Separuh Jiwa
Jiwa Ini serasa Kosong, aku melihat bagian diriku ada pada orang
lain, sehingga sering merasa bergantung. Serasa sepi kalo ngga ada mereka,
sehingga seolah-olah jiwa ini sering minta tolong sama mereka. Mereka ada, dan
hadir, tapi mereka bukan bagian dari diriku.
Aku minta
Allah mengisi sebagian yang kosong ini, agar tidak dimasuki syaitan. Jika jiwa
ini penuh, jiwa ini kuat. Separuh adalah dariku, separuhnya berupa kehadiran,
Hidayah dan bimbingan Allah. Cukuplah Allah sebagai penolongku. Allah sebagai
Penghiburku.
Separuh jiwa
ini kosong, mintalah Allah untuk mengisinya. Hati diisi oleh jiwa, yang
separuhnya adalah jiwa kita, Yang separuhnya lagi adalah singgahsana Allah.
Apabila yang separuhnya diisi selain Allah, maka guncanglah jiwa, karena tak
ada sesuatupun yang mampu memenuhi separuh bagian itu kecuali Allah, dan memang
itu adalah singgahsana Allah.
Kalaupun ada,
yang selain Allah itu fana, sehingga seolah-olah qalbumu merasa tercukupi,
padahal, kehadiran yang selain Allah yang bersifat sementara itu hanya akan
membuat qalb kita merasa sakit dan kosong ketika kita menyadari bahwa mereka
telah pergi. Saat qalb sakit dan setengah kosong, jiwa kita mudah
terguncang, albu ini merasa perlu segera diisi kembali sehingga sering mencari
pelarian-pelarian, yang dalam hal ini orang sering terjerumus, karena saat
terguncang, dengan mudah syaitan akan masuk qalbu.
So, hanya
Allah lah yang berhak mengisi separuh jiwa dalam qalb kita. Karena jiwa kita
abadi, dan Allah pun abadi serta tak terhingga, sehingga mampu memuaskan setiap
jiwa, setiap saat dan selama-lamanya. Berharaplah hanya kepada Allah. Berbuat
baiklah pada sesama, tapi jangan pernah berharap, walau hanya sebutir debu.
Hanya Yang Tak
Terhingga lah yang mampu memuaskan setiap Jiwa, Hanya Yang Tak Terikat Oleh
Ruang Dan Waktu lah yang bisa hadir disetiap saat kapanpun kita butuhkan, dan
akan selalu butuh. Hanya Yang Maha Kekal lah yang Abadi.

