Rabu, 11 Maret 2015

Bahagia itu Keputusan

            Bahagia itu mudah dan sederhana. Melihat anak kecil yang lucu, bahagia. Hujan turun, bahagia. Lapar kemudian makan, bahagia, dll. Seseorang akan mudah bahagia apabila dia melihat setiap kejadian dalam hidupnya secara utuh, dan dirinya benar-benar hadir dalam hidupnya. Sebaliknya seseorang akan sulit bahagia apabila yang difikirkan adalah kekhawatiran-kekhawatiran yang belum jelas, dan khayalan-khayalan tentang sesuatu yang belum terjadi. "Bagaimana kalau?"

           Orang yang mudah bahagia, baginya selagi masih ada hal-hal kecil yang bisa membuatnya tertawa dia pantang bersedih. kalau toh tak ada yang bisa membuatnya tertawa, maka dia akan mencari. Orang yang mudah bahagia selalu bersyukur, bahkan ketika tak ada satu alasan pun yang membuatnya harus bersyukur, dia akan menciptakan sendiri alasan untuk bersyukur, "Aku bahagia karena telah diberi kesempatan untuk melihat dunia ini."

              Sebaliknya, orang yang sulit bahagia, dia cenderung untuk menyesali, bahkan ketika banyak sekali nikmat yang seharusnya membuatnya bersyukur, dia akan mengeluh karena suatu hal kecil yang sebenarnya tak sebanding dengan nikmat yang diterimanya. Bahkan ketika tak ada satupun alasan yang pantas untuk dirinya mengeluh, dia akan membuat-buat alasan itu sendiri. Bahkan ia bisa menyesali "Mengapa saya dilahirkan."

               Bahagia itu sebenarnya adalah niat. Ya, niat! Seseorang akan mudah bahagia apabila niatnya adalah untuk bahagia. Anda juga demikian, membaca tulisan ini apabila niat awal anda bahagia, maka anda akan bahagia ketika menemukan kata-kata yang lucu misalnya, atau bahkan ketika tak ada satu kalimat pun yang membuat Anda tertawa, Anda akan tetap bahagia dengan cara Anda sendiri.

               Jadi kesimpulannya adalah, "Bahagia itu keputusan Anda!". Putuskan, "Saya mau berbahagia, apapun yang terjadi, titik!". Maka selamat! Hidup Anda bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar