Minggu, 28 Februari 2016

Wawancara Kaum Marjinal


       Langit sore sayup-sayup meredup, awan-gemawan berarakan seolah mengiringi mentari yang hendak pulang ke peraduan. Kereta Listrik (KRL) jurusan Jakarta mengantarkan saya pada suatu pemberhentian di dekat sebuah pusat perbelanjaan yang mana di situ terpampang tulisan, “Stasiun Pasar Minggu”. Ya, tak  asing memang nama stasiun tersebut khususnya bagi warga yang tinggal disekitar kota Depok, karena jaraknya yang tak jauh melainkan hanya 5 stasiun pemberhentian. Sekeluarnya dari halte stasiun, tampak sederetan tukang ojek yang sedang berebut menawarkan jasa angkutannya kepada siapapun yang melintas meski tak jarang di antara mereka yang bahkan enggan meski hanya untuk sekedar menoleh, karena memang mereka tidak berniat untuk naik ojek. Seperti halnya saya, berlalu tanpa berkata sedikitpun, kecuali hanya melambaikan tangan sebagai isyarat bahwa saya tidak hendak naik ojek. Kuayunkan kakiku menerobos jalan kecil yang padat oleh pejalan kaki hendak keluar maupun mau masuk dari dan  ke stasiun. Deretan tukang ojek berlalu, kini digantikan dengan sederetan ibu-ibu yang menjajakan aneka makanan yang kebanyakan adalah buah-buahan. Langkahku terus melaju menuju jalan raya, tujuanku ialah pusat keramaian di sekitar pusat perbelanjaan Pasar Minggu yang mana tepat berada di seberang jalan dimana aku sedang berdiri saat ini. Saya berharap akan segera menemukan seseorang yang tepat untuk saya wawancarai.
          Kini saya sudah tepat berada di depan pasar minggu, di bawah gedung yang bertuliskan “Robinson”. Suara bising kendaraan, orang-orang yang bercakap, pedagang asongan, sopir angkot, dan suara sales supermarket yang menawarkan aneka diskon dengan menggunakan pengeras suara, menjejali telinga membuat saya ingin cepat-cepat enyah dari tempat itu. Namun saya harus menemukan seseorang yang tepat untuk saya wawancarai. Saya berjalan menyusuri pinggir pasar. Terlihat ibu-ibu yang menjual perabotan rumah tangga, pedagang buah-buahan, serta banyak tukang dagang lain yang luput dari perhatian saya. Saya terus berjalan, mencari tukang sampah, pemulung atau mungkin pengemis, atau pedagang entah lah nanti siapa yang saya temui dan saya merasa orang itu tepat untuk saya wawancarai. Nampaknya waktu maghrib hendak tiba. Lalu saya balik arah, masuk menuju dalam pasar. Sebagian kios sudah pada tutup, kios penjual emas masih terlihat ramai, dan disamping kanan penjual sayur-sayuran sedang mengangkat-angkat dagangannya, entah mau tutup atau hendak jualan di malam hari. Saya terus berjalan hingga menembus ujung pasar, belok ke kanan melalui jalan raya, lalu menuju pasar buah-buahan, saya belum menemukan seseorang yang saya hendak wawancarai. Azan berkumandang, terdengar tak jauh dari tempat saya berdiri saat ini. Setelah menelusuri gang kecil akhirnya saya temukan mushala. Saya shalat maghrib di situ.  

Seorang kakek-kakek, duduk dipinggir sebuah gedung di sampingnya adalah penjual buah-buahan, tampak ia sedang membersihkan tangan dan kakinya dengan air mineral dalam botol, lalu mengoleskan balsam ke kaki dan jari-jemari tangannya. Disampingnya ada sebatang sapu, dan kantong plastih besar, serta karung. Saya fikir dia adalah tukang sapu, atau bisa jadi tukang sapu sukarela. Setelah saya nyalakan “Voice recorder” di smartphone, dan kemudian saya simpan di saku kemeja, dengan sedikit keberanian saya beranikan diri menghampiri kakek tersebut. Setelah menyapa dan sedikit basa basi, kakek tersebut mengiyakan untuk saya ajak ngobrol, lalu saya memperkenalkan diri. Dari percakapan singkat saya memperoleh informasi nama kakek tersebut adalah Suharja, asalnya dari Cirebon. Kata-katanya kurang jelas, dan menjawabnya hanya sepatah dua patah kata. Tiba-tiba saya ditegor oleh pedagang buah di samping saya. “Sedang apa ini?” Saya mendekat pedagang buah tersebut, darinya saya tahu bahwa ternyata kakek yang sedang saya wawancarai tadi adalah seorang gelandangan, pedagang buah tersebut nampaknya risih dengan keberadaan kakek-kakek gelandangan tadi, dan menduga kalau saya adalah salah satu keluarga kakek-kakek tersebut, dan jika demikian saya disuruhnya membawa pulang. Namun saya jelaskan, saya bukan keluarganya, hanya ingin sedikit ngobrol dan cari tahu tentang kakek tadi. Setelah minta ijin, saya lanjutkan pembicaraan dengan kakek gelandangan tadi. Saya tanya dimana keluarganya, apa pekerjaannya, pernah kerja dimana. Jawabannya masih sama, sedikit kurang jelas dan terlalu singkat. Kakek tersebut mengaku tinggal di dekat perikanan, (saya kurang tahu daerah mana itu, setelah saya googling di rumah, ternyata ada Sekolah Tinggi Perikanan di daerah pasar minggu, mungkin itu yang dimaksud kakek tadi). Si kakek pernah bekerja di kehutanan, menanam pohon di dekat rel kereta katanya, di sini sudah dua bulan, dan tidak bekerja, cuma nyapu-nyapu sama tidur di tempat emperan sebuah gedung dekat penjual buah tadi. Setelah saya tanya lebih lanjut, mengenai keluarganya, dan apakah mereka tidak mencari si kakek, jawabannya tidak sesuai dengan apa yang saya maksudkan, kurang jelas dan rada ngelantur. Saya cuma manggut, manggut saja. Merasa kurang tepat mewawancarai orang ini, setelah si kakek selesai bicara, saya putuskan untuk menyudahi wawancara ini. Tentunya setelah saya berpamitan dan mengucapkan terimakasih, dan tak lupa memberikan sedikit uang yang mungkin akan berguna bagi si kakek.
          Sedikit berjalan kearah balik, tengak-tengok kanan kiri, saya lihat seorang pedagang asongan yang sedang duduk di bawah lampu jalan raya, dia duduk di beton pembatas anatara dua jalan yang berlawanan arah. Dia mengenakan topi, nampaknya sedang sepi pembeli, dari tadi saya lewat belum satupun saya lihat ada orang yang menghampirinya. Jalanan masih cukup sepi, mungkin karena masih baru selesai maghrib. Saya menghampirinya untuk membeli permen nano-nano. Lalu saya minta izin untuk kebersediannya saya ajak ngobrol sebentar. Bapak tersebut bersedia. Dari obrolan, saya tahu namanya adalah pak Iwan. Asalnya dari Tasik Malaya. Sudah bertahun-tahun jadi pedagang asongan, 5 tahun-an. Pak iwan menjual permen nano-nano, hexos, tolak angina, korek api, rokok, tisu, dan masker. Dia membeli di grosiran dan menjualnya kembali dengan harga ada yang dua kali lipat ada yang diambil untungnya seribu saja karena harga belinya rada tinggi. Seperti halnya permen nano-nano, harga per karton terdiri dari 10 pak, menjual eceran dengan harga 3.000 per sashet, dengan untung dua kali lipat. Jadi jika terjual semua pak Iwan untung 36 ribu. Pak Iwan memiliki dua orang anak, masih sekolah SMP. Setiap sebulan sekali dia pualng ke Tasik. Di sini tinggalnya di kostan di daerah pasar minggu, “deket sini” katanya. Penghasilannya dari keuntungan jualan kira-kira 1 juta sebulan. Dari uang itu dia gunakan untuk makan dan bayar kost-an, sisanya dibawa pulang untuk keluarga, “Ya cukup-ngga cukup harus cukup” katanya setelah saya tanya apakah cukup keuntungan segitu. Saya juga bertanya, kenapa tidak bekerja yang lain, dia menjawab dulunya adalah pedagang kredit keliling, namun bangkrut. Akhirnya memutuskan untuk menjadi pedagang asongan. Sebenarnya pak Iwan juga mau kerja yang lain kalau ada, tidak mau kerja seperti ini terus capek, tapi sekarang adanya ini. Pak Iwan hanya berjualan di sekitar sini saja, tidak di tempat yang lain. Ada beberapa temannya yang juga jualan di sekitar sini. Pak Iwan jualan dari pagi sampai jam delapan malam. Setelah saya tanya kedepannya apakah berencana kerja yang lain, dia menjawab pasti mau, pak Iwan ngga mau kerja seperti ini terus kalau ada kerja yang lain yang lebih baik pasti mau. Saya juga bertanya tentang kondisi pasar minggu dari sisi keamanan. Karena saya lihat, di sisi jalan raya yang gelap, selain deretan tukang ojek, juga banyak muda mudi jalanan yang duduk-duduk entah apa yang dikerjakan. Tak banyak yang bisa pak Iwan jelaskan, jawabannya mengisaratkan bahwa pasar minggu aman-aman saja.
Menurut saya, narasumber yang saya dapati kurang antusias, kurang suka ngobrol, menjawabnya hanya sepatah-dua patah kata, bisa dibilang judes atau ketus. Atau mungkin karena capek berjualan dari pagi sampai malam, yang saya lihat tatap matanya seperti lelah atau entahlah. Atau mungkin bisa jadi saya yang kurang bisa mengajak ngobrol. Tapi, apapun itu, intinya bahwa betapa susah hidup mereka para kaum marjinal: tukang sampah, pemulung atau pedagang asongan. Keuntungan yang didapat dengan tenaga dan waktu yang harus dihabiskan seolah tidak sebanding. Saya tak punya banyak waktu lagi untuk ngobrol atau berdialog dengan pedagang lain, karena takut kemaleman. Sesegera setelah minta foto, berterimakasih, memberi sedikit uang, dan berpamitan, saya bergegas menuju ke stasiun untuk pulang. Satu info, bahwa sedari saya keliling pasar minggu saya tidak menemui pengemis. Entah karena sudah sore, atau kebetulan sedang tidak ada pengemis, atau memang benar-benar jarang pengemis, saya kurang tahu, dan pasar minggu itu kesannya kotor, kurang terrawat.

*Fotonya kepotong di bagian muka. Saya minta tolong salah satu orang pedagang di situ untuk memfoto saya dan pak Iwan, namun berkali-kali gagal karena si pedagang tadi tidak bisa. Akhirnya saya sudahi saja, dengan foto tadi. Foto kedua adalah tempat penjual buah yang disampingnya ada kakek-kakek gelandangan, tepat diseberang saya wawancara dengan narasumber ke-2, pak Iwan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar