Minggu, 22 Februari 2015

Separuh Jiwa



Separuh Jiwa 

               Jiwa Ini serasa Kosong, aku melihat bagian diriku ada pada orang lain, sehingga sering merasa bergantung. Serasa sepi kalo ngga ada mereka, sehingga seolah-olah jiwa ini sering minta tolong sama mereka. Mereka ada, dan hadir, tapi mereka bukan bagian dari diriku.

Aku minta Allah mengisi sebagian yang kosong ini, agar tidak dimasuki syaitan. Jika jiwa ini penuh, jiwa ini kuat. Separuh adalah dariku, separuhnya berupa kehadiran, Hidayah dan bimbingan Allah. Cukuplah Allah sebagai penolongku. Allah sebagai Penghiburku.

Separuh jiwa ini kosong, mintalah Allah untuk mengisinya. Hati diisi oleh jiwa, yang separuhnya adalah jiwa kita, Yang separuhnya lagi adalah singgahsana Allah. Apabila yang separuhnya diisi selain Allah, maka guncanglah jiwa, karena tak ada sesuatupun yang mampu memenuhi separuh bagian itu kecuali Allah, dan memang itu adalah singgahsana Allah.

Kalaupun ada, yang selain Allah itu fana, sehingga seolah-olah qalbumu merasa tercukupi, padahal, kehadiran yang selain Allah yang bersifat sementara itu hanya akan membuat qalb kita merasa sakit dan kosong ketika kita menyadari bahwa mereka telah pergi. Saat  qalb sakit dan setengah kosong, jiwa kita mudah terguncang, albu ini merasa perlu segera diisi kembali sehingga sering mencari pelarian-pelarian, yang dalam hal ini orang sering terjerumus, karena saat terguncang, dengan mudah syaitan akan masuk qalbu.

So, hanya Allah lah yang berhak mengisi separuh jiwa dalam qalb kita. Karena jiwa kita abadi, dan Allah pun abadi serta tak terhingga, sehingga mampu memuaskan setiap jiwa, setiap saat dan selama-lamanya. Berharaplah hanya kepada Allah. Berbuat baiklah pada sesama, tapi jangan pernah berharap, walau hanya sebutir debu.

Hanya Yang Tak Terhingga lah yang mampu memuaskan setiap Jiwa, Hanya Yang Tak Terikat Oleh Ruang Dan Waktu lah yang bisa hadir disetiap saat kapanpun kita butuhkan, dan akan selalu butuh. Hanya Yang Maha Kekal lah yang Abadi.

                                                                                    Subhanakallohumma wabihamdika ashaduallailahaillalloh waastaghfiruka waatubuilaik.

Jumat, 13 Februari 2015

Memperbaiki Diri



 Memperbaiki Diri

                Setiap hari saya dibangkitkan dari mati*, tidakkah saya berfikir? Ingat mati hendaknya bukanlah membuat kita malas hidup. Justru sebaliknya membuat kita semangat untuk hidup. Hari ini saya lebih tua satu hari dari hari kemarin. Apa yang sudah saya perbuat?

                Setiap hari saya dibangkitkan dari mati, tidakkah saya berfikir? Adakah hari ini lebih baik dari kemarin, sehingga termasuk orang-orang yang beruntung? Atau termasuk orang-orang yang merugi, yang hari demi hari sama? Atau yang hari ini lebih buruk dari kemarin? Naudzubillah.

                Ibu yang bijak berpesan: "Anakku, boleh kiranya kamu menolak menghadiri undangan pesta nan meriah. Tapi jangan sekali-kali menolak menghadiri undangan takziah."

                Karena di situ kamu diingatkan. Bahwa setiap detik yang kamu lalui haruslah bermakna. Semua yang kamu lakukan hanyalah untuk dirimu, bahkan menolong orang pun sejatinya adalah untuk kebaikanmu di akhirat, akan tetapi bukan hanya itu masalahnya. Waktu hidupmu yang sementara menuntutmu! Ya,menuntutmu untuk memberi manfaat bagi sebanyak-banyaknya manusia.

                Setiap hari saya dibangkitkan dari mati, tidakkah saya berfikir? Semoga kita senantiasa menjadi pribadi yang hari-harinya dilalui dengan perbaikan, serta menjadi pribadi yang bisa memberi sebanyak-banyaknya manfaat bagi sesama.

*dalam suatu riwayat, mati = tidur. Saat tidur Allah menggenggam/ menahan jiwa kita, lalu sebagian ada yang dikembalikan dan ada yang tidak. Orang yang bangun dari tidur, diibaratkan orang yang bangkit dari mati, atau diberi kesempatan hidup satu hari lagi, setiap harinya, tapi kebanyakan manusia tidak berfikir.