Membangun
karakter itu mudah sejatinya apabila didukung dengan lingkungan yang
berkarakter. Karakter itu sendiri sejatinya secara alami akan tumbuh seiring
perkembangan dan pertumbuhan seseorang. Seseorang yang lahir di lingkungan
orang-orang yang berbahasa jawa akan bisa dan mahir berbahasa jawa. Artinya
adalah, pada tahap awal kehidupan seseorang yaitu dari kanak-kanak hingga
remaja, apa yang ada pada seseorang adalah akumulasi pengetahuan serta respon
internal orang tersebut terhadap lingkungannyan yang mencakup keluarga dan
masyarakat. Baru pada tahap remaja, seseorang mulai bisa berfikir dan memilah
apa yang sesuai untuknya, dan apa yang tidak sesuai untuknya. Perkembangan
karakter sedikit banyak dipengaruhi oleh seberapa luas pergaulannya, dan lebih
banyak dengan siapa mereka bergaul.
Membangun karakter akan menjadi sulit apabila
memulainya pada usia remaja ke atas. Seseorang yang semasa kecilnya hidup di
lingkungan yang tidak berkarakter, atau berperadaban rendah, dan menghabiskan hampir
seluruh masa tersebut di lingkungan itu akan mengalami kegalauan yang besar
ketika bergaul dengan orang-orang yang berperadaban lebih tinggi. Dia akan
merasa dirinya begitu berbeda, dia melihat betapa karakter yang ada pada
lingkungan baru tersebut sama sekali baru dan tidak ada pada dirinya. Pergaulan
pun menjadi canggung, dan tak jarang yang terjadi adalah lingkungan barunya
tersebut meremehkan bahkan mentertawakannya karena melihat betapa rendah
seseorang tersebut dimata mereka.
Jika demikian yang terjadi, hal pertama
yang perlu dilakukan seseorang adalah, mengakui bahwa dirinya baru dan mau
belajar. Kepribadian yang selama ini mengkristal, sifat-sifat yang kurang
beradab yang ada tidak mungkin diruntuhkan seketika. Perlahan tapi pasti,
menyisipkan nilai-nilai baru, serta membuang hal-hal yang sudah tidak berguna
yang membebani kepribadiannya mutlak dilakukan. Kontinuitas lah yang akan
mengubah kepribadiannya yang lama menjadi manusia baru yang berkarakter.
Konsekuensinya adalah seseorang tersebut harus siap di ejek, ditertawakan dan
dihina. Namun yang terpenting adalah keberanian untuk mendobrak, serta kemauan
belajar yang terus-menerus untuk memungut sejengkal demi sejengkal karakter
baru, menjadikannya bagian dari kepribadiannya, dan kesungguhan untuk
sejengkal-demi sejengkal membuang sifat-sifat buruk, dan sifat yang kurang
beradab, serta menggantinya dengan nilai-nilai karakter baru tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar