![]() |
| Pict: Masjid Al-Hikam, Kutek, Depok UI Source: Doc. Pribadi |
Alquran
itu afdzholudzikri, dzikir
yang paling utama. Sehingga Allah subhanahu wata'ala melalui hadits Nabi SAW
menjadikan manusia yang belajar dan mengajarkan Alquran sebagai manusia
terbaik. Agar kegiatan belajar Alquran ini menjadi semakin berkah, kita perlu
memperhatikan beberapa adab dalam membaca Alquran. Berikut diantaranya:
Pertama,
dianjurkan untuk selalu suci dari hadats dan membersihkan gigi sebelum membaca
Alquran. Memakai pakaian yang sopan. Beliau bersabda, “Aku tidak menyukai menyebut nama
Allah, kecuali dalam keadaan suci.” (HR. Ahmad dan Abu Daud) dan dishahihkan oleh Al-albani. Dan
nabi SAW sangat menekankan agar kita menjaga kebersihan gigi, karena itu
mengundang ridha Allah. Beliau SAW bersabda, “Siwak
itu membersihkan mulut dan mengundang ridha Allah.” (HR. Ahmad, Bukhari secara Muallaq dan
yang lainnya).
Kedua, dianjurkan untuk menghadap
kiblat. Dari Ibnu ‘Umar R. A. Beliau SAW bersabda, “Majlis (posisi duduk) yang paling
mulia adalah majlis yang menghadap kiblat.” (HR.
Tabrani) dalam Al-ausat dan dishahihkan oleh Al-albani.
Ketiga, membaca ta’awudz ketika
memulai membaca Alquran. Allah ta’ala berfirman: “Apabila kamu membaca Alquran,
hendaklah meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98). Kita juga
dianjurkan membaca basmalah apabila membaca Alquran dari awal surat, kecuali
surat At-Taubah. “Sahabat Anas
bin Malik Radhiallahu’anhu menceritakan, Suatu ketika Rasulullah
shallallahu’alaihi wa sallam terbangun dari tidur sambil tersenyum. Dan kamipun
bertanya, ‘Ya Rasulullah, apa yang membuat Anda tersenyum?’ Beliau bersabda,
‘Baru saja turun kepadaku satu surat.’ Kemudian beliau membaca:
‘Bismillahirahmanirrahim, Inna a'toina kalkautsar, Fasollilirobbika wanhar,
Innasyaniaka huwal abtar.’ “(HR. Ahmad, Muslim, dan yang lainnya).
Keempat, hendaknya konsentrasi
dan berusaha merenungi setiap apa yang dibaca, karena Allah mencela orang-orang
munafik, yang setiap hari mengdengar Alquran namun mereka sama sekali tidak
mampu mengambil pelajaran darinya. Allah berfirman, “Mengapa mereka tidak merenungkan
kandungan makna Alquran. Apakah ada kunci di hati mereka?” (QS. Muhammad: 24) Dan inilah tujuan
utama Allah menurunkan Alquran, agar kitabnya direnungi, dan diamalkan. Allah
berfirman, ”Ini adalah sebuah
kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka
memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang
mempunyai fikiran.” (QS.
Shad: 29).
Kelima, berusaha khusyu’.
Memusatkan hati hingga terbawa sesuai apa yang kita baca. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang
beriman, ialah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka,
dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka.” (QS. Al-Anfal: 2). Diantara sifat
orang shalih, mereka tertunduk khusyu’ dan menangis ketika mendengar Alquran
dibacakan. Allah ta’ala berfirman, ”Sesungguhnya
orang-orang yang diberi ilmu sebelumnya, apabila Alquran dibacakan kepada
mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata:
‘Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan
mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah
khusyu’.” (QS. Al-Isra: 107-109).
Keenam, berusaha membaca dengan
benar, jelas dan suara bagus. Allah berfirman, “Bacalah Alquran dengan tartil.” (QS. Al-Muzammil: 4). Yang dimaksud
membaca dengan tartil adalah membacanya dengan pelan, jelas setiap hurufnya.
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam juga menganjurkan kita untuk
membaguskan suara ketika membaca Quran. Beliau bersabda, “Hiasilah Alquran dengan suara
kalian.” (HR. Ahmad, Nasai
dan yang lainnya).
Ketujuh, boleh membaca Alquran
sambil berdiri, di atas kendaraan atau berbaring. Allah berfirman menceritakan
karakter Ulil Albab, orang yang cerdas. “Yaitu
mereka yang selalu mengingat Allah ketika berdiri, duduk, dan ketika berbaring.
Mereka merenungkan ciptaan langit dan bumi.” (QS. Ali-Imran: 191). Nabi
Shallallahu’alaihi wa sallam pernah membaca surat Al-Fath diatas kendaraannya
ketika menaklukan kota mekah. “Aisyah
menceritanak bahwa Nabi Shallallahualaihi wa sallam pernah berbaring dengan
meletakan kepala di pangkuan Aisyah yang sedang haid, kemudian beliau membaca
Alquran.” (HR. Bukhari dan
Muslim).
Kedelapan, Tidak membaca terlalu
keras sehingga mengganggu orang yang sedang sholat, atau yang sedang tidur.
Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam pernah menemui para sahabat, ketika mereka
sedang shalat malam, dan mereka saling mengeraskan bacaannya, lalu Nabi
Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Orang
yang shalat itu bermunajat dengan Tuhan-Nya, maka perhatikanlah apa yang dia
gunakan untuk bermunajat dan jangan saling berlomba mengeraskan bacaan.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha). Dan
dishahihkan Ibnu Abdil-Bar. Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam memisalkan orang
yang membaca Alquran dengan terang-terangan seperti orang yang menampakkan
shedekahnya kepada orang lain. “Orang
yang yang mengeraskan bacaan Alquran itu sebagaimana orang yang menampakkan
sedekah. Orang yang pelan dalam membaca Alquran sebagaimana orang yang
bersedekah rahasia.” (HR.
Ahmad, Nasai) dan dishahihkan oleh Al-albani. Dan secara umum, sedekah dengan
sembunyi-sembunyi lebih besar pahalanya, kecuali ada sebab tertentu yang
menganjurkan dia untuk mengeraskan bacaannya.
Kesembilan, Rasulullah
Shallallahu’alaihi wa sallam telah melarang menghatamkan Alquran kurang dari
tiga hari, karena ini terlalu cepat sehingga tidak bias merenungi maknanya.
Rasulullah bersabda, “Orang yang membaca Alquran kurang dari tiga hari, maka
tidak akan dapat memahaminya.” (HR.
Ahmad dan Abu Dawud) dan dishahihkan oleh Al-Albani. “Rasulullah
Shallallahu’alaihiwasallam pernah memerintahkan Abdullah bin Umad
Radhiallahu’anhuma agar menghatamkan Alquran setiap tujuh hari sekali.” (Mutafaqun’Alaih).
Kesepuluh,
melakukan sujud tilawah ketika melewati ayat sajdah. Aisyah menceritakan, ketika
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam melakukan sujud tilawah di malam hari,
beliau membaca kalimat berikut berulang kali. “Aku
bersujud kepada tuhan yang telah menciptakanku, yang memberi penglihatan dan
pendengaranku, dengan daya dan upaya-Nya.” (HR. Nasai dan Abu Dawud). Dan
dishahihkan oleh Al-albani.
Semoga Kita Tidak Lalai Dalam Mengamalkannya
*diadaptasi dari chanel youtube, yufid.tv
