Selasa, 15 Desember 2015

Anak Kecil Perlu Pembiasaan



Picture: Ryan (kiri pembaca), Ari (kanan).Sumber: Doc. Pribadi
Masa kanak-kanak adalah masa bermain. Ya, mereka hanya bermain. Tidak ada kewajiban yang harus dikerjakan atau amanah yang harus diemban. Keceriaan selalu mengiringi hari-hari mereka, tak kenal apa itu sedih, pun ketika mereka terluka dan tersakiti mereka akan menangis sebentar saja, setelah itu mereka ceria dan tertawa sepuasnya.

Wajahnya yang entah kenapa, mampu membuat semua orang sayang kepadanya. Serasa ingin menggendongnya, mencium pipinya yang lucu, mengajaknya berbicara meski belum bisa berbicara, serta mengajaknya tersenyum dan tertawa, itulah respon setiap orang yang menjumpainya. Remaja putri yang tomboy sekalipun mendadak berubah menjadi ke-ibuan tatkala melihat wajah si mungil yang menggemaskan itu. Bagaimana mungkin, sosok manusia yang paling lemah, akan tetapi mereka mendapat rizki yang terbaik di alam semesta ini berupa ASI, serta kedatangannya disambut hangat oleh seluruh alam? Jawabanya adalah: karena sifat Tuhan Ar-rahman, Yang Maha Mengasihi.

Allah SWT sendiri belum mewajibkan anak-anak untuk beribadah, melainkan kelak ketika mereka sudah mulai menginjak remaja, akil baligh, dan mumayis atau bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk. Meski demikian, masa anak-anak adalah masa-masa dimana seseorang paling cepat belajar sesuatu. Dari tidak tahu bahasa, hingga fasih berbicara, dari hanya merangkak hingga bisa berjalan dan berlari, dari hanya menangis hingga bisa berexpresi. Ya, masa kanak-kanak adalah masa dimana manusia belajar begitu banyak hal dalam waktu yang sangat singkat. Oleh karenanya sangat disayangkan apabila masa tersebut berlalu tanpa diisi dengan nilai-nilai luhur, baik dalam hal Ibadah maupun pembiasaan Adab. Salah satunya yaitu pengenalan ibadah berupa pembiasaan shalat.

Banyak diantara ibu-ibu, termasuk ibu saya sendiri yang enggan membangunkan putra-putrinya tatkala datang waktu shalat subuh atau ketika bangun shalat malam, karena tak tega mengganggu waktu tidur anaknya yang masih balita (seperti kita tahu bahwa anak-anak memiliki waktu tidur yang lebih lama dibanding orang dewasa). Membangunkan anak-anak diwaktu bangun malam, dan shalat subuh, membasuh wajah dengan air suci, dan membacakan mereka Al-Quran, secara tidak langsung akan membentuk karakter dan menanamkan kepada alam bawah sadar mereka akan pentingnya ibadah. Adalah suatu kewajiban bagi orang tua untuk ngenalkan mereka akan kewajiban yang utama sebagai hamba Allah yang akan diemban seumur hidup mereka dimulai sejak masa remaja. Mengajaknya shalat jamaah dimasjid, mengajaknya shalat jumat, dan shalat hari raya, juga merupakan suatu langkah awal memperkenalan mereka pentingnya shalat jamaah, pengenalan ukhwah, serta pembiasaan berkumpul dengan orang-orang shalih, tentunya ketika anak-anak sudah mulai bisa berjalan sehingga tidak terlalu merepotkan.

Fenomena para remaja yang susah bangun subuh apalagi shalat malam padahal kedua orang tuanya ahli ibadah,bisa jadi disebabkan karena tidak adanya pengenalan serta pembiasaan ibadah sejak kecil. Bahkan hingga dewasa, banyak di antara mereka yang masih kesulitan untuk bangun shalat subuh. Maka, sindiran Allah pun datang untuk mereka,”Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat subuh dan ashar.

 Banyak halangan yang mungkin akan terjadi ketika mengajak seorang manusia yang masih rewel-susah diatur-atau belum bisa diajak berlogika karena dunianya adalah dunia imajinasi, untuk mengenal dan membiasakan serta disiplin Ibadah. Maka banyak orang tua yang tidak bisa sabar sehingga lebih memilih untuk membiarkan mereka bermain saja atau pulas tertidur tatkala datang waktu shalat. Akan tetapi, mana yang lebih berat dibanding mengajak anak yang mulai remaja yang sudah bisa berkata “Tidak” dan bisa membangkang karena nafsu dan egonya sudah mulai tumbuh? Maka memperkenalkan Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada manusia yang paling membutuhkan kasih dan sayang dengan cara memperkenalkan dan membiasakan Ibadah sejak dini sejatinya adalah suatu kemuliaan di atas kemuliaan. Wallahu’alam bisshawab.                                                          


Selasa, 03 November 2015

Adab Membaca Alquran


Pict: Masjid Al-Hikam, Kutek, Depok UI
Source: Doc. Pribadi
Alquran itu afdzholudzikri, dzikir yang paling utama. Sehingga Allah subhanahu wata'ala melalui hadits Nabi SAW menjadikan manusia yang belajar dan mengajarkan Alquran sebagai manusia terbaik. Agar kegiatan belajar Alquran ini menjadi semakin berkah, kita perlu memperhatikan beberapa adab dalam membaca Alquran. Berikut diantaranya:

Pertama, dianjurkan untuk selalu suci dari hadats dan membersihkan gigi sebelum membaca Alquran. Memakai pakaian yang sopan. Beliau bersabda, “Aku tidak menyukai menyebut nama Allah, kecuali dalam keadaan suci.” (HR. Ahmad dan Abu Daud) dan dishahihkan oleh Al-albani. Dan nabi SAW sangat menekankan agar kita menjaga kebersihan gigi, karena itu mengundang ridha Allah. Beliau SAW bersabda, “Siwak itu membersihkan mulut dan mengundang ridha Allah.” (HR. Ahmad, Bukhari secara Muallaq dan yang lainnya).

Kedua, dianjurkan untuk menghadap kiblat. Dari Ibnu ‘Umar R. A. Beliau SAW bersabda, “Majlis (posisi duduk) yang paling mulia adalah majlis yang menghadap kiblat.” (HR. Tabrani) dalam Al-ausat dan dishahihkan oleh Al-albani.

Ketiga, membaca ta’awudz ketika memulai membaca Alquran. Allah ta’ala berfirman: “Apabila kamu membaca Alquran, hendaklah meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98). Kita juga dianjurkan membaca basmalah apabila membaca Alquran dari awal surat, kecuali surat At-Taubah. “Sahabat Anas bin Malik Radhiallahu’anhu menceritakan, Suatu ketika Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam terbangun dari tidur sambil tersenyum. Dan kamipun bertanya, ‘Ya Rasulullah, apa yang membuat Anda tersenyum?’ Beliau bersabda, ‘Baru saja turun kepadaku satu surat.’ Kemudian beliau membaca: ‘Bismillahirahmanirrahim, Inna a'toina kalkautsar, Fasollilirobbika wanhar, Innasyaniaka huwal abtar.’ “(HR. Ahmad, Muslim, dan yang lainnya).

Keempat, hendaknya konsentrasi dan berusaha merenungi setiap apa yang dibaca, karena Allah mencela orang-orang munafik, yang setiap hari mengdengar Alquran namun mereka sama sekali tidak mampu mengambil pelajaran darinya. Allah berfirman, “Mengapa mereka tidak merenungkan kandungan makna Alquran. Apakah ada kunci di hati mereka?” (QS. Muhammad: 24) Dan inilah tujuan utama Allah menurunkan Alquran, agar kitabnya direnungi, dan diamalkan. Allah berfirman, ”Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29).

Kelima, berusaha khusyu’. Memusatkan hati hingga terbawa sesuai apa yang kita baca. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, ialah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka.” (QS. Al-Anfal: 2). Diantara sifat orang shalih, mereka tertunduk khusyu’ dan menangis ketika mendengar Alquran dibacakan. Allah ta’ala berfirman, ”Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu sebelumnya, apabila Alquran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: ‘Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra: 107-109).

Keenam, berusaha membaca dengan benar, jelas dan suara bagus. Allah berfirman, “Bacalah Alquran dengan tartil.” (QS. Al-Muzammil: 4). Yang dimaksud membaca dengan tartil adalah membacanya dengan pelan, jelas setiap hurufnya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam juga menganjurkan kita untuk membaguskan suara ketika membaca Quran. Beliau bersabda, “Hiasilah Alquran dengan suara kalian.” (HR. Ahmad, Nasai dan yang lainnya).

Ketujuh, boleh membaca Alquran sambil berdiri, di atas kendaraan atau berbaring. Allah berfirman menceritakan karakter Ulil Albab, orang yang cerdas. “Yaitu mereka yang selalu mengingat Allah ketika berdiri, duduk, dan ketika berbaring. Mereka merenungkan ciptaan langit dan bumi.” (QS. Ali-Imran: 191). Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam pernah membaca surat Al-Fath diatas kendaraannya ketika menaklukan kota mekah. “Aisyah menceritanak bahwa Nabi Shallallahualaihi wa sallam pernah berbaring dengan meletakan kepala di pangkuan Aisyah yang sedang haid, kemudian beliau membaca Alquran.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kedelapan, Tidak membaca terlalu keras sehingga mengganggu orang yang sedang sholat, atau yang sedang tidur. Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam pernah menemui para sahabat, ketika mereka sedang shalat malam, dan mereka saling mengeraskan bacaannya, lalu Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang shalat itu bermunajat dengan Tuhan-Nya, maka perhatikanlah apa yang dia gunakan untuk bermunajat dan jangan saling berlomba mengeraskan bacaan.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha). Dan dishahihkan Ibnu Abdil-Bar. Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam memisalkan orang yang membaca Alquran dengan terang-terangan seperti orang yang menampakkan shedekahnya kepada orang lain. “Orang yang yang mengeraskan bacaan Alquran itu sebagaimana orang yang menampakkan sedekah. Orang yang pelan dalam membaca Alquran sebagaimana orang yang bersedekah rahasia.” (HR. Ahmad, Nasai) dan dishahihkan oleh Al-albani. Dan secara umum, sedekah dengan sembunyi-sembunyi lebih besar pahalanya, kecuali ada sebab tertentu yang menganjurkan dia untuk mengeraskan bacaannya.

Kesembilan, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam telah melarang menghatamkan Alquran kurang dari tiga hari, karena ini terlalu cepat sehingga tidak bias merenungi maknanya. Rasulullah bersabda, “Orang yang membaca Alquran kurang dari tiga hari, maka tidak akan dapat memahaminya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud) dan dishahihkan oleh Al-Albani. “Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam pernah memerintahkan Abdullah bin Umad Radhiallahu’anhuma agar menghatamkan Alquran setiap tujuh hari sekali.” (Mutafaqun’Alaih).

Kesepuluh, melakukan sujud tilawah ketika melewati ayat sajdah. Aisyah menceritakan, ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam melakukan sujud tilawah di malam hari, beliau membaca kalimat berikut berulang kali. “Aku bersujud kepada tuhan yang telah menciptakanku, yang memberi penglihatan dan pendengaranku, dengan daya dan upaya-Nya.” (HR. Nasai dan Abu Dawud). Dan dishahihkan oleh Al-albani.

Semoga Kita Tidak Lalai Dalam Mengamalkannya

*diadaptasi dari chanel youtube, yufid.tv


Minggu, 28 Juni 2015

Manusia Bercita-cita Mulia

Pict. M. Andre Widianto, Source: Doc. Pribadi
Manusia era ini menjadi korban dari ketidakberadaan tujuan dan cita-cita yang jelas. Terkadang ia tidur dalam kehendaknya sehingga membusuk, terkadang atas nama kehendaknya pula ia justru anarkis dan menafikan segala sesuatu. Saat diam dan tak bergerak maka tanpa sadar dirinya akan keropos dan lambat laun rapuh. Sebaliknya saat bergerak ia menghancurkan berbagai nilai penting seperti nilai agama, spiritual, akhlak, dan keadilan. Ya, saat orang seperti ini menyendiri maupun berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, ia akan tetap bermasalah.

Mahluk yang selalu mengedepankan kepentingan jasmaninya saja maka perutnya aktif, otaknya pasif, perasaannya selalu bergejolak dan lengah dari keberadaan kalbunya. Selain bergunjing, dalam kesehariannya mereka tidak memiliki sama sekali rencana, sikap, pemikiran serta kesungguhan yang dapat menghadirkan ketenangan bagi jiwa lainnya, serta mengantarkan jiwa-jiwa tersebut pada masa depan.  Saat sedang lemah, ia akan menghadapi segala sesuatu dengan diam. Ketika menjadi kuatpun maka ia akan berusaha mengekspresikan dirinya dengan cara-cara yang merusak. Terkadang hanyut dan terseret kesana-kemari seperti daun-daun kering yang terombang-ambing dalam pusaran angin.    Kadang pula diinjak oleh lalu-lalang manusia seperti sampah.

Sekian lama atmosfer yang suram ini seolah menjadi tabiat manusia saat ini. Ya, manusia seperti ini ketika merelakan dirinya terperangkap dalam lentera kaca, membiarkan perasaan, pemikiran dan cita-citanya menyempit maka ia hanya menenangkan dirinya dengan keminderan atau justru kegilaan. Dalam kondisi seperti ini ia akan selalu memerangi karakter kebangsaannya. Sayangnya sekarangpun perang ini masih berlangsung dengan begitu cepatnya dalam dimensi yang berbeda. Coba kita bayangkan, dunia dengan pertimbangan era baru lari mengejar proyek demi proyek, sementara kita masih mengejang dalam lingkaran kesia-siaan. Pemikiran kita berantakan, perasaan kita rendah, sikap dan tindak-tanduk kita tidak konsisten, kalbu kita telah jauh dari kasih sayang, kerumunan manusia seolah menjadi mainan yang pasang dan surut dalam jaring tak bermakna. Setiap hari masyarakat menycari mihrabnya sedangkan para pembimbing berada dalam kelalaian. Jika kita tengok, lembaga manapun kita akan menyaksikan kekacauan ini sehingga mampu membuat kita merinding. Ya...  kita tidak dapat lagi menyaksikan kehidupan pemikiran, akhlak, budaya, seni, politik, ekonomi dan hukum tanpa merasakan kepedihan di dalam hati kita. Perselisihan, pertengkaran, keadaan dimana kekuatan menguasai kebenaran dan kebiasaan meniru tanpa adanya kesadaran seolah telah menjadi takdir bagi dunia kita.

Jika elang saja kalah dalam perjuangan ini maka apa yang bisa kita harapkan dari burung-burung pipit. Untuk memperbaiki bahtera yang bocor dan terguncang dalam tendangan ombak dibutuhkan para kesatria pemberani yang selalu memelihara keyakinan, keteguhan dan harapannya; memiliki cita-cita tinggi, mampu menghirup nafas panjang; hidup untuk menghidupkan orang lain dan dapat berkorban untuk meraih inayat jasmani dan rohani guna mempersiapkan perahu bangsa menuju perjalanan yang masih panjang ini. Dibutuhkan kesatria yang kehendaknya laksana baja untuk menghancurkan, atau setidaknya mengurangi tekanan-tekanan yang tampil dengan penampakan berbeda-beda dan desakan yang tingginya bagai ombak yang telah dijatuhkan ke atas dunia sejak beberapa abad ini.

Berkat adanya cita-cita yang tinggi, yang menggantung keselamatan dirinya untuk menyelamatkan orang lain, demi kebahagiaan orang lain, masa depan dan harapannya sendiri akan ditaburkan seperti tanah dibawah kaki. Ia akan masuk kedalam pembuluh darah setiap insan seperti udara; beredar di setiap tubuh selayaknya aliran darah; mengalir bagai air pada setiap kegersangan dan dahaga sambil menghembuskan nafas kehidupan dimana-mana. Kemudian setiap geraknya terikat pada sebuah pertanggungjawaban yang berada di kedalaman jiwanya; yang berusaha memenangkan kembali bagi diri kita, ruh, jiwa dan makna yang telah hilang dengan sebuah iradat penuh belas kasih dan penuh tanggung jawab serta sebentuk kasih sayang yang begitu dalamnya sehingga mampu memeluk seluruh umat manusia. Ia akan berusaha dan kali terakhirnya mengingatkan pada kita kandungan kemanusiaan kita, maka saya yakin dengan kesemuanya ini wajah kemanusiaan akan tersenyum kembali dan derita para penderita akan reda. Mungkin juga dunia akan didudukkan pada porosnya kembali... tentu saja hal ini, akan menjadi teladan pula bagi jiwa-jiwa yang hidup tanpa cita-cita mulia setelah sekian lama.

Justru dalam nasib dan takdirnya, umat manusia berada dalam suatu program yang tidak memungkinkannya untuk tinggal ataupun hidup secara terpisah. Walaupun kita mencoba untuk menutup mata dan menyumbat telinga namun peristiwa-peristiwa telah memasukkan ke dalam otak kita pada banyak titik kebersamaan dengan berbagai jalan sembari menarik kita ke dalam sebuah atmosfer kepedihan dan kelezatan dari kebersamaan tersebut diatas, perasaan-perasaan individual yang kemudian akan membuat hati nurani kita ingat pada sisi sosial kita. Bahkan setiap gerak-gerik kita baik secara langsung maupun tidak, akan berhubung dengan lainnya, begitupula sebuah peristiwa yang terjadi di ujung dunia sekalipun akan tetap berhubungan dengan kita. Secara singkat, semua ini bersumber dari takdir manusia yang diciptakan untuk hidup bersama dengan manusia lainnya dan memiliki perasaan berbagi. Sebenarnya, jika manusia mampu menyadari adanya sebuah program di dalam fitrah kita yang memaksa untuk hidup dalam kebersamaan sambil berdampingan dengan adanya hukum takdir tersebut, maka manusia akan mampu bergerak lebih cepat. Selain itu, apabila manusia dengan niat dan iradatnya menghanyutkan diri ke dalam arus yang alami ini, sambil meraih sebuah kedalaman yang bersifat naluriah, masuk akal dan iradiah, di satu sisi kita akan mengetengahkan kekhasan sifat kemanusiaannya maka di sisi lain akan memperoleh pahala pula dari usahanya saat memohon dan meminta kepada-Nya serta akan menjadikan iradahnya itu sebagai kunci yang membuka cita-cita mulia demi keabadian dirinya kelak.

Untuk itulah semua yang memikirkan ‘keabadian’, harus bercita-cita menyelamatkan sembari memeluk sesamanya sehingga dalam perjalanan keabadiannya itu dapat direngkuh pula oleh semua yang telah diselamatkan dan dipeluknya. Sebaliknya, jiwa-jiwa egois, ambisius, takberbelas kasih yang membangun keselamatan dirinya hanya atas kehancuran orang lain, tidak pernah akan benar-benar dicintai, dan akan selau dihina oleh semua kalangan. Tentunya kebaikan bagi seseorang pertama-tama akan memberikan kebaikan bagi dirinya sendiri terlebih dahulu. Demikian pula dari sebuah keburukan seseorang akan pula pertamakali berdampak negatif bagi dirinya sendiri. Seseorang yang memiliki potensi menjadi baik dalam tabiatnya, mampu mengungkapkan dirinya dengan bahasa kalbu sambil menampilkan karakter dan sifatnya, maka ia akan selalu bertahta bahkan di hati yang paling keras seperti granit sekalipun dan akan selalu menjadi buah bibir di lisan semua orang.

Siapa saja yang bertindak atas nama rasa egois, ambisi, dendam, takberbelas kasih dan demi keberadaannya sendiri selalu mengincar tempat-tempat yang hancur seperti kelelawar, akan selalu terjepit di dalam dunia sempit, dan individualnya itu sendiri dan tidak akan pernah mampu peka untuk merasakan luasnya dunia kebersamaan, bahkan mereka tidak mendapatkan ketentraman di dalam dunianya yang sempit tersebut. Manusia-manusia seperti ini yang selalu kalah dalam urusan kalbu, dan nuraninya, diatas segalanya akan menggersangkan nilai-nilai yang menjdaikannya manusia dalam dirinya sendiri bahkan mematikan kalbunya.

Ya, orang-orang yang hanya memikirkan dirinya dan hidup tertutup dari orang di sekitarnya adalah masing-masing contoh dari sebuah kelesuan atau kemalasan dan bagaikan sebuah jenazah hidup yang berada di antara ambang hidup-mati hingga mereka tidak mampu merasakan, baik hangatnya kehidupan maupun dahaganya menghidupkan.

Kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan yang direncanakan untuk memikirkan manusia pada hari ini dan esok serta dicita-citakan dengan tujuan untuk hidup bagi mereka. Nah, suatu kesadaran, pemahaman dan perasaan seperti ini yang berkuasa pada setiap tahapan kehidupan dari awal hingga akhirnya ini adalah potret dan bingkai yang paling tepat dari karakter untuk menjadi manusia yang hakiki. Sebuah potret yang begitu hebatnya sehingga siapapun yang melihatnya dengan menggunakan mata hati akan dapat dengan mudahnya melihat bahwa di balik gambar tersebut tersimpan sebuah hubungan yang dalam dan hangat antara ia dan seluruh entitas yang ada. Pada lukisan ini, manusia akan selalu bisa melihat baik dirinya sendiri maupun orang lain dengan mata hati nya, dan juga mampu mengevaluasi dengan penuh kesyukuran atas apa yang dilihatnya tadi. Begitulah manusia, berkat sudut pandang yang sama akan mendapatkan kesempatan untuk juga mampu melihat dan mengenal lingkungannya pula dan ia akan mendapati semua orang dan segala sesuatu sebagai hal yang lebih lembut, lebih santun dan hangat.

Namun tentu saja kedalaman seperti ini tidak akan bisa diperoleh dalam sekejap. Ia adalah sebuah penampakan kasih sayang yang timbul setelah masa peragian yang cukup lama di kedalaman hati nurani kita dan sebuah seruan manusiawi dari bahasa kalbu. Seruan ini, akan mengalir dari nurani manusia berbahasa kalbu mewarnai ke segala penjuru dan bersamaan dengan berjalannya waktu, lambat laun semua akan diajak berbicara dengan lisan yang sama. Karena ia bangkit dari dalam hatinya maka ia tidak akan pernah terpengaruh dari hal-hal buruk di luar.

Seruan yang berasaskan iman dan memiliki kedalaman ikhsan ini disambut dengan terbuka baik di langit maupun di bumi, suatu hari nanti semua jiwa pastilah akan mengarah kepadanya dengan rasa hormat, pintu-pintu langit akan terkuak dan akan mencurahkan sanjungan dan apresiasi terhadapnya. Yakni pada saat itulah semua kalbu akan berdebar dengan cinta, akan berfikir dengan cinta, akan berbicara dengan cinta, berperilaku dengan cinta, dan akan merangkul seluruh mahluk dengan cinta pula...  dan saya rasa pada hari dimana seluruh permukaan bumi berubah menjadi kilau cermin cinta dangan kadar ini, kitapun akan mencintai kehidupan lebih dalam sehingga membuat orang lain mencintainya pula dan saat menunjukan jalan keabadian kepada orang lain, sambil menjauhkan diri dari seluruh hal-hal buruk yang ada pada nafsu, kita akan mencapai sudut pandang berbeda dengan cakrawala pengamatan hati nurani baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain.

Pencapaian ini tidak hanya akan terpuaskan dengan pemikiran kebaikan dan keindahan yang bisa kita lakukan saja namun akan pula berusaha menjangkau kebaikan dan keindahan yang seolah kita tak sanggup meraihnya pula, dan dalam hal ini kita akan senantiasa duduk-berdiri bersama dengan mimpi puncak yang begitu tinggi. Saat sesuatu yang tidak mungkin tersebut pada akhirnya bisa tercapai maka ia akan menggemuruhkan ‘suara-suara kesyukuran’. Saat dihadapkan pada cita-cita mulia yang melampaui batas kesanggupan sambil mengepakkan sayap iman, tarikan nafas kita akan selalu memberikan harapan ssehingga kita akan berada pada kondisi menunggu secara aktif.

Tingkat ruhani seperti ini, yang selalu memaksakan kemampuannya hingga batas tertinggi dengan semangat kebaikan, haruslah menjadi aspek terdalam dari manusia dan terulas dalam aspek terpentingnya. Ia akan meraih nilai-nilai di atas nilai, baik di hadapan Allah Subhanahu waTa’ala maupun di hadapan masyarakat dengan menggunakan aspek dan sisi ini, agar tingkatan anugerah ‘Ahsan-I Takwim’ dapat diraih dengan kedalamannya ini. Pada takaran ini, sebuah hubungan yang dirasakan terhadap semua orang seperti ini merupakan hasil dari hubungan baiknya dengan Allah Subhanahu waTa’ala. Sebuah cita-cita luhur pada tingkat individual; pemikiran yang disuarakan oleh perkataan “gugurkan aku sebagai syuhada, muliakanlah bangsa dan negaraku” adalah sebuah cita-cita nasional yang tinggi. Kepahlawanan yang diungkapkan dengan pernyataan “Jika aku melihat terselamatkannya iman bangsaku maka aku rela terbakar dalam api neraka” adalah sebuah cita-cita mulia yang melampaui banyak hal. Sedangkan cinta dan kasih sayang universal tertinggi milik Rasulullah SAW tercinta yang terungkap dengan kata-kata “Ya Allah ampunilah umatku, karena mereka tidak mengerti” yang diucapkan oleh Beliau pada orang-orang yang mencoba merenggut nyawanya adalah sebuah cita-cita luhur yang berporoskan pada tanggung jawab mulia dan mencakup kedalaman belas kasih sayang.

Menurut saya, dewasa ini masyarakat kita bukannya membutuhkan ini atau itu seperti yang diributkan saat ini, namun kita membutuhkan para pahlawan bercita-cita mulia pada takaran ini. Para pahlawan yang tentu saja pertama-tama akan mengulurkan tangannya dengan penuh cinta pada bangsanya sendiri lalu kemudian pada seluruh umat manusia dan mereka yang setiap tangannya terangkat untuk bermunajat pada Rabbnya ia akan memohonkan bagi kebaikan orang lain, maka mulailah dengan menyuarakannya dalam  diri kita saendiri dahulu karena jika tidak siapa lagi yang akan memulainya.     

*sebuah artikel dari majalah fountain versi indonesia, mata air.



Selasa, 16 Juni 2015

Nafsu Tidak Pernah Bisa Dipercaya

Source: Doc. Pribadi
Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa musuh utama manusia bukanlah manusia lainnya, melainkan nafsunya sendiri, dan beliau menasihati umatnya untuk senantiasa mewaspadai tipu daya dan perangkap yang dipasang nafsu bagi dirinya. Ketika Alquran membahas tentang topik ini, ia menjelaskan bahwa nafsu selalu mengajak manusia kepada keburukan, sedangkan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dari tipu daya dan jebakannya adalah pada Rahmat dan kasih sayang Allah Subhanahu WaTa’ala. 

Nafsu berada dalam posisi sebagai agen syaitan di dalam diri manusia, yang menjadi laboratorium tempat mencampur berbagai keburukan. Dalam keadaan seperti ini, apapun kebaikan yang akan dilakukan manusia, nafsu akan merasa terganggu dan tak akan pernah senang dengannya. Apapun hubungan baik yang coba dibangun manusia dengan Tuhannya untuk mempersiapkan kehidupan abadinya kelak, nafsu akan selalu memberikan reaksi yang berlawanan dengannya. Sebaliknya, nafsu akan bangkit seleranya jika ada sesuatu yang dapat menyebabkan sang manusia jatuh derajatnya atau jika ada keburukan yang dapat menghancurkan kehidupan abadi sang manusia. Pada saat-saat seperti itu nafsu akan bangkit dan memunculkan rasa penasaran di dalam diri manusia. Mengenai hal tersebut, Rasulullah SAW dalam sabdanya memberikan penjelasan; “Neraka dikelilingi oleh hal-hal menarik yang disukai nafsu, sedangkan surga dikelilingi oleh hal-hal yang dibenci nafsu.”

Sebagaimana syaitan, maka nafsu lewat was-was yang dihembuskannya kepada manusia akan sangat canggih memasang intrik dan perangkapnya, pada setiap jalan, dalam setiap tikungan, tanjakan dan turunan, ia akan senantiasa siap dengan jebakan barunya. Misalnya ketika manusia ingin berbuat kebaikan, nafsu akan menghembuskan keengganan atau rasa malas di dalam diri manusia. Manusia itu pun seketika akan merasakan hilangnya gairah, untuk melakukan niatnya tadi. Bahkan keinginan untuk beranjak dari tempat duduknya pun takan muncul dalam dirinya. Tiba-tiba semangat berbuat kebaikan jadi hilang. Demikianlah nafsu, dengan bantuan syaitan menampilkan taktik pertamanya. Tetapi jika manusia berhasil meraih inayah Ilahi sehingga berhasil menghalahkan halangan pertama tadi, serta pintu kebaikan mulai sedikit terkuak, maka kali ini nafsu akan mengubah strateginya dan kembali menyiapkan perangkap lebih canggih. Misalnya, ia akan mengotori kebaikan yang dilakukan manusia dengan rasa pamrih, keinginan untuk dilihat atau pamer, serta kepentingan agar dipuji oleh orang sekitarnya.

Contoh lainnya adalah ketika seseorang hendak memulai sholatnya. Untuk menghadapkan dirinya kepada Allah, ia memulai perjuangan awalnya melawan nafsu.  Nafsu ingin menghalangi manusia dari wudhu dan shalat dengan memompa perasaan bahwa pekerjaannya masih banyak dan harus dikerjakan tanpa jeda, lewat perasaan lelah dan malas. Seseorang jika berhasil menunaikan hak shalatnya lewat perjuangan pertamanya dengan bantuan temannya yang saleh, atau usaha sendiri yang dibarengi inayah Rabb-nya, maka dalam shalatnya kali ini ia mulai membayangkan derajat apa yang telah dicapainya. Lingkungan sekitarnya akan memompa perasaan diperhatikan sebagai orang saleh, lalu perasaan betapa indahnya dikenal sebagai orang saleh pun bersemayam dihatinya. Jika ini tidak berhasil, maka nafsu akan menyibukkan dengan jalan lainnya ketika menunaikan shalatnya. Semua ini terwujud berkat kerjasama nafsu dan syaitan.

Sama halnya dengan shalat, pengabdian kepada Alquran dan agama, dakwah amar ma’ruf nahi munkar, mengenalkan Allah SWT kepada kalbu masyarakat, dan pengorbanan yang diperlukan untuk mewujudkannya adalah hal-hal yang tidak disukai oleh nafsu. Di saat sebagian besar orang-orang melakukan hal-hal yang mereka sukai, pada waktu yang sama sebagian orang pergi ke berbagai tempat, meningkatkan ufuk makrifatn-ya kepada Allah SWT, dan walaupun akan dihina dan direndahkan derajatnya, mereka tetap akan mengetuk pintu-pintu kalbu demi bisa memasukinya dan mengisinya dengan Allah, tentu saja aktivitas seperti ini adalah hal yang paling tidak disukai nafsu. Setelah tahapan ini mampu dilewati, maka kali ini nafsu mulai membuat kita menyombongkan diri, merasakan pada lingkungan sekitar bahwa ia lebih mulia karena merasa lebih banyak merasakan pengabdian kepada agama. Dan ketika terjadi demikian, maka akan terasa bahwa aktivitas dakwahnya seperti aktivitas rutin saja, kalbunya kemudian kehilangan ruh, dan melakukan sesuatu hanyalah keharusan semata. Setelah ia melewatinya, egoismenya kemudian akan diliputi oleh perasaan bahwa orang lain tidak memahami hal yang seharusnya, sebagaimana yang ia pahami, bahwa orang lain tidak memahami tingginya makna yang ada di dalamnya, bahwa orang lain telah menutup mata pada karyanya, bahwa orang lain tidak faham nilai dan pentingnya dirinya! Jika ini telah dilewati, yang datang kemudian adalah perasaan tidak puas, tidak merasakan kenikmatan dari apa yang dikerjakan, hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan target dan kapasitas yang dicanangkan. Mungkin perasaan-perasaan tadi tidak bisa diurutkan seperti itu, tetapi jika rintangan yang satu bisa dilewati, telah siap menunggu puluhan rintangan lainnya. Rahasia ujian di dunia ini menjadi syarat bagi eksistensi manusia.

Ada banyak sekali pekerjaan-pekerjaan mulia dan Ibadah-ibadah yang mana sebelum ia dikerjakan, ketika dikerjakan, atau setelah dikerjakan jatuh kedalam perangkap yang digiring oleh perasaan tadi. Demikian mahirnya syaitan dan nafsu dalam melakukan pekerjaan ini sehingga amat sedikit orang yang berhasil meraih keikhlasan paripurna dan mencapai tujuannya sebelum terjerembab dalam jebakan dan intrik tadi. Demikianlah sosok-sosok yang telah mencapai keikhlasan paripurna akan senantiasa berjuang dalam setiap fase kebaikan, dan tidak pernah memedulikan sedikitpun bisikan syaitandan nafsunya. Yakni, bisa jadi mereka adalah sosok yang; demi dakwah yang ia junjung tinggi; teguh pada pendirian dan bulat tekadnya dalam melewati segala rintangan. Ketika berupaya mencapai tujuannya, mereka berjiwa matang dalam menyerahkan segala sesuatu yang menjadi hak pada pemiliknya serta memiliki tatakrama terbaik di hadapan Sang Maha Penciptanya”.

Hampir tidak ada hamba Allah yang luput dari ujian ini. Tidak seharusnya ada orang yang melihat dirinya tidak akan tertimpa ujian ini, terkecuali para nabi, hamper semua orang, sedikit banyak pernah, sesuai tingkatannya masing-masing, jatuh pada jebakan dan akhirnya berhasil terlepas darinya. Tetapi lewat penjelasan dari Alquran, hamba-hamba yang senantiasa berlindung kepada Allah, mereka yang senantiasa merintih kalbunya memohon bantuan kepada Tuhannya, mereka yang menyerahkan dirinya pada ikhlaslah yang bisa terjaga dari jebakan syaitan dan nafsu.

Insan yang beriman tidak boleh sedikitpun mempercayai nafsunya. Harus selalu siaga setiap waktu dan jangan biarkan kelalaian menyergap. Hal ini mirip sekali ketika kita menyetir mobil. Sesaat saja kita kehilangan konsentrasi, saat itu juga kita dapat lepas kendali atas setir tersebut dan akan terguling karena menabrak trotoar. Tarbiah nafsu bagaikan lari marathon sepanjang umur. Jika manusia berhasil melewati ujian awal ini, jika manusia mampu mengalahkan nafsunya, ini berarti ia telah berhasil menggenggam kemenangan melawan musuh terbesarnya.

Menurut riwayat Jarir, Abu Laits as-Samarqandi berkata:
“Seseorang ingin menjadi teman nabi Isa as :”Bisakah aku menjadi teman seperjalanan Anda?”. Setelah tawaran ini diterima mereka akhirnya berjalan bersama. Sesampainya di tepi sungai, mereka beristirahat untuk makan. Disampingnya ada 3 buah roti. Mereka makan dua buah rotinya, masih tersisa satu lagi. Nabi Isa kemudian berdiri menuju sungai untuk minum, kemudian ketika kembali ke tempat duduknya beliau tidak menemukan roti yang tersisa satu lagi tadi. Nabi Isa bertanya kepada teman seperjalanannya:”Siapa yang mengambil rotinya?” Lelaki itu menjawab:”Saya tidak tahu.”
Setelah istirahat makan mereka kembal melanjutkn perjalanan. Di perjalanan mereka melihat ada dua anak kijang, nabi Isa memanggil salah satu anak kijang tersebut kemudian menyembelihnya. Setelah membakar bagian leher anak kijang ttersebut, mereka memakannya.

Setelah makan Nabi Isa mendekati sisa tulang dari anak kijang tadi, dan berdoa”Dengan izin Allah, hidup dan bangkitlah lagi”si anak kijang ini tiba-tiba hidup dan bangkit, dan menjauhi mereka.
Setelah peristiwa tersebut, nabi Isa bertanya kepada teman seperjalanannya: “Aku bertanya atas nama Allah yang telah menunjukkan mukjizat tadi,, siapakah yang mengambil rotinya?” Lelaki itu kembali menjawab: “Saya tidak tahu”.

Setelah menempuh perjalanan kembali, beberapa lama kemudian mereka terhalang oleh sebuah sungai. Kemudian Nabi Isa a.s berjalan diatas air, sambil memegangi tangan leleki itu, hingga sampailah mereka di sisi lain sungai tersebut. Setelah melangkahi sungai, Nabi Isa a.s bertanya:”Demi hak Allah SWT yang telah menunjukkan mukjizat tadi, siapa yang mengambil roti ketiga tadi?” Sang lelaki kembali menjawab: “Saya tidak tahu.”

Sesaat kemudian, mereka tiba di gurun, Mereka duduk di sana.  Nabi Isa as kemudian mengumpulakan pasir menjadi sebuah gudukan. Beliau berdoa, “Dengan izin Allah, jadilah ‘emas!” Gudukan pasir itu pun berubah menjadi emas. Nabi Isa membaginya menjadi tiga dan berkata kepada lelaki teman seperjalanannya tadi:”Sepertiganya unuk saya, sepertiganya untuk kamu, dan sepertiganya untuk yang mengambil roti ketiga tadi.” Mendengar hal itu, si lelaki itu berkata:” yang mengambil roti ketiga tadi adalah saya.” Ujarnya mengakui kebenaran yang sebenarnya. Nabi Isa kemudian berkata,”kalau demikian semua emasnya untukmu saja’, dan akhirnya beliau memisahkan diri darinya.

Ketika si lelaki duduk di tengah padang pasir, , tiba-tiba terlihat dua orang pengelana. Pengelana ini datang dan ingin membunuhnya. Si lelaki menawarkan kepada kedua pengelana tersebut; “emas ini kita bagi tiga, tapi sebelumnya tolong salah satu diantara kalian pergi ke kota untuk membeli makanan.” Mereka menerima tawaran ini dan memutus salah satu dari mereka untuk pergi ke kota. Orang yang pergi ke kota ini dalam perjalanannya berpikir: “Mengapa harus aku bagi emasnya kepada mereka? Jika aku memberi racun pada makanannya, aku bisa membunuh mereka. Dengan demikian semua emas akan menjadi miliku”. Ia pun pergi membeli makanan. Setelah meracuni makanannya ia kembali pada mereka. Mereka yang duduk menunggu pun berdiskusi juga,”mengapa kita harus memberikan sepertiga emasnya untuk dia, kita bunuh saja dia, jadi emasnya kita bagi berdua saja.” Sepulangnya orang ke tiga dari kota, mereka membunuhnya. Namun setelahnya mereka tetap memakan makanan yang dibawanya, merekapun turut meninggal dunia. Dengan demikian emas itu pun kini tidak ada pemiliknya. Nabi Isa as sekali lagi melewati gurun pasir tadi dan melihat apa yang terjadi disana. “Inilah hakikat dunia. Maka jauhilah ia.”

Nafsu diciptakan dengan karakteristik tidak akan kenyang dengan semua kenikmatan yang ada di dunia. Apa yang diinginkan Tuhan dari manusia pun adalah hal-hal yang tidak diinginkan oleh nafsu. Oleh karena itu, manusia senantiasa berada dalam perjuangan menghadapi pemberontakan dan halangan-halangan mentaati perintah Allah SWT. Dalam kondisi demikian bukan berarti manusia tidak memiliki penolong dan jalan keluar. Oleh karena sebenarnya telah diberikan bentuk-bentuk pertolongan jika manusia mampu memenuhi hak iradahnya di jalan ini. Dimulai dari Allah SWT sebagai Tuhan semesta alam, para nabi, kitabullah, para awliya(waliyullah) dan hati nurani kita akan selalu menjadi penolong bagi kita…