saat itu ada pe­serta yang juga perempuan. Ka­mi cari donasi dari sana sini untuk bia­ya mereka selama di sini dan kami berikan bimbingan semampunya untuk mempersiapkan mereka mengikuti ujian masuk. Ini yang kemudian menjadi cikal bakal program Bimbel PERHIMAK UI nantinya,” Tribuana menjelaskan.

Tahun 2004, mereka mengada­kan seminar untuk pertama kali­nya di SMA 1 Kebumen. Dari se­minar tersebut bertambah yang ingin ikut ke Jakarta untuk per­siapan ujian masuk perguruan tinggi. Mengulang kegiatan tahun sebelumnya, mereka berjibaku men­didik adik-adik untuk ujian masuk, mencarikan tempat tinggal sementara, dan mencari donasi.

Akhirnya semakin bertambah pemuda asal Kabupaten Kebumen yang berhasil kuliah di UI. Dengan bertambahnya mahasiswa UI asal Kebumen, maka bertambah pula sumber daya manusia untuk mengadakan seminar.

Tahun 2005 akhirnya resmi berdiri Perhimpunan Mahasiswa Kabupaten Kebumen Universitas Indonesia (PERHIMAK UI). Dan untuk pertama kalinya, di tahun 2006, mereka membuat sebuah event sosial besar di sebuah gedung pertemuan terbesar di Kabupaten Kebumen yaitu Universitas Indonesia Goes To Kebumen (UI GTK) yang merupakan seminar, sharing informasi tentang perguruan tinggi, sampai training motivasi.

“Dua event besar yang selalu dibuat oleh PERHIMAK UI adalah UI GTK dan Bimbel PERHIMAK, selain tetap ada kegiatan lainnya untuk para mahasiswa asal Ke­bumen seperti mencarikan beasis­wa, perlombaan, buka bersama, dan berbagai kegiatan khas mahasiswa lainnya,” jelas Tribuana.

Saat ini setiap tahunnya ada sekitar 50 sampai 60 orang siswa asal Kabupaten Kebumen yang di­terima masuk Universitas Indo­ne­sia dan hampir setengahnya adalah siswa-siswa yang ikut dalam program sosial Bimbel PERHIMAK UI.

Berdasarkan data yang dimi­liki oleh PERHIMAK UI, sudah ada sekitar 400 siswa asal Kebu­men yang berhasil masuk Universitas Indonesia melalui Bimbel PERHIMAK UI. Tidak hanya UI, banyak juga siswa asal Kabupaten Kebumen yang akhirnya berhasil masuk perguruan tinggi negeri favorit lainnya seperti UGM, UNDIP, ITB, IPB. Bahkan saat ini sudah banyak pemuda asal Kabupaten Kebumen yang berhasil mengenyam pendi­dikan di luar negeri seperti di Korea, Jepang, bahkan Amerika.

Hal ini jauh berbeda dengan 11 tahun silam. Siswa asal Kabu­paten Kebumen yang berkuliah di Universitas 
Indonesia tidak le­bih dari 5 orang. Peningkatan itu salah satunya tentu karena se­makin banyak masyarakat Kebu­men yang mengetahui bahwa me­ngenyam pendidikan di bangku kuliah ternyata terbuka untuk siapa saja dan hal ini tentu tidak lepas dari peran serta para pemuda asal Kebumen yang dibawahi oleh PERHIMAK UI.

“Cita-cita kami tidak berhenti sampai di sini. Mimpi kami adalah memajukan Kabupaten Kebumen melalui anak-anak asli Kebumen. Saat ini mungkin memang belum terlihat secara kasat mata, namun 5 sampai 10 tahun lagi mereka yang diberi rezeki mengenyam pendidikan di luar Kebumen pasti bisa membangun tanah kelahir­annya. Setelah itu mereka akan bersama dengan pemuda dari dae­rah lainnya baik di Jawa maupun di luar Jawa untuk bersama mem­bangun Indonesia. Itu impian ter­besar kami.” Tribuana menutup ka­limat terakhir dengan mata me­nerawang jauh ke depan.