Foto:
Mahasiswa UI Asal Kebumen
Minimnya
angka pelajar daerah yang bisa memasuki gerbang perguruan tinggi, menggerakkan
sekelompok pemuda dari Kebumen untuk memfasilitasi 'adik-adiknya' agar mereka
dapat menikmati bangku kuliah.
Mahasiswa UI asal Kebumen
Sejak dulu kiprah para pemuda pada sebuah bangsa memang tidak
bisa disepelekan. Meski banyak yang memandang sebelah mata karena pengalaman
mereka yang belum seberapa, namun nyatanya banyak generasi muda yang juga
mengukirkan prestasi.
Kiprah pemuda pada masa kini pun tak bisa dianggap sepele.
Mari tengok sejenak sebuah perhimpunan para pemuda dari Kabupaten Kebumen,
sebuah daerah kecil di Jawa Tengah. Daerah yang menurut data Badan Pusat
Statistik (BPS) adalah kabupaten nomor 3 dengan penduduk termiskin di Jawa Tengah
ini ternyata melahirkan sebuah gerakan pemuda yang cukup luar biasa.
Berawal dari sebuah kelompok belajar 6 orang pemuda sekitar 11
tahun lalu, akhirnya terlahir sebuah perhimpunan asal kabupaten Kebumen yang
diberi nama PERHIMAK (Perhimpunan Mahasiswa Kebumen). Enam orang pemuda tersebut
dibawa oleh seorang mahasiswa jurusan Teknik Mesin FT UI Ardiyansyah (saat ini
dosen di jurusan tersebut, Red.) asal Kebumen, dalam rangka persiapan ujian masuk
perguruan tinggi.
Keenam orang ini kemudian diterima di berbagai perguruan
tinggi favorit, salah satunya UI. Dua orang yang berhasil masuk ke UI tersebut
mendapatkan advokasi (keringanan) dari UI dan hal ini sungguh jauh dari
bayangan mereka tentang mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk kuliah.
Saat itu memang sebagian besar masyarakat di Kebumen berpikir
bahwa kuliah hanya untuk mereka yang memiliki uang lebih. Meski anak-anak
mereka banyak yang berprestasi di bidang akademik, namun orang tua berpikir
bahwa itu tidak cukup membawa mereka menuju bangku perguruan tinggi.
Terkuaknya fakta bahwa kuliah ternyata bisa dirasakan oleh
semua golongan, apalagi jika berprestasi dalam bidang akademik, kedua pemuda
ini mengumpulkan teman-teman Kebumen lainnya yang berada di UI untuk mengadakan
sharing informasi tentang perkuliahan di SMA Negeri 1 Kebumen, sekolah mereka
dahulu.
“Saat itu mahasiswa asal Kebumen masih sedikit sekali. Masih
susah mencarinya. SDM benar-benar terbatas,” ungkap Tribuana salah satu founder
PERHIMAK UI yang saat ini terpilih sebagai ketua alumni PERHIMAK UI.
Dengan sumber daya manusia yang sangat minim, saat itu para
pemuda tersebut memberikan informasi bahwa kuliah itu terbuka untuk siapa saja.
Namun bukan hanya itu saja yang mereka lakukan. Bermodal niat membantu
adik-adiknya sesama warga Kebumen, mereka mengajak adik-adik yang saat itu
sudah selesai ujian akhir untuk ikut ke Jakarta dan membimbing mereka
mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi negeri. Meski minim dana, namun itu
tidak menyurutkan langkah mereka. Di sela kesibukan perkuliahan dan organisasi,
mereka membantu adik-adik untuk persiapan ujian masuk.
“Awalnya ada sekitar 7 orang yang akhirnya ikut kami ke
Jakarta setelah kami mengadakan sharing di SMA kami dulu. Kami tampung mereka
di asrama atau di tempat kost teman, karena saat itu ada peserta yang juga
perempuan. Kami cari donasi dari sana sini untuk biaya mereka selama di sini
dan kami berikan bimbingan semampunya untuk mempersiapkan mereka mengikuti
ujian masuk. Ini yang kemudian menjadi cikal bakal program Bimbel PERHIMAK UI
nantinya,” Tribuana menjelaskan.
Tahun 2004, mereka mengadakan seminar untuk pertama kalinya
di SMA 1 Kebumen. Dari seminar tersebut bertambah yang ingin ikut ke Jakarta
untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi. Mengulang kegiatan tahun
sebelumnya, mereka berjibaku mendidik adik-adik untuk ujian masuk, mencarikan
tempat tinggal sementara, dan mencari donasi.
Akhirnya semakin bertambah pemuda asal Kabupaten Kebumen yang
berhasil kuliah di UI. Dengan bertambahnya mahasiswa UI asal Kebumen, maka
bertambah pula sumber daya manusia untuk mengadakan seminar.
Tahun 2005 akhirnya resmi berdiri Perhimpunan Mahasiswa
Kabupaten Kebumen Universitas Indonesia (PERHIMAK UI). Dan untuk pertama kalinya,
di tahun 2006, mereka membuat sebuah event sosial besar di sebuah gedung
pertemuan terbesar di Kabupaten Kebumen yaitu Universitas Indonesia Goes To
Kebumen (UI GTK) yang merupakan seminar, sharing informasi tentang perguruan
tinggi, sampai training motivasi.
“Dua event besar yang selalu dibuat oleh PERHIMAK UI adalah UI
GTK dan Bimbel PERHIMAK, selain tetap ada kegiatan lainnya untuk para mahasiswa
asal Kebumen seperti mencarikan beasiswa, perlombaan, buka bersama, dan
berbagai kegiatan khas mahasiswa lainnya,” jelas Tribuana.
Saat ini setiap tahunnya ada sekitar 50 sampai 60 orang siswa
asal Kabupaten Kebumen yang diterima masuk Universitas Indonesia dan hampir
setengahnya adalah siswa-siswa yang ikut dalam program sosial Bimbel PERHIMAK
UI.
Berdasarkan data yang dimiliki oleh PERHIMAK UI, sudah ada
sekitar 400 siswa asal Kebumen yang berhasil masuk Universitas Indonesia
melalui Bimbel PERHIMAK UI. Tidak hanya UI, banyak juga siswa asal Kabupaten
Kebumen yang akhirnya berhasil masuk perguruan tinggi negeri favorit lainnya
seperti UGM, UNDIP, ITB, IPB. Bahkan saat ini sudah banyak pemuda asal
Kabupaten Kebumen yang berhasil mengenyam pendidikan di luar negeri seperti di
Korea, Jepang, bahkan Amerika.
Hal ini jauh berbeda dengan 11 tahun silam. Siswa asal Kabupaten
Kebumen yang berkuliah di Universitas
Indonesia tidak lebih dari 5 orang.
Peningkatan itu salah satunya tentu karena semakin banyak masyarakat Kebumen
yang mengetahui bahwa mengenyam pendidikan di bangku kuliah ternyata terbuka
untuk siapa saja dan hal ini tentu tidak lepas dari peran serta para pemuda
asal Kebumen yang dibawahi oleh PERHIMAK UI.
“Cita-cita kami tidak berhenti sampai di sini. Mimpi kami
adalah memajukan Kabupaten Kebumen melalui anak-anak asli Kebumen. Saat ini
mungkin memang belum terlihat secara kasat mata, namun 5 sampai 10 tahun lagi
mereka yang diberi rezeki mengenyam pendidikan di luar Kebumen pasti bisa
membangun tanah kelahirannya. Setelah itu mereka akan bersama dengan pemuda
dari daerah lainnya baik di Jawa maupun di luar Jawa untuk bersama membangun
Indonesia. Itu impian terbesar kami.” Tribuana menutup kalimat terakhir
dengan mata menerawang jauh ke depan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar