Namaku Samijo, tapi temen-temen memanggilku "Bejo." Aku kuliah di Gundar, Sore itu, di suatu sudut kota depok yang tak pernah mati, aku bermaksud menge-sol kan sepatu lama-ku yang sudah lama "mangap" di bagian depannya, yang sudah ku cuci terlebih dahulu. Kebetulan sekali, sore itu temanku baru saja mengembalikan uang 50 k yang doi pinjem beberapa hari sebelumnya.
Dengan uang 50 k, aku bergegas mencari tukang sol. Jalan margonda cukup lengang sehingga dengan mudah aku menyeberang. Setelah menyeberang, aku harus memilih antara belok kanan, ke arah kampus yang biasanya di situ ada tukang sol-sepatu di sela2 gang kost-an mahasiswa, atau belok kiri ke arah pasar kemiri. Akhirnya kuputuskan untuk mengambil arah kiri karena beberapa hari yang lalu di situ aku berpapasan dengan tukang sol sepulang dari ngampus.

"Siapa tahu doi lewat situ lagi" pikirku.
Setelah sekian lama berjalan kaki menyusuri gang-gang pasar, tak juga kudapati tukang sol yang melintas, atau setidaknya ada yang buka lapak di salah satu kios pasar. " Ini nih, kalo lagi ngga butuh, ber-seliweran, pas lagi butuh, ngga ada satupun yang nongol" pikirku mulai jenuh.
Kuputuskan untuk terus berjalan hingga ke ujung pasar yang nantinya akan tembus jalan margonda, sembari mengamati keadaan pasar. "Yah, siapa tahu bisa belajar something". Hitung2 untuk mengganti jogging pagi ku yang tak sempat aku tunaikan.
Semakin masuk ke dalam pasar, keadaan semakin ruwet, dan jalan semakin becek. Terpikir dalam benakku, "seandainya ada di Detos sepatu seharga 50 K, pasti aku beli dan ngga perlu kesini." Tapi faktanya "Ngga ada dan ngga akan pernah ada."
Hingga ujung pasar tak juga kutemui satu pun tukang sol-sepatu. Tapi setidaknya aku jadi tahu harus kemana aku kalau sewaktu-waktu butuh buah-buahan, atau
harus kemana kalau aku mau mengecilkan baju, dan banyak hal lain selama ini tak ku sadari ada di sekitar domisiliku di Depok.

Kini aku berjalan di sepanjang jalan Margonda hendak kembali menuju kostan-ku. Sore ini begitu sejuk. Jalan cukup ramai namun tetap lenggang. Margonda tampak lebih lebar dari biasanya. Tanaman-tanaman hias yang berada diantara dua jalan yang berlawanan arah, sepanjang jalan Margonda, tampak menghijau dan melambai-lambai tertiup angin dari kendaraan lewat.
Hari sudah mulai gelap ketika tiba-tiba seorang penjual sepatu keliling membangunkan ku dari lamunan akan keindahan Margonda. Insting marketingnya segera muncul ketika ada orang yang melihatnya. Dengan panjang lebar dia jelaskan keunggulan sepatunya, bahkan dengan demonstrasi menyulut dengan korek api, memelintir dll.
Penampilannya sangat sederhana. Melekat di badannya celana jins kumal, dan seoblong kaos. Kulitnya legam, mungkin sudah berhari-hari disengat panasnya mentari kota deepok. Namun dibalik kesederhanaannya, ku akui kemampuan menjualnya begitu memikat, bahkan mungkin lebih baik dari mahasiswa yang belajar marketing sekalipun.
Setelah dijelaskan panjang lebar, bukanya tertarik untuk membeli, malah timbul rasa sesal dalam benakku, "Kenapa aku tadi berhenti, kan cuma bawa uang 50 k", "Kan ngga enak kalo ngga jadi beli".
Dengan sopan ku sampaikan bahwa ku menghargai kalau produknya bagus, dan sebenarnya aku berminat untuk beli, akan tetapi karena suatu hal, Bla2.. ngga jadi beli. Namun, si penjual tetep kekeh meyakinkan dan menurunkan harganya menjadi 125 K. "Kalo bawa uang segitu mah kubayar, karna memang lagi perlu buat dipake besok ngampus" pikirku.

Akhirnya aku tegaskan, "Gw ada 50 K, kalo dapet gw beli, kalo ngga, ngga beli." Si penjual terus menawar, beberapa kali namun selalu aku bantah. "Entah akunya
yang lagi Bejo atau si penjual yang lagi butuh duit?." Akhirnya sepatu itu dilepas dengan harga 50 K. "What? 50k..?" "Ngga nyangka banget di kota Depok yang serba mahal ini bisa dapet sepatu seharga 50 K.", "Uang segitu mah, cuman bisa buat makan 2X, di warung padang." ,"Ngga salah aku dikasi nama Bejo,..hehe.." Pikirku sembari meneruskan jalan.
Aku Bahagia banget sore ini bisa dapet sepatu baru, murah lagi. Tapi bukan itu masalahnya. Aku seneng banget karena besok ngga perlu lagi bingung mau pake sepatu siapa? pas ngampus...hehe...
Aku terus bersyukur sembari berjalan. Nampaknya Azan maghrib sudah berkumandang. Sesampainya di kost-an, aku segera siap-siap dan bergegas untuk mendirikan sholat maghrib.