Rabu, 07 Juni 2017

(Two Direction) Thin Metal Plate Bend


Alat ini diperlukan untuk menekuk plat aluminium tipis dengan ketebalan maksimum 2 mm. Perbedaan alat ini dengan alat yang sudah ada adalah alat ini bisa digunakan untuk menekuk plat logam secara dua arah, baik ke bawah maupun ke atas. Hal ini diperlukan ketika kita hendak membuat struktur zig-zag atau kotak bergelombang. 

Cara kerja alat penekuk konvensional: apabila kita ingin menekuk sebuah pelat dengan arah ke atas, maka plat tipis diletakan di atas penyangga/dibawah logam penjepit. Posisi logam penekuk sejajar dengan logam penyangga, dengan demikian posisi plat tipis dari logam penekuk adalah berada diatasnya. lalu tuas penekuk didorong ke atas.


Hasil gambar untuk thin plate benderGambar 1. Penekuk pelat konvensional 

Sementara itu, jika kita ingin menekuk ke arah bawah, maka posisi penekuk harus berada  di atas penyangga/dibawah penjepit. Yang mana dalah hal ini posisi logam penekuk sejajar dengan penjepit, sehingga posisi plat tipis jika ditinjau dari posisi logam penekuk berada di bawahnya.

Memang, jika pelat yang hendak kita buat hanya sebatas pelat datar, tinggal dibalik saja pelatnya, lalu kita sudah mendapatkan hasil tekukan ke arah yang berlawanan.

Akan tetapi, jika struktur yang kita ingin buat cukup rumit, semisal kotak bergelombang, maka diperlukan dua alat dengan masing-masing fungsi seperti di atas.

gambar 2. Contoh hasil tekuk pelat


Disini kami menggabungkan dua fungsi alat sekaligus, bisa digunakan untuk menekuk ke bawah maupun ke atas. Inovasinya, kami menambahkan satu pelat tebal ditengah-tengah antara logam penyangga dan logam penjepit, sementara itu logam penekuk berada sejajar dengan logam tengah tersebut. 

gambar 3. Bagian-gagian alat


Jika kita ingin menekuk ke atas, maka plat tipis disisipkan di atas logam tengah dan di bawah logam penjepit. Karena letak logam penekuk berada sejajar dengan logam tengah, maka posisi plat tipis berada di atas logam penekuk, lalu tuas penekuk didorong (rotasi) ke atas, maka pelat tipis akan menekuk ke atas. Sebaliknya jika kita hendak menekuk ke bawah, maka plat tipis harus diletakan di bawah plat tengah, dan diatas plat penyangga.



Kamis, 03 Maret 2016

Tukang Kue Cubit

Interview Kaum Marginal

          Senin, 15 Februari 2016 penulis mendapat tugas pertama mata kuliah Etika Engineering atau Etika Terpuji. Tugas tersebut adalah mewawancarai para kaum marginal. Untuk memenuhi tugas tersebut, saya sempat memilih seorang preman di daerah Tanah Abang. Namun dikarenakan beberapa hal, maka saya tidak jadi memilih orang tersebut sebagai responden.
          Dalam keadaan bingung, saya menemani bunda saya ke Pasar Mayestik. Saat sedang menunggu disana, saya melihat seorang penjual kue cubit yang sudah cukup tua sedang berbicara dengan seseorang anak muda, dan pada akhir pertemuan itu anak muda menyalimi penjual tersebut. Segera saya memutuskan untuk menjadikan penjual kue cubit itu sebagai responden interview ini. Berikut adalah percakapan yang telah saya lakukan bersama penjual kue cubit tersebut.

Saya                      : "Pak!"
Penjual kue cubit   :" Yaa, boleh dek."
Saya                      : "Mau beli kue cubitnya dong."
Penjual kue cubit   : "Hayuk dibeli, mau beli berapa?"
Saya                      : "1 saja, harganya berapaan?"
Penjual kue cubit   : "Kue cubitnya 10 ribu untuk 1 porsinya."
Saya                      : "Yasudah saya beli. Tapi setengah matang ya, bisa ga pak?"
Penjual kue cubit  : "Oh bisa bisa. Ini pas sekali yang setengah matang sudah hampir jadi."
Saya                : "Wah, jangan yang itu pak, keliatannya sudah terlalu matang tuh."
Penjual kue cubit   : "Ah engga kok dek, tuh lihat."
Saya                      : "Ohiya yaa."
Saya                    : "Pak, saya sekalian numpang makan di gerobak bapak yah, saya butuh tempat untuk makan sekalian menunggu ibu yang sedang berbelanja."
Penjual kue cubit   : "Oh iya iya boleh, silahkan, ini ada tempat duduk dek."
Saya                      : "Oke pak."
"Waduh ini cuacanya dari pagi mendung terus yah. Disini udah ujan belom pak? Apa baru akan hujan?"
Penjual kue cubit   : "Disini mah baru selesai ujannya tadi, ini juga saya baru mulai jualan lagi tadi meneduh dulu."
Saya                 : "Owalah, memang bapak disini dari kapan? siang-siang atau dari pagi?"
Penjual kue cubit   : "Saya mah disini dari pagi dek."
Saya                : "Memang biasanya bapak jualan disini setiap hari atau berpindah-pindah?"
Penjual kue cubit   : "Oh, saya setiap harinya disini, memang sudah dari dulu."
Saya                      : "Sejak kapan bapak berjualan disini?"
Penjual kue cubit  : "Wah sudah lama sekali. Saya sudah berjualan di pasar ini sejak tahun 80."
Saya                    : "Wah, sudah lama sekali ya, sudah 36 tahun. Asal bapak dari mana?"
Penjual kue cubit   : "Saya mah orang Singapur dek."
Saya                      : "Hah? Yakin pak? Ini seriusan?"
Penjual kue cubit    : "Haha, Singaparna maksudnya dek."
Saya                   : "Owalah. Jadi bapak pertama datang ke Jakarta langsung berjualan kue cubit di pasar ini pak?"
Penjual kue cubit : "Tidak dek, saya dulu pernah jualan bakso juga di daerah Tanah Abang."
Saya                     : "Loh terus kenapa berganti menjadi kue cubit? Sekarang masih ada yang melanjutkan kah baksonya?"
Penjual kue cubit : "Yaa karena di Tanah Abang pada saat itu sudah terlalu banyak penjual baksonya. Sepanjang jalan terlalu penuh dan terlalu banyak saingan. Sehingga saya memutuskan untuk berhenti berjualan bakso, lalu mencari ide berjualan lainnya."
Saya                   : "Terus, bagaimana bapak memutuskan untuk berjualan kue cubit pak? Bagaimana juga bapak memutuskan untuk berjualan di Pasar Mayestik ini?"
Penjual kue cubit  : "Jadi gini dek, tahun 1972 itu saya pertama kali datang ke Jakarta dengan modal nekat aja. Dari kampung ke sini naik bis 1 hari 1 malam dari Singaparna ke Jakarta."
"Sesampainya di Jakarta, saya bingung dek. Kenapa? Karena saya sama sekali tidak punya saudara atau kenalan. Jadi saya tidak tahu mau tinggal dimana,  mau ngapain dan sama siapa. Saya sempat tidur di teras-teras seperti ini. Sampai dengan beberapa hari  baru saya mendapatkan kontrakan yang saya tinggali  sampai saat ini.
Setelah mencari kontrakan yang bisa ditunggak bayarannya, saya cari modal untuk jualan bakso, karena saya pikir semua orang menyukai bakso. Namun ternyata saya kurang bisa berjualan bakso karena alasan tadi."
"Setelah memutuskan berhenti berjualan bakso, saya jalan-jalan ke pasar dekat kontrakan. Saat di pasar saya melihat cetakan kue cubit yang sebelumnya saya tidak tahu apa itu, lalu saya bertanya kepada penjualnya. Penjual tersebut lalu menjelaskan apa sebenarnya barang itu serta bagaimana cara membuat kue cubit, memang penjualnya sangat baik membagi ilmunya yang saya bisa terapkan sampai sekarang. Nah mulai saat itu yaitu tahun 80, saya mulai berjualan kue cubit."
"Saya sih berjualan di pasar ini karena Pasar Mayestik ini cukup ramai namun lebih dekat dari kontrakan saya di daerah Rumbai dibandingkan dengan Pasar Tanah Abang."
Saya                   : "Oh begitu ceritanya. Terus kira-kira bapak akan ganti-ganti jualan lagi ga nih? Apa bapak sudah merasa cukup dengan jualan kue cubit ini?"
Penjual kue cubit  : "Alhamdulillah sepertinya sudah cukup, sekarang saya sudah punya anak buah juga yang berjualan, 1 di pasar minggu 1 di bekasi, 1 lagi di tebet. Namun saya tidak akan berpuas diri, mungkin saya akan cari anak buah lagi untuk bantu-bantu saya sekalian saya mengerjakan orang-orang sekitar kontrakan saya."
Saya                : "Wah ternyata bapak ini hebat juga yah, sudah jadi juragan sepertinya haha. Apa bapak tidak berminat berjualan di kafe atau rumah makan tertentu?"
Penjual kue cubit : "Dulu pernah berjualan di kafe, 1 hari dibayar tujuh ratus ribu rupiah per hari, namun disamping untungnya lebih kecil, yang beli juga sedikit. Jadi jualannya kurang puas gitu loh dek hahaha. Yaa jadinya saya kembali berjualan di pasar-pasar dan tempat ramai di jalan saja."
Saya                  : "Wah kalau begitu penghasilan bapak ini besar juga yah Alhamdulillah. Yang tadi itu siapa pak? Anak bapak?"
Penjual kue cubit : "Yaa Alhamdulillah lah hehe. Iya dek itu anak saya, lagi main-main di Jakarta, dari kampung"
Saya                      : "Sudah besar ya. Punya berapa anak pak?"
Penjual kue cubit : "Saya sudah punya 5 anak laki-laki dan 2 anak perempuan, serta 9 orang cucu. Alhamdulillah dengan berjualan seperti ini saya berhasil menyekolahkan sampai dengan lulus SMA semua, kecuali yang terakhir masih kelas 2 SMA. 2 yang paling besar ada di Jakarta namun tidak tinggal bersama saya karena sudah berkeluarga dan punya profesi masing-masing."
Saya                    : "Banyak sekali, tapi istrinya tetap cuma 1 kan pak? hahaha. Seberapa sering bapak pulang kampung bertemu keluarga? Bapak tidak tinggal bersama keluarga kan?"
Penjual kue cubit   : "Tidak, saya tinggal sendirian di Jakarta, pulangnya yaa tergantung, tergantung kapan punya uang untuk pulang kampungnya."
Saya                      : "Selama bapak berjualan, ada dukanya ga pak?"
Penjual kue cubit    : "Alhamdulillah selama saya berjualan selalu senang terus. Apalagi di pasar yang sudah rapi seperti saat-saat ini, sudah tidak ada yang macam-macam lagi seperti jaman dulu. Kalau sekarang mah enak, tinggal bayar uang sewa ke kepala pasar aja sudah pasti aman dari preman ataupun dari razia. Tidak seperti jaman dulu yang harus bayar ke preman pasar, bahakan bayarannya bisa lebih dari satu kali, belom lagi yang harus menghindar dari razia yang dilakukan sama aparat. Kalau ada razia seperti itu, yasudah kita para penjual dapat kabar burung lalu menyebarkannya dan meliburkan diri saja."
Saya                   : "Oh seperti itu ya, Alhamdulillah kalau begitu. Ohiya pak, maaf nih pak, ibu saya sudah menghubungi saya untuk menemui dia karena dia sudah selesai berbelanja. Terimakasih nih pa katas obrolan serunya dan kue cubit enaknya. Ohiya, belom “afdol” nih pak kalau kita belum kenalan. Saya Fikar, 20 tahun. Bapak?"
Penjual kue cubit  : "Wah okedeh dek kalau begitu, sayang sekali yah cuma mengobrol sedikit saja. Saya Asep, 58 tahun."
Saya                 : "Hampir lupa pak, bolehkah saya berfoto dengan bapak, sekalian untuk tugas yang diberikan di kampus nih."
Penjual kue cubit   : "Oh boleh kok boleh boleh."
Saya                 : "Okedeh pak, terimakasih. Semoga jualannya selalu sukses dan semakin sukses terus jadi juragan kue cubit."

          Pelajaran yang saya dapat dari interview ini cukup banyak, dan pelajaran yang saya dapatkan tidaklah textbook atau hafalan, melainkan berdasarkan pengalaman yang lebih menarik.
1.     Dengan niat dan kesungguhan hati serta kesabaran adalah kunci kesuksesan.
2.    Menjadi orang tidak boleh mudah puas diri, sehingga bisa terus berkembang.
3.    Pendapatan besar mudah dicari, hal tersebut tidak membedakan kita dengan orang-orang yang terlihat “marginal”. Sebagai engineer kita harus melakukan sesuatu untuk membantu kehidupan orang banyak bahkan negara Indonesia.

Minggu, 28 Februari 2016

Wawancara Kaum Marjinal


       Langit sore sayup-sayup meredup, awan-gemawan berarakan seolah mengiringi mentari yang hendak pulang ke peraduan. Kereta Listrik (KRL) jurusan Jakarta mengantarkan saya pada suatu pemberhentian di dekat sebuah pusat perbelanjaan yang mana di situ terpampang tulisan, “Stasiun Pasar Minggu”. Ya, tak  asing memang nama stasiun tersebut khususnya bagi warga yang tinggal disekitar kota Depok, karena jaraknya yang tak jauh melainkan hanya 5 stasiun pemberhentian. Sekeluarnya dari halte stasiun, tampak sederetan tukang ojek yang sedang berebut menawarkan jasa angkutannya kepada siapapun yang melintas meski tak jarang di antara mereka yang bahkan enggan meski hanya untuk sekedar menoleh, karena memang mereka tidak berniat untuk naik ojek. Seperti halnya saya, berlalu tanpa berkata sedikitpun, kecuali hanya melambaikan tangan sebagai isyarat bahwa saya tidak hendak naik ojek. Kuayunkan kakiku menerobos jalan kecil yang padat oleh pejalan kaki hendak keluar maupun mau masuk dari dan  ke stasiun. Deretan tukang ojek berlalu, kini digantikan dengan sederetan ibu-ibu yang menjajakan aneka makanan yang kebanyakan adalah buah-buahan. Langkahku terus melaju menuju jalan raya, tujuanku ialah pusat keramaian di sekitar pusat perbelanjaan Pasar Minggu yang mana tepat berada di seberang jalan dimana aku sedang berdiri saat ini. Saya berharap akan segera menemukan seseorang yang tepat untuk saya wawancarai.
          Kini saya sudah tepat berada di depan pasar minggu, di bawah gedung yang bertuliskan “Robinson”. Suara bising kendaraan, orang-orang yang bercakap, pedagang asongan, sopir angkot, dan suara sales supermarket yang menawarkan aneka diskon dengan menggunakan pengeras suara, menjejali telinga membuat saya ingin cepat-cepat enyah dari tempat itu. Namun saya harus menemukan seseorang yang tepat untuk saya wawancarai. Saya berjalan menyusuri pinggir pasar. Terlihat ibu-ibu yang menjual perabotan rumah tangga, pedagang buah-buahan, serta banyak tukang dagang lain yang luput dari perhatian saya. Saya terus berjalan, mencari tukang sampah, pemulung atau mungkin pengemis, atau pedagang entah lah nanti siapa yang saya temui dan saya merasa orang itu tepat untuk saya wawancarai. Nampaknya waktu maghrib hendak tiba. Lalu saya balik arah, masuk menuju dalam pasar. Sebagian kios sudah pada tutup, kios penjual emas masih terlihat ramai, dan disamping kanan penjual sayur-sayuran sedang mengangkat-angkat dagangannya, entah mau tutup atau hendak jualan di malam hari. Saya terus berjalan hingga menembus ujung pasar, belok ke kanan melalui jalan raya, lalu menuju pasar buah-buahan, saya belum menemukan seseorang yang saya hendak wawancarai. Azan berkumandang, terdengar tak jauh dari tempat saya berdiri saat ini. Setelah menelusuri gang kecil akhirnya saya temukan mushala. Saya shalat maghrib di situ.  

Seorang kakek-kakek, duduk dipinggir sebuah gedung di sampingnya adalah penjual buah-buahan, tampak ia sedang membersihkan tangan dan kakinya dengan air mineral dalam botol, lalu mengoleskan balsam ke kaki dan jari-jemari tangannya. Disampingnya ada sebatang sapu, dan kantong plastih besar, serta karung. Saya fikir dia adalah tukang sapu, atau bisa jadi tukang sapu sukarela. Setelah saya nyalakan “Voice recorder” di smartphone, dan kemudian saya simpan di saku kemeja, dengan sedikit keberanian saya beranikan diri menghampiri kakek tersebut. Setelah menyapa dan sedikit basa basi, kakek tersebut mengiyakan untuk saya ajak ngobrol, lalu saya memperkenalkan diri. Dari percakapan singkat saya memperoleh informasi nama kakek tersebut adalah Suharja, asalnya dari Cirebon. Kata-katanya kurang jelas, dan menjawabnya hanya sepatah dua patah kata. Tiba-tiba saya ditegor oleh pedagang buah di samping saya. “Sedang apa ini?” Saya mendekat pedagang buah tersebut, darinya saya tahu bahwa ternyata kakek yang sedang saya wawancarai tadi adalah seorang gelandangan, pedagang buah tersebut nampaknya risih dengan keberadaan kakek-kakek gelandangan tadi, dan menduga kalau saya adalah salah satu keluarga kakek-kakek tersebut, dan jika demikian saya disuruhnya membawa pulang. Namun saya jelaskan, saya bukan keluarganya, hanya ingin sedikit ngobrol dan cari tahu tentang kakek tadi. Setelah minta ijin, saya lanjutkan pembicaraan dengan kakek gelandangan tadi. Saya tanya dimana keluarganya, apa pekerjaannya, pernah kerja dimana. Jawabannya masih sama, sedikit kurang jelas dan terlalu singkat. Kakek tersebut mengaku tinggal di dekat perikanan, (saya kurang tahu daerah mana itu, setelah saya googling di rumah, ternyata ada Sekolah Tinggi Perikanan di daerah pasar minggu, mungkin itu yang dimaksud kakek tadi). Si kakek pernah bekerja di kehutanan, menanam pohon di dekat rel kereta katanya, di sini sudah dua bulan, dan tidak bekerja, cuma nyapu-nyapu sama tidur di tempat emperan sebuah gedung dekat penjual buah tadi. Setelah saya tanya lebih lanjut, mengenai keluarganya, dan apakah mereka tidak mencari si kakek, jawabannya tidak sesuai dengan apa yang saya maksudkan, kurang jelas dan rada ngelantur. Saya cuma manggut, manggut saja. Merasa kurang tepat mewawancarai orang ini, setelah si kakek selesai bicara, saya putuskan untuk menyudahi wawancara ini. Tentunya setelah saya berpamitan dan mengucapkan terimakasih, dan tak lupa memberikan sedikit uang yang mungkin akan berguna bagi si kakek.
          Sedikit berjalan kearah balik, tengak-tengok kanan kiri, saya lihat seorang pedagang asongan yang sedang duduk di bawah lampu jalan raya, dia duduk di beton pembatas anatara dua jalan yang berlawanan arah. Dia mengenakan topi, nampaknya sedang sepi pembeli, dari tadi saya lewat belum satupun saya lihat ada orang yang menghampirinya. Jalanan masih cukup sepi, mungkin karena masih baru selesai maghrib. Saya menghampirinya untuk membeli permen nano-nano. Lalu saya minta izin untuk kebersediannya saya ajak ngobrol sebentar. Bapak tersebut bersedia. Dari obrolan, saya tahu namanya adalah pak Iwan. Asalnya dari Tasik Malaya. Sudah bertahun-tahun jadi pedagang asongan, 5 tahun-an. Pak iwan menjual permen nano-nano, hexos, tolak angina, korek api, rokok, tisu, dan masker. Dia membeli di grosiran dan menjualnya kembali dengan harga ada yang dua kali lipat ada yang diambil untungnya seribu saja karena harga belinya rada tinggi. Seperti halnya permen nano-nano, harga per karton terdiri dari 10 pak, menjual eceran dengan harga 3.000 per sashet, dengan untung dua kali lipat. Jadi jika terjual semua pak Iwan untung 36 ribu. Pak Iwan memiliki dua orang anak, masih sekolah SMP. Setiap sebulan sekali dia pualng ke Tasik. Di sini tinggalnya di kostan di daerah pasar minggu, “deket sini” katanya. Penghasilannya dari keuntungan jualan kira-kira 1 juta sebulan. Dari uang itu dia gunakan untuk makan dan bayar kost-an, sisanya dibawa pulang untuk keluarga, “Ya cukup-ngga cukup harus cukup” katanya setelah saya tanya apakah cukup keuntungan segitu. Saya juga bertanya, kenapa tidak bekerja yang lain, dia menjawab dulunya adalah pedagang kredit keliling, namun bangkrut. Akhirnya memutuskan untuk menjadi pedagang asongan. Sebenarnya pak Iwan juga mau kerja yang lain kalau ada, tidak mau kerja seperti ini terus capek, tapi sekarang adanya ini. Pak Iwan hanya berjualan di sekitar sini saja, tidak di tempat yang lain. Ada beberapa temannya yang juga jualan di sekitar sini. Pak Iwan jualan dari pagi sampai jam delapan malam. Setelah saya tanya kedepannya apakah berencana kerja yang lain, dia menjawab pasti mau, pak Iwan ngga mau kerja seperti ini terus kalau ada kerja yang lain yang lebih baik pasti mau. Saya juga bertanya tentang kondisi pasar minggu dari sisi keamanan. Karena saya lihat, di sisi jalan raya yang gelap, selain deretan tukang ojek, juga banyak muda mudi jalanan yang duduk-duduk entah apa yang dikerjakan. Tak banyak yang bisa pak Iwan jelaskan, jawabannya mengisaratkan bahwa pasar minggu aman-aman saja.
Menurut saya, narasumber yang saya dapati kurang antusias, kurang suka ngobrol, menjawabnya hanya sepatah-dua patah kata, bisa dibilang judes atau ketus. Atau mungkin karena capek berjualan dari pagi sampai malam, yang saya lihat tatap matanya seperti lelah atau entahlah. Atau mungkin bisa jadi saya yang kurang bisa mengajak ngobrol. Tapi, apapun itu, intinya bahwa betapa susah hidup mereka para kaum marjinal: tukang sampah, pemulung atau pedagang asongan. Keuntungan yang didapat dengan tenaga dan waktu yang harus dihabiskan seolah tidak sebanding. Saya tak punya banyak waktu lagi untuk ngobrol atau berdialog dengan pedagang lain, karena takut kemaleman. Sesegera setelah minta foto, berterimakasih, memberi sedikit uang, dan berpamitan, saya bergegas menuju ke stasiun untuk pulang. Satu info, bahwa sedari saya keliling pasar minggu saya tidak menemui pengemis. Entah karena sudah sore, atau kebetulan sedang tidak ada pengemis, atau memang benar-benar jarang pengemis, saya kurang tahu, dan pasar minggu itu kesannya kotor, kurang terrawat.

*Fotonya kepotong di bagian muka. Saya minta tolong salah satu orang pedagang di situ untuk memfoto saya dan pak Iwan, namun berkali-kali gagal karena si pedagang tadi tidak bisa. Akhirnya saya sudahi saja, dengan foto tadi. Foto kedua adalah tempat penjual buah yang disampingnya ada kakek-kakek gelandangan, tepat diseberang saya wawancara dengan narasumber ke-2, pak Iwan.

Jumat, 26 Februari 2016

Pengingkar janji



Pengingkar janji

Tak berlebihan jika disebut demikian, pasalnya berulang kali bertekat untuk berubah masih saja begitu.

Sepertinya mudah sekali amnesia. Atau seperti dua pribadi yang berbeda. Padahal, benar-benar rasa sesal itu ada tatkala sadar akan kesalahan.

Akan tetapi entah apa yang dirasa tatkala dengan sadar kembali lagi berbuat salah, seolah2 itu baru pertama kali berbuat.

Memang, hanya manusia yang terjebak di lubang yang sama.

Lalu apa? Mau nyerah? Malu pasti berjanji tidak berbuat salah lagi. Takut mengingkari lagi benar?

Anda tak harus berjanji, buktikan dengan tindakan, sambil berdoa dan minta maaf atas kesalahan2 yang telah lalu. Berusahalah keras untuk berubah, Allah maha pengampun. İnsyaİnsyaallah.

Selasa, 15 Desember 2015

Anak Kecil Perlu Pembiasaan



Picture: Ryan (kiri pembaca), Ari (kanan).Sumber: Doc. Pribadi
Masa kanak-kanak adalah masa bermain. Ya, mereka hanya bermain. Tidak ada kewajiban yang harus dikerjakan atau amanah yang harus diemban. Keceriaan selalu mengiringi hari-hari mereka, tak kenal apa itu sedih, pun ketika mereka terluka dan tersakiti mereka akan menangis sebentar saja, setelah itu mereka ceria dan tertawa sepuasnya.

Wajahnya yang entah kenapa, mampu membuat semua orang sayang kepadanya. Serasa ingin menggendongnya, mencium pipinya yang lucu, mengajaknya berbicara meski belum bisa berbicara, serta mengajaknya tersenyum dan tertawa, itulah respon setiap orang yang menjumpainya. Remaja putri yang tomboy sekalipun mendadak berubah menjadi ke-ibuan tatkala melihat wajah si mungil yang menggemaskan itu. Bagaimana mungkin, sosok manusia yang paling lemah, akan tetapi mereka mendapat rizki yang terbaik di alam semesta ini berupa ASI, serta kedatangannya disambut hangat oleh seluruh alam? Jawabanya adalah: karena sifat Tuhan Ar-rahman, Yang Maha Mengasihi.

Allah SWT sendiri belum mewajibkan anak-anak untuk beribadah, melainkan kelak ketika mereka sudah mulai menginjak remaja, akil baligh, dan mumayis atau bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk. Meski demikian, masa anak-anak adalah masa-masa dimana seseorang paling cepat belajar sesuatu. Dari tidak tahu bahasa, hingga fasih berbicara, dari hanya merangkak hingga bisa berjalan dan berlari, dari hanya menangis hingga bisa berexpresi. Ya, masa kanak-kanak adalah masa dimana manusia belajar begitu banyak hal dalam waktu yang sangat singkat. Oleh karenanya sangat disayangkan apabila masa tersebut berlalu tanpa diisi dengan nilai-nilai luhur, baik dalam hal Ibadah maupun pembiasaan Adab. Salah satunya yaitu pengenalan ibadah berupa pembiasaan shalat.

Banyak diantara ibu-ibu, termasuk ibu saya sendiri yang enggan membangunkan putra-putrinya tatkala datang waktu shalat subuh atau ketika bangun shalat malam, karena tak tega mengganggu waktu tidur anaknya yang masih balita (seperti kita tahu bahwa anak-anak memiliki waktu tidur yang lebih lama dibanding orang dewasa). Membangunkan anak-anak diwaktu bangun malam, dan shalat subuh, membasuh wajah dengan air suci, dan membacakan mereka Al-Quran, secara tidak langsung akan membentuk karakter dan menanamkan kepada alam bawah sadar mereka akan pentingnya ibadah. Adalah suatu kewajiban bagi orang tua untuk ngenalkan mereka akan kewajiban yang utama sebagai hamba Allah yang akan diemban seumur hidup mereka dimulai sejak masa remaja. Mengajaknya shalat jamaah dimasjid, mengajaknya shalat jumat, dan shalat hari raya, juga merupakan suatu langkah awal memperkenalan mereka pentingnya shalat jamaah, pengenalan ukhwah, serta pembiasaan berkumpul dengan orang-orang shalih, tentunya ketika anak-anak sudah mulai bisa berjalan sehingga tidak terlalu merepotkan.

Fenomena para remaja yang susah bangun subuh apalagi shalat malam padahal kedua orang tuanya ahli ibadah,bisa jadi disebabkan karena tidak adanya pengenalan serta pembiasaan ibadah sejak kecil. Bahkan hingga dewasa, banyak di antara mereka yang masih kesulitan untuk bangun shalat subuh. Maka, sindiran Allah pun datang untuk mereka,”Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat subuh dan ashar.

 Banyak halangan yang mungkin akan terjadi ketika mengajak seorang manusia yang masih rewel-susah diatur-atau belum bisa diajak berlogika karena dunianya adalah dunia imajinasi, untuk mengenal dan membiasakan serta disiplin Ibadah. Maka banyak orang tua yang tidak bisa sabar sehingga lebih memilih untuk membiarkan mereka bermain saja atau pulas tertidur tatkala datang waktu shalat. Akan tetapi, mana yang lebih berat dibanding mengajak anak yang mulai remaja yang sudah bisa berkata “Tidak” dan bisa membangkang karena nafsu dan egonya sudah mulai tumbuh? Maka memperkenalkan Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada manusia yang paling membutuhkan kasih dan sayang dengan cara memperkenalkan dan membiasakan Ibadah sejak dini sejatinya adalah suatu kemuliaan di atas kemuliaan. Wallahu’alam bisshawab.                                                          


Selasa, 03 November 2015

Adab Membaca Alquran


Pict: Masjid Al-Hikam, Kutek, Depok UI
Source: Doc. Pribadi
Alquran itu afdzholudzikri, dzikir yang paling utama. Sehingga Allah subhanahu wata'ala melalui hadits Nabi SAW menjadikan manusia yang belajar dan mengajarkan Alquran sebagai manusia terbaik. Agar kegiatan belajar Alquran ini menjadi semakin berkah, kita perlu memperhatikan beberapa adab dalam membaca Alquran. Berikut diantaranya:

Pertama, dianjurkan untuk selalu suci dari hadats dan membersihkan gigi sebelum membaca Alquran. Memakai pakaian yang sopan. Beliau bersabda, “Aku tidak menyukai menyebut nama Allah, kecuali dalam keadaan suci.” (HR. Ahmad dan Abu Daud) dan dishahihkan oleh Al-albani. Dan nabi SAW sangat menekankan agar kita menjaga kebersihan gigi, karena itu mengundang ridha Allah. Beliau SAW bersabda, “Siwak itu membersihkan mulut dan mengundang ridha Allah.” (HR. Ahmad, Bukhari secara Muallaq dan yang lainnya).

Kedua, dianjurkan untuk menghadap kiblat. Dari Ibnu ‘Umar R. A. Beliau SAW bersabda, “Majlis (posisi duduk) yang paling mulia adalah majlis yang menghadap kiblat.” (HR. Tabrani) dalam Al-ausat dan dishahihkan oleh Al-albani.

Ketiga, membaca ta’awudz ketika memulai membaca Alquran. Allah ta’ala berfirman: “Apabila kamu membaca Alquran, hendaklah meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98). Kita juga dianjurkan membaca basmalah apabila membaca Alquran dari awal surat, kecuali surat At-Taubah. “Sahabat Anas bin Malik Radhiallahu’anhu menceritakan, Suatu ketika Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam terbangun dari tidur sambil tersenyum. Dan kamipun bertanya, ‘Ya Rasulullah, apa yang membuat Anda tersenyum?’ Beliau bersabda, ‘Baru saja turun kepadaku satu surat.’ Kemudian beliau membaca: ‘Bismillahirahmanirrahim, Inna a'toina kalkautsar, Fasollilirobbika wanhar, Innasyaniaka huwal abtar.’ “(HR. Ahmad, Muslim, dan yang lainnya).

Keempat, hendaknya konsentrasi dan berusaha merenungi setiap apa yang dibaca, karena Allah mencela orang-orang munafik, yang setiap hari mengdengar Alquran namun mereka sama sekali tidak mampu mengambil pelajaran darinya. Allah berfirman, “Mengapa mereka tidak merenungkan kandungan makna Alquran. Apakah ada kunci di hati mereka?” (QS. Muhammad: 24) Dan inilah tujuan utama Allah menurunkan Alquran, agar kitabnya direnungi, dan diamalkan. Allah berfirman, ”Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29).

Kelima, berusaha khusyu’. Memusatkan hati hingga terbawa sesuai apa yang kita baca. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, ialah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka.” (QS. Al-Anfal: 2). Diantara sifat orang shalih, mereka tertunduk khusyu’ dan menangis ketika mendengar Alquran dibacakan. Allah ta’ala berfirman, ”Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu sebelumnya, apabila Alquran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: ‘Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra: 107-109).

Keenam, berusaha membaca dengan benar, jelas dan suara bagus. Allah berfirman, “Bacalah Alquran dengan tartil.” (QS. Al-Muzammil: 4). Yang dimaksud membaca dengan tartil adalah membacanya dengan pelan, jelas setiap hurufnya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam juga menganjurkan kita untuk membaguskan suara ketika membaca Quran. Beliau bersabda, “Hiasilah Alquran dengan suara kalian.” (HR. Ahmad, Nasai dan yang lainnya).

Ketujuh, boleh membaca Alquran sambil berdiri, di atas kendaraan atau berbaring. Allah berfirman menceritakan karakter Ulil Albab, orang yang cerdas. “Yaitu mereka yang selalu mengingat Allah ketika berdiri, duduk, dan ketika berbaring. Mereka merenungkan ciptaan langit dan bumi.” (QS. Ali-Imran: 191). Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam pernah membaca surat Al-Fath diatas kendaraannya ketika menaklukan kota mekah. “Aisyah menceritanak bahwa Nabi Shallallahualaihi wa sallam pernah berbaring dengan meletakan kepala di pangkuan Aisyah yang sedang haid, kemudian beliau membaca Alquran.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kedelapan, Tidak membaca terlalu keras sehingga mengganggu orang yang sedang sholat, atau yang sedang tidur. Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam pernah menemui para sahabat, ketika mereka sedang shalat malam, dan mereka saling mengeraskan bacaannya, lalu Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang shalat itu bermunajat dengan Tuhan-Nya, maka perhatikanlah apa yang dia gunakan untuk bermunajat dan jangan saling berlomba mengeraskan bacaan.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha). Dan dishahihkan Ibnu Abdil-Bar. Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam memisalkan orang yang membaca Alquran dengan terang-terangan seperti orang yang menampakkan shedekahnya kepada orang lain. “Orang yang yang mengeraskan bacaan Alquran itu sebagaimana orang yang menampakkan sedekah. Orang yang pelan dalam membaca Alquran sebagaimana orang yang bersedekah rahasia.” (HR. Ahmad, Nasai) dan dishahihkan oleh Al-albani. Dan secara umum, sedekah dengan sembunyi-sembunyi lebih besar pahalanya, kecuali ada sebab tertentu yang menganjurkan dia untuk mengeraskan bacaannya.

Kesembilan, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam telah melarang menghatamkan Alquran kurang dari tiga hari, karena ini terlalu cepat sehingga tidak bias merenungi maknanya. Rasulullah bersabda, “Orang yang membaca Alquran kurang dari tiga hari, maka tidak akan dapat memahaminya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud) dan dishahihkan oleh Al-Albani. “Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam pernah memerintahkan Abdullah bin Umad Radhiallahu’anhuma agar menghatamkan Alquran setiap tujuh hari sekali.” (Mutafaqun’Alaih).

Kesepuluh, melakukan sujud tilawah ketika melewati ayat sajdah. Aisyah menceritakan, ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam melakukan sujud tilawah di malam hari, beliau membaca kalimat berikut berulang kali. “Aku bersujud kepada tuhan yang telah menciptakanku, yang memberi penglihatan dan pendengaranku, dengan daya dan upaya-Nya.” (HR. Nasai dan Abu Dawud). Dan dishahihkan oleh Al-albani.

Semoga Kita Tidak Lalai Dalam Mengamalkannya

*diadaptasi dari chanel youtube, yufid.tv


Minggu, 28 Juni 2015

Manusia Bercita-cita Mulia

Pict. M. Andre Widianto, Source: Doc. Pribadi
Manusia era ini menjadi korban dari ketidakberadaan tujuan dan cita-cita yang jelas. Terkadang ia tidur dalam kehendaknya sehingga membusuk, terkadang atas nama kehendaknya pula ia justru anarkis dan menafikan segala sesuatu. Saat diam dan tak bergerak maka tanpa sadar dirinya akan keropos dan lambat laun rapuh. Sebaliknya saat bergerak ia menghancurkan berbagai nilai penting seperti nilai agama, spiritual, akhlak, dan keadilan. Ya, saat orang seperti ini menyendiri maupun berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, ia akan tetap bermasalah.

Mahluk yang selalu mengedepankan kepentingan jasmaninya saja maka perutnya aktif, otaknya pasif, perasaannya selalu bergejolak dan lengah dari keberadaan kalbunya. Selain bergunjing, dalam kesehariannya mereka tidak memiliki sama sekali rencana, sikap, pemikiran serta kesungguhan yang dapat menghadirkan ketenangan bagi jiwa lainnya, serta mengantarkan jiwa-jiwa tersebut pada masa depan.  Saat sedang lemah, ia akan menghadapi segala sesuatu dengan diam. Ketika menjadi kuatpun maka ia akan berusaha mengekspresikan dirinya dengan cara-cara yang merusak. Terkadang hanyut dan terseret kesana-kemari seperti daun-daun kering yang terombang-ambing dalam pusaran angin.    Kadang pula diinjak oleh lalu-lalang manusia seperti sampah.

Sekian lama atmosfer yang suram ini seolah menjadi tabiat manusia saat ini. Ya, manusia seperti ini ketika merelakan dirinya terperangkap dalam lentera kaca, membiarkan perasaan, pemikiran dan cita-citanya menyempit maka ia hanya menenangkan dirinya dengan keminderan atau justru kegilaan. Dalam kondisi seperti ini ia akan selalu memerangi karakter kebangsaannya. Sayangnya sekarangpun perang ini masih berlangsung dengan begitu cepatnya dalam dimensi yang berbeda. Coba kita bayangkan, dunia dengan pertimbangan era baru lari mengejar proyek demi proyek, sementara kita masih mengejang dalam lingkaran kesia-siaan. Pemikiran kita berantakan, perasaan kita rendah, sikap dan tindak-tanduk kita tidak konsisten, kalbu kita telah jauh dari kasih sayang, kerumunan manusia seolah menjadi mainan yang pasang dan surut dalam jaring tak bermakna. Setiap hari masyarakat menycari mihrabnya sedangkan para pembimbing berada dalam kelalaian. Jika kita tengok, lembaga manapun kita akan menyaksikan kekacauan ini sehingga mampu membuat kita merinding. Ya...  kita tidak dapat lagi menyaksikan kehidupan pemikiran, akhlak, budaya, seni, politik, ekonomi dan hukum tanpa merasakan kepedihan di dalam hati kita. Perselisihan, pertengkaran, keadaan dimana kekuatan menguasai kebenaran dan kebiasaan meniru tanpa adanya kesadaran seolah telah menjadi takdir bagi dunia kita.

Jika elang saja kalah dalam perjuangan ini maka apa yang bisa kita harapkan dari burung-burung pipit. Untuk memperbaiki bahtera yang bocor dan terguncang dalam tendangan ombak dibutuhkan para kesatria pemberani yang selalu memelihara keyakinan, keteguhan dan harapannya; memiliki cita-cita tinggi, mampu menghirup nafas panjang; hidup untuk menghidupkan orang lain dan dapat berkorban untuk meraih inayat jasmani dan rohani guna mempersiapkan perahu bangsa menuju perjalanan yang masih panjang ini. Dibutuhkan kesatria yang kehendaknya laksana baja untuk menghancurkan, atau setidaknya mengurangi tekanan-tekanan yang tampil dengan penampakan berbeda-beda dan desakan yang tingginya bagai ombak yang telah dijatuhkan ke atas dunia sejak beberapa abad ini.

Berkat adanya cita-cita yang tinggi, yang menggantung keselamatan dirinya untuk menyelamatkan orang lain, demi kebahagiaan orang lain, masa depan dan harapannya sendiri akan ditaburkan seperti tanah dibawah kaki. Ia akan masuk kedalam pembuluh darah setiap insan seperti udara; beredar di setiap tubuh selayaknya aliran darah; mengalir bagai air pada setiap kegersangan dan dahaga sambil menghembuskan nafas kehidupan dimana-mana. Kemudian setiap geraknya terikat pada sebuah pertanggungjawaban yang berada di kedalaman jiwanya; yang berusaha memenangkan kembali bagi diri kita, ruh, jiwa dan makna yang telah hilang dengan sebuah iradat penuh belas kasih dan penuh tanggung jawab serta sebentuk kasih sayang yang begitu dalamnya sehingga mampu memeluk seluruh umat manusia. Ia akan berusaha dan kali terakhirnya mengingatkan pada kita kandungan kemanusiaan kita, maka saya yakin dengan kesemuanya ini wajah kemanusiaan akan tersenyum kembali dan derita para penderita akan reda. Mungkin juga dunia akan didudukkan pada porosnya kembali... tentu saja hal ini, akan menjadi teladan pula bagi jiwa-jiwa yang hidup tanpa cita-cita mulia setelah sekian lama.

Justru dalam nasib dan takdirnya, umat manusia berada dalam suatu program yang tidak memungkinkannya untuk tinggal ataupun hidup secara terpisah. Walaupun kita mencoba untuk menutup mata dan menyumbat telinga namun peristiwa-peristiwa telah memasukkan ke dalam otak kita pada banyak titik kebersamaan dengan berbagai jalan sembari menarik kita ke dalam sebuah atmosfer kepedihan dan kelezatan dari kebersamaan tersebut diatas, perasaan-perasaan individual yang kemudian akan membuat hati nurani kita ingat pada sisi sosial kita. Bahkan setiap gerak-gerik kita baik secara langsung maupun tidak, akan berhubung dengan lainnya, begitupula sebuah peristiwa yang terjadi di ujung dunia sekalipun akan tetap berhubungan dengan kita. Secara singkat, semua ini bersumber dari takdir manusia yang diciptakan untuk hidup bersama dengan manusia lainnya dan memiliki perasaan berbagi. Sebenarnya, jika manusia mampu menyadari adanya sebuah program di dalam fitrah kita yang memaksa untuk hidup dalam kebersamaan sambil berdampingan dengan adanya hukum takdir tersebut, maka manusia akan mampu bergerak lebih cepat. Selain itu, apabila manusia dengan niat dan iradatnya menghanyutkan diri ke dalam arus yang alami ini, sambil meraih sebuah kedalaman yang bersifat naluriah, masuk akal dan iradiah, di satu sisi kita akan mengetengahkan kekhasan sifat kemanusiaannya maka di sisi lain akan memperoleh pahala pula dari usahanya saat memohon dan meminta kepada-Nya serta akan menjadikan iradahnya itu sebagai kunci yang membuka cita-cita mulia demi keabadian dirinya kelak.

Untuk itulah semua yang memikirkan ‘keabadian’, harus bercita-cita menyelamatkan sembari memeluk sesamanya sehingga dalam perjalanan keabadiannya itu dapat direngkuh pula oleh semua yang telah diselamatkan dan dipeluknya. Sebaliknya, jiwa-jiwa egois, ambisius, takberbelas kasih yang membangun keselamatan dirinya hanya atas kehancuran orang lain, tidak pernah akan benar-benar dicintai, dan akan selau dihina oleh semua kalangan. Tentunya kebaikan bagi seseorang pertama-tama akan memberikan kebaikan bagi dirinya sendiri terlebih dahulu. Demikian pula dari sebuah keburukan seseorang akan pula pertamakali berdampak negatif bagi dirinya sendiri. Seseorang yang memiliki potensi menjadi baik dalam tabiatnya, mampu mengungkapkan dirinya dengan bahasa kalbu sambil menampilkan karakter dan sifatnya, maka ia akan selalu bertahta bahkan di hati yang paling keras seperti granit sekalipun dan akan selalu menjadi buah bibir di lisan semua orang.

Siapa saja yang bertindak atas nama rasa egois, ambisi, dendam, takberbelas kasih dan demi keberadaannya sendiri selalu mengincar tempat-tempat yang hancur seperti kelelawar, akan selalu terjepit di dalam dunia sempit, dan individualnya itu sendiri dan tidak akan pernah mampu peka untuk merasakan luasnya dunia kebersamaan, bahkan mereka tidak mendapatkan ketentraman di dalam dunianya yang sempit tersebut. Manusia-manusia seperti ini yang selalu kalah dalam urusan kalbu, dan nuraninya, diatas segalanya akan menggersangkan nilai-nilai yang menjdaikannya manusia dalam dirinya sendiri bahkan mematikan kalbunya.

Ya, orang-orang yang hanya memikirkan dirinya dan hidup tertutup dari orang di sekitarnya adalah masing-masing contoh dari sebuah kelesuan atau kemalasan dan bagaikan sebuah jenazah hidup yang berada di antara ambang hidup-mati hingga mereka tidak mampu merasakan, baik hangatnya kehidupan maupun dahaganya menghidupkan.

Kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan yang direncanakan untuk memikirkan manusia pada hari ini dan esok serta dicita-citakan dengan tujuan untuk hidup bagi mereka. Nah, suatu kesadaran, pemahaman dan perasaan seperti ini yang berkuasa pada setiap tahapan kehidupan dari awal hingga akhirnya ini adalah potret dan bingkai yang paling tepat dari karakter untuk menjadi manusia yang hakiki. Sebuah potret yang begitu hebatnya sehingga siapapun yang melihatnya dengan menggunakan mata hati akan dapat dengan mudahnya melihat bahwa di balik gambar tersebut tersimpan sebuah hubungan yang dalam dan hangat antara ia dan seluruh entitas yang ada. Pada lukisan ini, manusia akan selalu bisa melihat baik dirinya sendiri maupun orang lain dengan mata hati nya, dan juga mampu mengevaluasi dengan penuh kesyukuran atas apa yang dilihatnya tadi. Begitulah manusia, berkat sudut pandang yang sama akan mendapatkan kesempatan untuk juga mampu melihat dan mengenal lingkungannya pula dan ia akan mendapati semua orang dan segala sesuatu sebagai hal yang lebih lembut, lebih santun dan hangat.

Namun tentu saja kedalaman seperti ini tidak akan bisa diperoleh dalam sekejap. Ia adalah sebuah penampakan kasih sayang yang timbul setelah masa peragian yang cukup lama di kedalaman hati nurani kita dan sebuah seruan manusiawi dari bahasa kalbu. Seruan ini, akan mengalir dari nurani manusia berbahasa kalbu mewarnai ke segala penjuru dan bersamaan dengan berjalannya waktu, lambat laun semua akan diajak berbicara dengan lisan yang sama. Karena ia bangkit dari dalam hatinya maka ia tidak akan pernah terpengaruh dari hal-hal buruk di luar.

Seruan yang berasaskan iman dan memiliki kedalaman ikhsan ini disambut dengan terbuka baik di langit maupun di bumi, suatu hari nanti semua jiwa pastilah akan mengarah kepadanya dengan rasa hormat, pintu-pintu langit akan terkuak dan akan mencurahkan sanjungan dan apresiasi terhadapnya. Yakni pada saat itulah semua kalbu akan berdebar dengan cinta, akan berfikir dengan cinta, akan berbicara dengan cinta, berperilaku dengan cinta, dan akan merangkul seluruh mahluk dengan cinta pula...  dan saya rasa pada hari dimana seluruh permukaan bumi berubah menjadi kilau cermin cinta dangan kadar ini, kitapun akan mencintai kehidupan lebih dalam sehingga membuat orang lain mencintainya pula dan saat menunjukan jalan keabadian kepada orang lain, sambil menjauhkan diri dari seluruh hal-hal buruk yang ada pada nafsu, kita akan mencapai sudut pandang berbeda dengan cakrawala pengamatan hati nurani baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain.

Pencapaian ini tidak hanya akan terpuaskan dengan pemikiran kebaikan dan keindahan yang bisa kita lakukan saja namun akan pula berusaha menjangkau kebaikan dan keindahan yang seolah kita tak sanggup meraihnya pula, dan dalam hal ini kita akan senantiasa duduk-berdiri bersama dengan mimpi puncak yang begitu tinggi. Saat sesuatu yang tidak mungkin tersebut pada akhirnya bisa tercapai maka ia akan menggemuruhkan ‘suara-suara kesyukuran’. Saat dihadapkan pada cita-cita mulia yang melampaui batas kesanggupan sambil mengepakkan sayap iman, tarikan nafas kita akan selalu memberikan harapan ssehingga kita akan berada pada kondisi menunggu secara aktif.

Tingkat ruhani seperti ini, yang selalu memaksakan kemampuannya hingga batas tertinggi dengan semangat kebaikan, haruslah menjadi aspek terdalam dari manusia dan terulas dalam aspek terpentingnya. Ia akan meraih nilai-nilai di atas nilai, baik di hadapan Allah Subhanahu waTa’ala maupun di hadapan masyarakat dengan menggunakan aspek dan sisi ini, agar tingkatan anugerah ‘Ahsan-I Takwim’ dapat diraih dengan kedalamannya ini. Pada takaran ini, sebuah hubungan yang dirasakan terhadap semua orang seperti ini merupakan hasil dari hubungan baiknya dengan Allah Subhanahu waTa’ala. Sebuah cita-cita luhur pada tingkat individual; pemikiran yang disuarakan oleh perkataan “gugurkan aku sebagai syuhada, muliakanlah bangsa dan negaraku” adalah sebuah cita-cita nasional yang tinggi. Kepahlawanan yang diungkapkan dengan pernyataan “Jika aku melihat terselamatkannya iman bangsaku maka aku rela terbakar dalam api neraka” adalah sebuah cita-cita mulia yang melampaui banyak hal. Sedangkan cinta dan kasih sayang universal tertinggi milik Rasulullah SAW tercinta yang terungkap dengan kata-kata “Ya Allah ampunilah umatku, karena mereka tidak mengerti” yang diucapkan oleh Beliau pada orang-orang yang mencoba merenggut nyawanya adalah sebuah cita-cita luhur yang berporoskan pada tanggung jawab mulia dan mencakup kedalaman belas kasih sayang.

Menurut saya, dewasa ini masyarakat kita bukannya membutuhkan ini atau itu seperti yang diributkan saat ini, namun kita membutuhkan para pahlawan bercita-cita mulia pada takaran ini. Para pahlawan yang tentu saja pertama-tama akan mengulurkan tangannya dengan penuh cinta pada bangsanya sendiri lalu kemudian pada seluruh umat manusia dan mereka yang setiap tangannya terangkat untuk bermunajat pada Rabbnya ia akan memohonkan bagi kebaikan orang lain, maka mulailah dengan menyuarakannya dalam  diri kita saendiri dahulu karena jika tidak siapa lagi yang akan memulainya.     

*sebuah artikel dari majalah fountain versi indonesia, mata air.