Selasa, 15 Desember 2015

Anak Kecil Perlu Pembiasaan



Picture: Ryan (kiri pembaca), Ari (kanan).Sumber: Doc. Pribadi
Masa kanak-kanak adalah masa bermain. Ya, mereka hanya bermain. Tidak ada kewajiban yang harus dikerjakan atau amanah yang harus diemban. Keceriaan selalu mengiringi hari-hari mereka, tak kenal apa itu sedih, pun ketika mereka terluka dan tersakiti mereka akan menangis sebentar saja, setelah itu mereka ceria dan tertawa sepuasnya.

Wajahnya yang entah kenapa, mampu membuat semua orang sayang kepadanya. Serasa ingin menggendongnya, mencium pipinya yang lucu, mengajaknya berbicara meski belum bisa berbicara, serta mengajaknya tersenyum dan tertawa, itulah respon setiap orang yang menjumpainya. Remaja putri yang tomboy sekalipun mendadak berubah menjadi ke-ibuan tatkala melihat wajah si mungil yang menggemaskan itu. Bagaimana mungkin, sosok manusia yang paling lemah, akan tetapi mereka mendapat rizki yang terbaik di alam semesta ini berupa ASI, serta kedatangannya disambut hangat oleh seluruh alam? Jawabanya adalah: karena sifat Tuhan Ar-rahman, Yang Maha Mengasihi.

Allah SWT sendiri belum mewajibkan anak-anak untuk beribadah, melainkan kelak ketika mereka sudah mulai menginjak remaja, akil baligh, dan mumayis atau bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk. Meski demikian, masa anak-anak adalah masa-masa dimana seseorang paling cepat belajar sesuatu. Dari tidak tahu bahasa, hingga fasih berbicara, dari hanya merangkak hingga bisa berjalan dan berlari, dari hanya menangis hingga bisa berexpresi. Ya, masa kanak-kanak adalah masa dimana manusia belajar begitu banyak hal dalam waktu yang sangat singkat. Oleh karenanya sangat disayangkan apabila masa tersebut berlalu tanpa diisi dengan nilai-nilai luhur, baik dalam hal Ibadah maupun pembiasaan Adab. Salah satunya yaitu pengenalan ibadah berupa pembiasaan shalat.

Banyak diantara ibu-ibu, termasuk ibu saya sendiri yang enggan membangunkan putra-putrinya tatkala datang waktu shalat subuh atau ketika bangun shalat malam, karena tak tega mengganggu waktu tidur anaknya yang masih balita (seperti kita tahu bahwa anak-anak memiliki waktu tidur yang lebih lama dibanding orang dewasa). Membangunkan anak-anak diwaktu bangun malam, dan shalat subuh, membasuh wajah dengan air suci, dan membacakan mereka Al-Quran, secara tidak langsung akan membentuk karakter dan menanamkan kepada alam bawah sadar mereka akan pentingnya ibadah. Adalah suatu kewajiban bagi orang tua untuk ngenalkan mereka akan kewajiban yang utama sebagai hamba Allah yang akan diemban seumur hidup mereka dimulai sejak masa remaja. Mengajaknya shalat jamaah dimasjid, mengajaknya shalat jumat, dan shalat hari raya, juga merupakan suatu langkah awal memperkenalan mereka pentingnya shalat jamaah, pengenalan ukhwah, serta pembiasaan berkumpul dengan orang-orang shalih, tentunya ketika anak-anak sudah mulai bisa berjalan sehingga tidak terlalu merepotkan.

Fenomena para remaja yang susah bangun subuh apalagi shalat malam padahal kedua orang tuanya ahli ibadah,bisa jadi disebabkan karena tidak adanya pengenalan serta pembiasaan ibadah sejak kecil. Bahkan hingga dewasa, banyak di antara mereka yang masih kesulitan untuk bangun shalat subuh. Maka, sindiran Allah pun datang untuk mereka,”Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat subuh dan ashar.

 Banyak halangan yang mungkin akan terjadi ketika mengajak seorang manusia yang masih rewel-susah diatur-atau belum bisa diajak berlogika karena dunianya adalah dunia imajinasi, untuk mengenal dan membiasakan serta disiplin Ibadah. Maka banyak orang tua yang tidak bisa sabar sehingga lebih memilih untuk membiarkan mereka bermain saja atau pulas tertidur tatkala datang waktu shalat. Akan tetapi, mana yang lebih berat dibanding mengajak anak yang mulai remaja yang sudah bisa berkata “Tidak” dan bisa membangkang karena nafsu dan egonya sudah mulai tumbuh? Maka memperkenalkan Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada manusia yang paling membutuhkan kasih dan sayang dengan cara memperkenalkan dan membiasakan Ibadah sejak dini sejatinya adalah suatu kemuliaan di atas kemuliaan. Wallahu’alam bisshawab.