Kamis, 03 Maret 2016

Tukang Kue Cubit

Interview Kaum Marginal

          Senin, 15 Februari 2016 penulis mendapat tugas pertama mata kuliah Etika Engineering atau Etika Terpuji. Tugas tersebut adalah mewawancarai para kaum marginal. Untuk memenuhi tugas tersebut, saya sempat memilih seorang preman di daerah Tanah Abang. Namun dikarenakan beberapa hal, maka saya tidak jadi memilih orang tersebut sebagai responden.
          Dalam keadaan bingung, saya menemani bunda saya ke Pasar Mayestik. Saat sedang menunggu disana, saya melihat seorang penjual kue cubit yang sudah cukup tua sedang berbicara dengan seseorang anak muda, dan pada akhir pertemuan itu anak muda menyalimi penjual tersebut. Segera saya memutuskan untuk menjadikan penjual kue cubit itu sebagai responden interview ini. Berikut adalah percakapan yang telah saya lakukan bersama penjual kue cubit tersebut.

Saya                      : "Pak!"
Penjual kue cubit   :" Yaa, boleh dek."
Saya                      : "Mau beli kue cubitnya dong."
Penjual kue cubit   : "Hayuk dibeli, mau beli berapa?"
Saya                      : "1 saja, harganya berapaan?"
Penjual kue cubit   : "Kue cubitnya 10 ribu untuk 1 porsinya."
Saya                      : "Yasudah saya beli. Tapi setengah matang ya, bisa ga pak?"
Penjual kue cubit  : "Oh bisa bisa. Ini pas sekali yang setengah matang sudah hampir jadi."
Saya                : "Wah, jangan yang itu pak, keliatannya sudah terlalu matang tuh."
Penjual kue cubit   : "Ah engga kok dek, tuh lihat."
Saya                      : "Ohiya yaa."
Saya                    : "Pak, saya sekalian numpang makan di gerobak bapak yah, saya butuh tempat untuk makan sekalian menunggu ibu yang sedang berbelanja."
Penjual kue cubit   : "Oh iya iya boleh, silahkan, ini ada tempat duduk dek."
Saya                      : "Oke pak."
"Waduh ini cuacanya dari pagi mendung terus yah. Disini udah ujan belom pak? Apa baru akan hujan?"
Penjual kue cubit   : "Disini mah baru selesai ujannya tadi, ini juga saya baru mulai jualan lagi tadi meneduh dulu."
Saya                 : "Owalah, memang bapak disini dari kapan? siang-siang atau dari pagi?"
Penjual kue cubit   : "Saya mah disini dari pagi dek."
Saya                : "Memang biasanya bapak jualan disini setiap hari atau berpindah-pindah?"
Penjual kue cubit   : "Oh, saya setiap harinya disini, memang sudah dari dulu."
Saya                      : "Sejak kapan bapak berjualan disini?"
Penjual kue cubit  : "Wah sudah lama sekali. Saya sudah berjualan di pasar ini sejak tahun 80."
Saya                    : "Wah, sudah lama sekali ya, sudah 36 tahun. Asal bapak dari mana?"
Penjual kue cubit   : "Saya mah orang Singapur dek."
Saya                      : "Hah? Yakin pak? Ini seriusan?"
Penjual kue cubit    : "Haha, Singaparna maksudnya dek."
Saya                   : "Owalah. Jadi bapak pertama datang ke Jakarta langsung berjualan kue cubit di pasar ini pak?"
Penjual kue cubit : "Tidak dek, saya dulu pernah jualan bakso juga di daerah Tanah Abang."
Saya                     : "Loh terus kenapa berganti menjadi kue cubit? Sekarang masih ada yang melanjutkan kah baksonya?"
Penjual kue cubit : "Yaa karena di Tanah Abang pada saat itu sudah terlalu banyak penjual baksonya. Sepanjang jalan terlalu penuh dan terlalu banyak saingan. Sehingga saya memutuskan untuk berhenti berjualan bakso, lalu mencari ide berjualan lainnya."
Saya                   : "Terus, bagaimana bapak memutuskan untuk berjualan kue cubit pak? Bagaimana juga bapak memutuskan untuk berjualan di Pasar Mayestik ini?"
Penjual kue cubit  : "Jadi gini dek, tahun 1972 itu saya pertama kali datang ke Jakarta dengan modal nekat aja. Dari kampung ke sini naik bis 1 hari 1 malam dari Singaparna ke Jakarta."
"Sesampainya di Jakarta, saya bingung dek. Kenapa? Karena saya sama sekali tidak punya saudara atau kenalan. Jadi saya tidak tahu mau tinggal dimana,  mau ngapain dan sama siapa. Saya sempat tidur di teras-teras seperti ini. Sampai dengan beberapa hari  baru saya mendapatkan kontrakan yang saya tinggali  sampai saat ini.
Setelah mencari kontrakan yang bisa ditunggak bayarannya, saya cari modal untuk jualan bakso, karena saya pikir semua orang menyukai bakso. Namun ternyata saya kurang bisa berjualan bakso karena alasan tadi."
"Setelah memutuskan berhenti berjualan bakso, saya jalan-jalan ke pasar dekat kontrakan. Saat di pasar saya melihat cetakan kue cubit yang sebelumnya saya tidak tahu apa itu, lalu saya bertanya kepada penjualnya. Penjual tersebut lalu menjelaskan apa sebenarnya barang itu serta bagaimana cara membuat kue cubit, memang penjualnya sangat baik membagi ilmunya yang saya bisa terapkan sampai sekarang. Nah mulai saat itu yaitu tahun 80, saya mulai berjualan kue cubit."
"Saya sih berjualan di pasar ini karena Pasar Mayestik ini cukup ramai namun lebih dekat dari kontrakan saya di daerah Rumbai dibandingkan dengan Pasar Tanah Abang."
Saya                   : "Oh begitu ceritanya. Terus kira-kira bapak akan ganti-ganti jualan lagi ga nih? Apa bapak sudah merasa cukup dengan jualan kue cubit ini?"
Penjual kue cubit  : "Alhamdulillah sepertinya sudah cukup, sekarang saya sudah punya anak buah juga yang berjualan, 1 di pasar minggu 1 di bekasi, 1 lagi di tebet. Namun saya tidak akan berpuas diri, mungkin saya akan cari anak buah lagi untuk bantu-bantu saya sekalian saya mengerjakan orang-orang sekitar kontrakan saya."
Saya                : "Wah ternyata bapak ini hebat juga yah, sudah jadi juragan sepertinya haha. Apa bapak tidak berminat berjualan di kafe atau rumah makan tertentu?"
Penjual kue cubit : "Dulu pernah berjualan di kafe, 1 hari dibayar tujuh ratus ribu rupiah per hari, namun disamping untungnya lebih kecil, yang beli juga sedikit. Jadi jualannya kurang puas gitu loh dek hahaha. Yaa jadinya saya kembali berjualan di pasar-pasar dan tempat ramai di jalan saja."
Saya                  : "Wah kalau begitu penghasilan bapak ini besar juga yah Alhamdulillah. Yang tadi itu siapa pak? Anak bapak?"
Penjual kue cubit : "Yaa Alhamdulillah lah hehe. Iya dek itu anak saya, lagi main-main di Jakarta, dari kampung"
Saya                      : "Sudah besar ya. Punya berapa anak pak?"
Penjual kue cubit : "Saya sudah punya 5 anak laki-laki dan 2 anak perempuan, serta 9 orang cucu. Alhamdulillah dengan berjualan seperti ini saya berhasil menyekolahkan sampai dengan lulus SMA semua, kecuali yang terakhir masih kelas 2 SMA. 2 yang paling besar ada di Jakarta namun tidak tinggal bersama saya karena sudah berkeluarga dan punya profesi masing-masing."
Saya                    : "Banyak sekali, tapi istrinya tetap cuma 1 kan pak? hahaha. Seberapa sering bapak pulang kampung bertemu keluarga? Bapak tidak tinggal bersama keluarga kan?"
Penjual kue cubit   : "Tidak, saya tinggal sendirian di Jakarta, pulangnya yaa tergantung, tergantung kapan punya uang untuk pulang kampungnya."
Saya                      : "Selama bapak berjualan, ada dukanya ga pak?"
Penjual kue cubit    : "Alhamdulillah selama saya berjualan selalu senang terus. Apalagi di pasar yang sudah rapi seperti saat-saat ini, sudah tidak ada yang macam-macam lagi seperti jaman dulu. Kalau sekarang mah enak, tinggal bayar uang sewa ke kepala pasar aja sudah pasti aman dari preman ataupun dari razia. Tidak seperti jaman dulu yang harus bayar ke preman pasar, bahakan bayarannya bisa lebih dari satu kali, belom lagi yang harus menghindar dari razia yang dilakukan sama aparat. Kalau ada razia seperti itu, yasudah kita para penjual dapat kabar burung lalu menyebarkannya dan meliburkan diri saja."
Saya                   : "Oh seperti itu ya, Alhamdulillah kalau begitu. Ohiya pak, maaf nih pak, ibu saya sudah menghubungi saya untuk menemui dia karena dia sudah selesai berbelanja. Terimakasih nih pa katas obrolan serunya dan kue cubit enaknya. Ohiya, belom “afdol” nih pak kalau kita belum kenalan. Saya Fikar, 20 tahun. Bapak?"
Penjual kue cubit  : "Wah okedeh dek kalau begitu, sayang sekali yah cuma mengobrol sedikit saja. Saya Asep, 58 tahun."
Saya                 : "Hampir lupa pak, bolehkah saya berfoto dengan bapak, sekalian untuk tugas yang diberikan di kampus nih."
Penjual kue cubit   : "Oh boleh kok boleh boleh."
Saya                 : "Okedeh pak, terimakasih. Semoga jualannya selalu sukses dan semakin sukses terus jadi juragan kue cubit."

          Pelajaran yang saya dapat dari interview ini cukup banyak, dan pelajaran yang saya dapatkan tidaklah textbook atau hafalan, melainkan berdasarkan pengalaman yang lebih menarik.
1.     Dengan niat dan kesungguhan hati serta kesabaran adalah kunci kesuksesan.
2.    Menjadi orang tidak boleh mudah puas diri, sehingga bisa terus berkembang.
3.    Pendapatan besar mudah dicari, hal tersebut tidak membedakan kita dengan orang-orang yang terlihat “marginal”. Sebagai engineer kita harus melakukan sesuatu untuk membantu kehidupan orang banyak bahkan negara Indonesia.