Selasa, 03 November 2015

Adab Membaca Alquran


Pict: Masjid Al-Hikam, Kutek, Depok UI
Source: Doc. Pribadi
Alquran itu afdzholudzikri, dzikir yang paling utama. Sehingga Allah subhanahu wata'ala melalui hadits Nabi SAW menjadikan manusia yang belajar dan mengajarkan Alquran sebagai manusia terbaik. Agar kegiatan belajar Alquran ini menjadi semakin berkah, kita perlu memperhatikan beberapa adab dalam membaca Alquran. Berikut diantaranya:

Pertama, dianjurkan untuk selalu suci dari hadats dan membersihkan gigi sebelum membaca Alquran. Memakai pakaian yang sopan. Beliau bersabda, “Aku tidak menyukai menyebut nama Allah, kecuali dalam keadaan suci.” (HR. Ahmad dan Abu Daud) dan dishahihkan oleh Al-albani. Dan nabi SAW sangat menekankan agar kita menjaga kebersihan gigi, karena itu mengundang ridha Allah. Beliau SAW bersabda, “Siwak itu membersihkan mulut dan mengundang ridha Allah.” (HR. Ahmad, Bukhari secara Muallaq dan yang lainnya).

Kedua, dianjurkan untuk menghadap kiblat. Dari Ibnu ‘Umar R. A. Beliau SAW bersabda, “Majlis (posisi duduk) yang paling mulia adalah majlis yang menghadap kiblat.” (HR. Tabrani) dalam Al-ausat dan dishahihkan oleh Al-albani.

Ketiga, membaca ta’awudz ketika memulai membaca Alquran. Allah ta’ala berfirman: “Apabila kamu membaca Alquran, hendaklah meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98). Kita juga dianjurkan membaca basmalah apabila membaca Alquran dari awal surat, kecuali surat At-Taubah. “Sahabat Anas bin Malik Radhiallahu’anhu menceritakan, Suatu ketika Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam terbangun dari tidur sambil tersenyum. Dan kamipun bertanya, ‘Ya Rasulullah, apa yang membuat Anda tersenyum?’ Beliau bersabda, ‘Baru saja turun kepadaku satu surat.’ Kemudian beliau membaca: ‘Bismillahirahmanirrahim, Inna a'toina kalkautsar, Fasollilirobbika wanhar, Innasyaniaka huwal abtar.’ “(HR. Ahmad, Muslim, dan yang lainnya).

Keempat, hendaknya konsentrasi dan berusaha merenungi setiap apa yang dibaca, karena Allah mencela orang-orang munafik, yang setiap hari mengdengar Alquran namun mereka sama sekali tidak mampu mengambil pelajaran darinya. Allah berfirman, “Mengapa mereka tidak merenungkan kandungan makna Alquran. Apakah ada kunci di hati mereka?” (QS. Muhammad: 24) Dan inilah tujuan utama Allah menurunkan Alquran, agar kitabnya direnungi, dan diamalkan. Allah berfirman, ”Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29).

Kelima, berusaha khusyu’. Memusatkan hati hingga terbawa sesuai apa yang kita baca. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, ialah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka.” (QS. Al-Anfal: 2). Diantara sifat orang shalih, mereka tertunduk khusyu’ dan menangis ketika mendengar Alquran dibacakan. Allah ta’ala berfirman, ”Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu sebelumnya, apabila Alquran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: ‘Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra: 107-109).

Keenam, berusaha membaca dengan benar, jelas dan suara bagus. Allah berfirman, “Bacalah Alquran dengan tartil.” (QS. Al-Muzammil: 4). Yang dimaksud membaca dengan tartil adalah membacanya dengan pelan, jelas setiap hurufnya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam juga menganjurkan kita untuk membaguskan suara ketika membaca Quran. Beliau bersabda, “Hiasilah Alquran dengan suara kalian.” (HR. Ahmad, Nasai dan yang lainnya).

Ketujuh, boleh membaca Alquran sambil berdiri, di atas kendaraan atau berbaring. Allah berfirman menceritakan karakter Ulil Albab, orang yang cerdas. “Yaitu mereka yang selalu mengingat Allah ketika berdiri, duduk, dan ketika berbaring. Mereka merenungkan ciptaan langit dan bumi.” (QS. Ali-Imran: 191). Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam pernah membaca surat Al-Fath diatas kendaraannya ketika menaklukan kota mekah. “Aisyah menceritanak bahwa Nabi Shallallahualaihi wa sallam pernah berbaring dengan meletakan kepala di pangkuan Aisyah yang sedang haid, kemudian beliau membaca Alquran.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kedelapan, Tidak membaca terlalu keras sehingga mengganggu orang yang sedang sholat, atau yang sedang tidur. Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam pernah menemui para sahabat, ketika mereka sedang shalat malam, dan mereka saling mengeraskan bacaannya, lalu Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang shalat itu bermunajat dengan Tuhan-Nya, maka perhatikanlah apa yang dia gunakan untuk bermunajat dan jangan saling berlomba mengeraskan bacaan.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha). Dan dishahihkan Ibnu Abdil-Bar. Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam memisalkan orang yang membaca Alquran dengan terang-terangan seperti orang yang menampakkan shedekahnya kepada orang lain. “Orang yang yang mengeraskan bacaan Alquran itu sebagaimana orang yang menampakkan sedekah. Orang yang pelan dalam membaca Alquran sebagaimana orang yang bersedekah rahasia.” (HR. Ahmad, Nasai) dan dishahihkan oleh Al-albani. Dan secara umum, sedekah dengan sembunyi-sembunyi lebih besar pahalanya, kecuali ada sebab tertentu yang menganjurkan dia untuk mengeraskan bacaannya.

Kesembilan, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam telah melarang menghatamkan Alquran kurang dari tiga hari, karena ini terlalu cepat sehingga tidak bias merenungi maknanya. Rasulullah bersabda, “Orang yang membaca Alquran kurang dari tiga hari, maka tidak akan dapat memahaminya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud) dan dishahihkan oleh Al-Albani. “Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam pernah memerintahkan Abdullah bin Umad Radhiallahu’anhuma agar menghatamkan Alquran setiap tujuh hari sekali.” (Mutafaqun’Alaih).

Kesepuluh, melakukan sujud tilawah ketika melewati ayat sajdah. Aisyah menceritakan, ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam melakukan sujud tilawah di malam hari, beliau membaca kalimat berikut berulang kali. “Aku bersujud kepada tuhan yang telah menciptakanku, yang memberi penglihatan dan pendengaranku, dengan daya dan upaya-Nya.” (HR. Nasai dan Abu Dawud). Dan dishahihkan oleh Al-albani.

Semoga Kita Tidak Lalai Dalam Mengamalkannya

*diadaptasi dari chanel youtube, yufid.tv