Masa kanak-kanak adalah masa
bermain. Ya, mereka hanya bermain. Tidak ada kewajiban yang harus dikerjakan
atau amanah yang harus diemban. Keceriaan selalu mengiringi hari-hari mereka,
tak kenal apa itu sedih, pun ketika mereka terluka dan tersakiti mereka akan
menangis sebentar saja, setelah itu mereka ceria dan tertawa sepuasnya.
Wajahnya yang entah kenapa,
mampu membuat semua orang sayang kepadanya. Serasa ingin menggendongnya,
mencium pipinya yang lucu, mengajaknya berbicara meski belum bisa berbicara, serta
mengajaknya tersenyum dan tertawa, itulah respon setiap orang yang
menjumpainya. Remaja putri yang tomboy sekalipun mendadak berubah menjadi
ke-ibuan tatkala melihat wajah si mungil yang menggemaskan itu. Bagaimana
mungkin, sosok manusia yang paling lemah, akan tetapi mereka mendapat rizki
yang terbaik di alam semesta ini berupa ASI, serta kedatangannya disambut
hangat oleh seluruh alam? Jawabanya adalah: karena sifat Tuhan Ar-rahman, Yang
Maha Mengasihi.
Allah SWT sendiri belum
mewajibkan anak-anak untuk beribadah, melainkan kelak ketika mereka sudah mulai
menginjak remaja, akil baligh,
dan mumayis atau bisa membedakan mana yang baik
dan yang buruk. Meski demikian, masa anak-anak adalah masa-masa dimana
seseorang paling cepat belajar sesuatu. Dari tidak tahu bahasa, hingga fasih
berbicara, dari hanya merangkak hingga bisa berjalan dan berlari, dari hanya
menangis hingga bisa berexpresi. Ya, masa kanak-kanak adalah masa dimana
manusia belajar begitu banyak hal dalam waktu yang sangat singkat. Oleh karenanya
sangat disayangkan apabila masa tersebut berlalu tanpa diisi dengan nilai-nilai
luhur, baik dalam hal Ibadah maupun pembiasaan Adab. Salah satunya yaitu
pengenalan ibadah berupa pembiasaan shalat.
Banyak diantara ibu-ibu,
termasuk ibu saya sendiri yang enggan membangunkan putra-putrinya tatkala
datang waktu shalat subuh atau ketika bangun shalat malam, karena tak tega
mengganggu waktu tidur anaknya yang masih balita (seperti kita tahu bahwa
anak-anak memiliki waktu tidur yang lebih lama dibanding orang dewasa).
Membangunkan anak-anak diwaktu bangun malam, dan shalat subuh, membasuh wajah
dengan air suci, dan membacakan mereka Al-Quran, secara tidak langsung akan
membentuk karakter dan menanamkan kepada alam bawah sadar mereka akan
pentingnya ibadah. Adalah suatu kewajiban bagi orang tua untuk ngenalkan mereka
akan kewajiban yang utama sebagai hamba Allah yang akan diemban seumur hidup
mereka dimulai sejak masa remaja. Mengajaknya shalat jamaah dimasjid,
mengajaknya shalat jumat, dan shalat hari raya, juga merupakan suatu langkah
awal memperkenalan mereka pentingnya shalat jamaah, pengenalan ukhwah, serta
pembiasaan berkumpul dengan
orang-orang shalih, tentunya ketika anak-anak sudah mulai bisa berjalan
sehingga tidak terlalu merepotkan.
Fenomena para remaja yang susah
bangun subuh apalagi shalat malam padahal kedua orang tuanya ahli ibadah,bisa
jadi disebabkan karena tidak adanya pengenalan serta pembiasaan ibadah sejak
kecil. Bahkan hingga dewasa, banyak di antara mereka yang masih kesulitan untuk
bangun shalat subuh. Maka, sindiran Allah pun datang untuk mereka,”Sesungguhnya
shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat subuh dan ashar.
Banyak halangan yang mungkin
akan terjadi ketika mengajak seorang manusia yang masih rewel-susah diatur-atau
belum bisa diajak berlogika karena dunianya adalah dunia imajinasi, untuk
mengenal dan membiasakan serta disiplin Ibadah. Maka banyak orang tua yang
tidak bisa sabar sehingga lebih memilih untuk membiarkan mereka bermain saja
atau pulas tertidur tatkala datang waktu shalat. Akan tetapi, mana yang lebih
berat dibanding mengajak anak yang mulai remaja yang sudah bisa berkata “Tidak”
dan bisa membangkang karena nafsu dan egonya sudah mulai tumbuh? Maka
memperkenalkan Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada manusia yang
paling membutuhkan kasih dan sayang dengan cara memperkenalkan dan membiasakan
Ibadah sejak dini sejatinya adalah suatu kemuliaan di atas kemuliaan. Wallahu’alam bisshawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar