Kamis, 16 Oktober 2014

Bismillah

Image source: www.madaniwallpapper.com

Bismillah

         Bismillah adalah awal segala kebaikan.  Karena itu, kita memulai dengannya. Wahai jiwa, ketahuilah bahwa disamping sebagai syiar Islam, kalimat yang baik dan penuh berkah ini merupakan zikir seluruh entitas lewat lisanul hal (keadaan) mereka. Jika engkau ingin mengetahui sejauh mana kekuatan bismillah serta sejauh mana keberkahan yang terdapat padanya, perhatikan perumpamaan berikut.

Seorang badui yang hidup nomaden dan menggembara di padang pasir harus memiliki afiliasi dengan pemimpin kabilah dan harus berada dalam perlindungannya agar selamat dari gangguan orang-orang jahat, agar bisa menunaikan pekerjaannya, agar bisa mendapatkan berbagai kebutuhannya. Jika tidak ia akan merana sendirian dalam kondisi cemas dan gelisah menghadapi banyak musuh dan kebutuhan yang tak terhingga. 

Pengembaraan yang sama dilakukan oleh dua orang; yang satu rendah hati, yang satu sombong. Orang yang rendah hati menisbatkan diri kepada penguasa, sementara yang sombong menolak untuk menisbatkan diri padanya. Keduanya berjalan di padang pasir tersebut. Ketika orang yang menisbatkan diri pada penguasa itu berkelana dengan aman di setiap tempat. Jika bertemu perompak jalanan, ia berkata, “Aku berjalan atas nama penguasa”. Mendengar itu, perompak tadi membiarkannya pergi. Jika dia masuk kedalam kemah, ia disambut dengan hormat berkat nama penguasa yang disandangnya.

Adapun orang yang sombong, ia menjumpai berbagai cobaan dan musibah yang tak terkira. Pasalnya sepanjang perjalanan ia terus berada dalam ketakutan dan kecemasan. Ia selalu meminta dikasihani hingga membuat dirinya terhina.

Karena itu, wahai diri yang sombong. Ketahuilah! Engkau bagai pengembara badui diatas. Dunia yang luas ini adalah padang pasir dan kebutuhanmu tak akan pernah habis. Jika demikian keadaannya, sandanglah nama Pemilik Hakiki dan Penguasa Abadi dari padang pasir ini agar engkau selamat dari meminta-minta pada mahluk serta dari rasa cemas dalam menghadapi berbagai peristiwa.


                                                                                               Risalah  Nur, Bediuzzaman Said Nursi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar