Langit
sore sayup-sayup meredup, awan-gemawan berarakan seolah mengiringi mentari yang
hendak pulang ke peraduan. Kereta Listrik (KRL) jurusan Jakarta mengantarkan saya
pada suatu pemberhentian di dekat sebuah pusat perbelanjaan yang mana di situ
terpampang tulisan, “Stasiun Pasar Minggu”. Ya, tak asing memang nama stasiun tersebut khususnya bagi
warga yang tinggal disekitar kota Depok, karena jaraknya yang tak jauh melainkan
hanya 5 stasiun pemberhentian. Sekeluarnya dari halte stasiun, tampak sederetan
tukang ojek yang sedang berebut menawarkan jasa angkutannya kepada siapapun
yang melintas meski tak jarang di antara mereka yang bahkan enggan meski hanya untuk
sekedar menoleh, karena memang mereka tidak berniat untuk naik ojek. Seperti
halnya saya, berlalu tanpa berkata sedikitpun, kecuali hanya melambaikan tangan
sebagai isyarat bahwa saya tidak hendak naik ojek. Kuayunkan kakiku menerobos
jalan kecil yang padat oleh pejalan kaki hendak keluar maupun mau masuk dari dan
ke stasiun. Deretan tukang ojek berlalu,
kini digantikan dengan sederetan ibu-ibu yang menjajakan aneka makanan yang kebanyakan
adalah buah-buahan. Langkahku terus melaju menuju jalan raya, tujuanku ialah pusat
keramaian di sekitar pusat perbelanjaan Pasar Minggu yang mana tepat berada di
seberang jalan dimana aku sedang berdiri saat ini. Saya berharap akan segera
menemukan seseorang yang tepat untuk saya wawancarai.
Kini
saya sudah tepat berada di depan pasar minggu, di bawah gedung yang bertuliskan
“Robinson”. Suara bising kendaraan, orang-orang yang bercakap, pedagang
asongan, sopir angkot, dan suara sales supermarket yang menawarkan aneka diskon
dengan menggunakan pengeras suara, menjejali telinga membuat saya ingin
cepat-cepat enyah dari tempat itu. Namun saya harus menemukan seseorang yang
tepat untuk saya wawancarai. Saya berjalan menyusuri pinggir pasar. Terlihat ibu-ibu
yang menjual perabotan rumah tangga, pedagang buah-buahan, serta banyak tukang
dagang lain yang luput dari perhatian saya. Saya terus berjalan, mencari tukang
sampah, pemulung atau mungkin pengemis, atau pedagang entah lah nanti siapa
yang saya temui dan saya merasa orang itu tepat untuk saya wawancarai. Nampaknya
waktu maghrib hendak tiba. Lalu saya balik arah, masuk menuju dalam pasar. Sebagian
kios sudah pada tutup, kios penjual emas masih terlihat ramai, dan disamping
kanan penjual sayur-sayuran sedang mengangkat-angkat dagangannya, entah mau
tutup atau hendak jualan di malam hari. Saya terus berjalan hingga menembus
ujung pasar, belok ke kanan melalui jalan raya, lalu menuju pasar buah-buahan,
saya belum menemukan seseorang yang saya hendak wawancarai. Azan berkumandang, terdengar
tak jauh dari tempat saya berdiri saat ini. Setelah menelusuri gang kecil
akhirnya saya temukan mushala. Saya shalat maghrib di situ.
Seorang kakek-kakek, duduk dipinggir
sebuah gedung di sampingnya adalah penjual buah-buahan, tampak ia sedang
membersihkan tangan dan kakinya dengan air mineral dalam botol, lalu
mengoleskan balsam ke kaki dan jari-jemari tangannya. Disampingnya ada sebatang
sapu, dan kantong plastih besar, serta karung. Saya fikir dia adalah tukang
sapu, atau bisa jadi tukang sapu sukarela. Setelah saya nyalakan “Voice
recorder” di smartphone, dan kemudian saya simpan di saku kemeja, dengan
sedikit keberanian saya beranikan diri menghampiri kakek tersebut. Setelah menyapa
dan sedikit basa basi, kakek tersebut mengiyakan untuk saya ajak ngobrol, lalu saya
memperkenalkan diri. Dari percakapan singkat saya memperoleh informasi nama kakek
tersebut adalah Suharja, asalnya dari Cirebon. Kata-katanya kurang jelas, dan
menjawabnya hanya sepatah dua patah kata. Tiba-tiba saya ditegor oleh pedagang buah
di samping saya. “Sedang apa ini?” Saya mendekat pedagang buah tersebut,
darinya saya tahu bahwa ternyata kakek yang sedang saya wawancarai tadi adalah seorang
gelandangan, pedagang buah tersebut nampaknya risih dengan keberadaan
kakek-kakek gelandangan tadi, dan menduga kalau saya adalah salah satu keluarga
kakek-kakek tersebut, dan jika demikian saya disuruhnya membawa pulang. Namun
saya jelaskan, saya bukan keluarganya, hanya ingin sedikit ngobrol dan cari
tahu tentang kakek tadi. Setelah minta ijin, saya lanjutkan pembicaraan dengan
kakek gelandangan tadi. Saya tanya dimana keluarganya, apa pekerjaannya, pernah
kerja dimana. Jawabannya masih sama, sedikit kurang jelas dan terlalu singkat.
Kakek tersebut mengaku tinggal di dekat perikanan, (saya kurang tahu daerah
mana itu, setelah saya googling di rumah, ternyata ada Sekolah Tinggi Perikanan
di daerah pasar minggu, mungkin itu yang dimaksud kakek tadi). Si kakek pernah
bekerja di kehutanan, menanam pohon di dekat rel kereta katanya, di sini sudah
dua bulan, dan tidak bekerja, cuma nyapu-nyapu sama tidur di tempat emperan
sebuah gedung dekat penjual buah tadi. Setelah saya tanya lebih lanjut,
mengenai keluarganya, dan apakah mereka tidak mencari si kakek, jawabannya
tidak sesuai dengan apa yang saya maksudkan, kurang jelas dan rada ngelantur.
Saya cuma manggut, manggut saja. Merasa kurang tepat mewawancarai orang ini,
setelah si kakek selesai bicara, saya putuskan untuk menyudahi wawancara ini.
Tentunya setelah saya berpamitan dan mengucapkan terimakasih, dan tak lupa
memberikan sedikit uang yang mungkin akan berguna bagi si kakek.
Sedikit
berjalan kearah balik, tengak-tengok kanan kiri, saya lihat seorang pedagang
asongan yang sedang duduk di bawah lampu jalan raya, dia duduk di beton
pembatas anatara dua jalan yang berlawanan arah. Dia mengenakan topi, nampaknya
sedang sepi pembeli, dari tadi saya lewat belum satupun saya lihat ada orang
yang menghampirinya. Jalanan masih cukup sepi, mungkin karena masih baru
selesai maghrib. Saya menghampirinya untuk membeli permen nano-nano. Lalu saya
minta izin untuk kebersediannya saya ajak ngobrol sebentar. Bapak tersebut bersedia.
Dari obrolan, saya tahu namanya adalah pak Iwan. Asalnya dari Tasik Malaya. Sudah
bertahun-tahun jadi pedagang asongan, 5 tahun-an. Pak iwan menjual permen
nano-nano, hexos, tolak angina, korek api, rokok, tisu, dan masker. Dia membeli
di grosiran dan menjualnya kembali dengan harga ada yang dua kali lipat ada
yang diambil untungnya seribu saja karena harga belinya rada tinggi. Seperti halnya
permen nano-nano, harga per karton terdiri dari 10 pak, menjual eceran dengan
harga 3.000 per sashet, dengan untung dua kali lipat. Jadi jika terjual semua
pak Iwan untung 36 ribu. Pak Iwan memiliki dua orang anak, masih sekolah SMP.
Setiap sebulan sekali dia pualng ke Tasik. Di sini tinggalnya di kostan di
daerah pasar minggu, “deket sini” katanya. Penghasilannya dari keuntungan
jualan kira-kira 1 juta sebulan. Dari uang itu dia gunakan untuk makan dan
bayar kost-an, sisanya dibawa pulang untuk keluarga, “Ya cukup-ngga cukup harus
cukup” katanya setelah saya tanya apakah cukup keuntungan segitu. Saya juga
bertanya, kenapa tidak bekerja yang lain, dia menjawab dulunya adalah pedagang
kredit keliling, namun bangkrut. Akhirnya memutuskan untuk menjadi pedagang
asongan. Sebenarnya pak Iwan juga mau kerja yang lain kalau ada, tidak mau
kerja seperti ini terus capek, tapi sekarang adanya ini. Pak Iwan hanya
berjualan di sekitar sini saja, tidak di tempat yang lain. Ada beberapa
temannya yang juga jualan di sekitar sini. Pak Iwan jualan dari pagi sampai jam
delapan malam. Setelah saya tanya kedepannya apakah berencana kerja yang lain,
dia menjawab pasti mau, pak Iwan ngga mau kerja seperti ini terus kalau ada
kerja yang lain yang lebih baik pasti mau. Saya juga bertanya tentang kondisi
pasar minggu dari sisi keamanan. Karena saya lihat, di sisi jalan raya yang
gelap, selain deretan tukang ojek, juga banyak muda mudi jalanan yang
duduk-duduk entah apa yang dikerjakan. Tak banyak yang bisa pak Iwan jelaskan,
jawabannya mengisaratkan bahwa pasar minggu aman-aman saja.
Menurut saya, narasumber yang saya
dapati kurang antusias, kurang suka ngobrol, menjawabnya hanya sepatah-dua
patah kata, bisa dibilang judes atau ketus. Atau mungkin karena capek berjualan
dari pagi sampai malam, yang saya lihat tatap matanya seperti lelah atau
entahlah. Atau mungkin bisa jadi saya yang kurang bisa mengajak ngobrol. Tapi,
apapun itu, intinya bahwa betapa susah hidup mereka para kaum marjinal: tukang
sampah, pemulung atau pedagang asongan. Keuntungan yang didapat dengan tenaga
dan waktu yang harus dihabiskan seolah tidak sebanding. Saya tak punya banyak
waktu lagi untuk ngobrol atau berdialog dengan pedagang lain, karena takut kemaleman.
Sesegera setelah minta foto, berterimakasih, memberi sedikit uang, dan
berpamitan, saya bergegas menuju ke stasiun untuk pulang. Satu info, bahwa
sedari saya keliling pasar minggu saya tidak menemui pengemis. Entah karena
sudah sore, atau kebetulan sedang tidak ada pengemis, atau memang benar-benar
jarang pengemis, saya kurang tahu, dan pasar minggu itu kesannya kotor, kurang
terrawat.
*Fotonya kepotong di bagian muka.
Saya minta tolong salah satu orang pedagang di situ untuk memfoto saya dan pak
Iwan, namun berkali-kali gagal karena si pedagang tadi tidak bisa. Akhirnya
saya sudahi saja, dengan foto tadi. Foto kedua adalah tempat penjual buah yang
disampingnya ada kakek-kakek gelandangan, tepat diseberang saya wawancara
dengan narasumber ke-2, pak Iwan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar