Selasa, 16 Juni 2015

Nafsu Tidak Pernah Bisa Dipercaya

Source: Doc. Pribadi
Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa musuh utama manusia bukanlah manusia lainnya, melainkan nafsunya sendiri, dan beliau menasihati umatnya untuk senantiasa mewaspadai tipu daya dan perangkap yang dipasang nafsu bagi dirinya. Ketika Alquran membahas tentang topik ini, ia menjelaskan bahwa nafsu selalu mengajak manusia kepada keburukan, sedangkan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dari tipu daya dan jebakannya adalah pada Rahmat dan kasih sayang Allah Subhanahu WaTa’ala. 

Nafsu berada dalam posisi sebagai agen syaitan di dalam diri manusia, yang menjadi laboratorium tempat mencampur berbagai keburukan. Dalam keadaan seperti ini, apapun kebaikan yang akan dilakukan manusia, nafsu akan merasa terganggu dan tak akan pernah senang dengannya. Apapun hubungan baik yang coba dibangun manusia dengan Tuhannya untuk mempersiapkan kehidupan abadinya kelak, nafsu akan selalu memberikan reaksi yang berlawanan dengannya. Sebaliknya, nafsu akan bangkit seleranya jika ada sesuatu yang dapat menyebabkan sang manusia jatuh derajatnya atau jika ada keburukan yang dapat menghancurkan kehidupan abadi sang manusia. Pada saat-saat seperti itu nafsu akan bangkit dan memunculkan rasa penasaran di dalam diri manusia. Mengenai hal tersebut, Rasulullah SAW dalam sabdanya memberikan penjelasan; “Neraka dikelilingi oleh hal-hal menarik yang disukai nafsu, sedangkan surga dikelilingi oleh hal-hal yang dibenci nafsu.”

Sebagaimana syaitan, maka nafsu lewat was-was yang dihembuskannya kepada manusia akan sangat canggih memasang intrik dan perangkapnya, pada setiap jalan, dalam setiap tikungan, tanjakan dan turunan, ia akan senantiasa siap dengan jebakan barunya. Misalnya ketika manusia ingin berbuat kebaikan, nafsu akan menghembuskan keengganan atau rasa malas di dalam diri manusia. Manusia itu pun seketika akan merasakan hilangnya gairah, untuk melakukan niatnya tadi. Bahkan keinginan untuk beranjak dari tempat duduknya pun takan muncul dalam dirinya. Tiba-tiba semangat berbuat kebaikan jadi hilang. Demikianlah nafsu, dengan bantuan syaitan menampilkan taktik pertamanya. Tetapi jika manusia berhasil meraih inayah Ilahi sehingga berhasil menghalahkan halangan pertama tadi, serta pintu kebaikan mulai sedikit terkuak, maka kali ini nafsu akan mengubah strateginya dan kembali menyiapkan perangkap lebih canggih. Misalnya, ia akan mengotori kebaikan yang dilakukan manusia dengan rasa pamrih, keinginan untuk dilihat atau pamer, serta kepentingan agar dipuji oleh orang sekitarnya.

Contoh lainnya adalah ketika seseorang hendak memulai sholatnya. Untuk menghadapkan dirinya kepada Allah, ia memulai perjuangan awalnya melawan nafsu.  Nafsu ingin menghalangi manusia dari wudhu dan shalat dengan memompa perasaan bahwa pekerjaannya masih banyak dan harus dikerjakan tanpa jeda, lewat perasaan lelah dan malas. Seseorang jika berhasil menunaikan hak shalatnya lewat perjuangan pertamanya dengan bantuan temannya yang saleh, atau usaha sendiri yang dibarengi inayah Rabb-nya, maka dalam shalatnya kali ini ia mulai membayangkan derajat apa yang telah dicapainya. Lingkungan sekitarnya akan memompa perasaan diperhatikan sebagai orang saleh, lalu perasaan betapa indahnya dikenal sebagai orang saleh pun bersemayam dihatinya. Jika ini tidak berhasil, maka nafsu akan menyibukkan dengan jalan lainnya ketika menunaikan shalatnya. Semua ini terwujud berkat kerjasama nafsu dan syaitan.

Sama halnya dengan shalat, pengabdian kepada Alquran dan agama, dakwah amar ma’ruf nahi munkar, mengenalkan Allah SWT kepada kalbu masyarakat, dan pengorbanan yang diperlukan untuk mewujudkannya adalah hal-hal yang tidak disukai oleh nafsu. Di saat sebagian besar orang-orang melakukan hal-hal yang mereka sukai, pada waktu yang sama sebagian orang pergi ke berbagai tempat, meningkatkan ufuk makrifatn-ya kepada Allah SWT, dan walaupun akan dihina dan direndahkan derajatnya, mereka tetap akan mengetuk pintu-pintu kalbu demi bisa memasukinya dan mengisinya dengan Allah, tentu saja aktivitas seperti ini adalah hal yang paling tidak disukai nafsu. Setelah tahapan ini mampu dilewati, maka kali ini nafsu mulai membuat kita menyombongkan diri, merasakan pada lingkungan sekitar bahwa ia lebih mulia karena merasa lebih banyak merasakan pengabdian kepada agama. Dan ketika terjadi demikian, maka akan terasa bahwa aktivitas dakwahnya seperti aktivitas rutin saja, kalbunya kemudian kehilangan ruh, dan melakukan sesuatu hanyalah keharusan semata. Setelah ia melewatinya, egoismenya kemudian akan diliputi oleh perasaan bahwa orang lain tidak memahami hal yang seharusnya, sebagaimana yang ia pahami, bahwa orang lain tidak memahami tingginya makna yang ada di dalamnya, bahwa orang lain telah menutup mata pada karyanya, bahwa orang lain tidak faham nilai dan pentingnya dirinya! Jika ini telah dilewati, yang datang kemudian adalah perasaan tidak puas, tidak merasakan kenikmatan dari apa yang dikerjakan, hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan target dan kapasitas yang dicanangkan. Mungkin perasaan-perasaan tadi tidak bisa diurutkan seperti itu, tetapi jika rintangan yang satu bisa dilewati, telah siap menunggu puluhan rintangan lainnya. Rahasia ujian di dunia ini menjadi syarat bagi eksistensi manusia.

Ada banyak sekali pekerjaan-pekerjaan mulia dan Ibadah-ibadah yang mana sebelum ia dikerjakan, ketika dikerjakan, atau setelah dikerjakan jatuh kedalam perangkap yang digiring oleh perasaan tadi. Demikian mahirnya syaitan dan nafsu dalam melakukan pekerjaan ini sehingga amat sedikit orang yang berhasil meraih keikhlasan paripurna dan mencapai tujuannya sebelum terjerembab dalam jebakan dan intrik tadi. Demikianlah sosok-sosok yang telah mencapai keikhlasan paripurna akan senantiasa berjuang dalam setiap fase kebaikan, dan tidak pernah memedulikan sedikitpun bisikan syaitandan nafsunya. Yakni, bisa jadi mereka adalah sosok yang; demi dakwah yang ia junjung tinggi; teguh pada pendirian dan bulat tekadnya dalam melewati segala rintangan. Ketika berupaya mencapai tujuannya, mereka berjiwa matang dalam menyerahkan segala sesuatu yang menjadi hak pada pemiliknya serta memiliki tatakrama terbaik di hadapan Sang Maha Penciptanya”.

Hampir tidak ada hamba Allah yang luput dari ujian ini. Tidak seharusnya ada orang yang melihat dirinya tidak akan tertimpa ujian ini, terkecuali para nabi, hamper semua orang, sedikit banyak pernah, sesuai tingkatannya masing-masing, jatuh pada jebakan dan akhirnya berhasil terlepas darinya. Tetapi lewat penjelasan dari Alquran, hamba-hamba yang senantiasa berlindung kepada Allah, mereka yang senantiasa merintih kalbunya memohon bantuan kepada Tuhannya, mereka yang menyerahkan dirinya pada ikhlaslah yang bisa terjaga dari jebakan syaitan dan nafsu.

Insan yang beriman tidak boleh sedikitpun mempercayai nafsunya. Harus selalu siaga setiap waktu dan jangan biarkan kelalaian menyergap. Hal ini mirip sekali ketika kita menyetir mobil. Sesaat saja kita kehilangan konsentrasi, saat itu juga kita dapat lepas kendali atas setir tersebut dan akan terguling karena menabrak trotoar. Tarbiah nafsu bagaikan lari marathon sepanjang umur. Jika manusia berhasil melewati ujian awal ini, jika manusia mampu mengalahkan nafsunya, ini berarti ia telah berhasil menggenggam kemenangan melawan musuh terbesarnya.

Menurut riwayat Jarir, Abu Laits as-Samarqandi berkata:
“Seseorang ingin menjadi teman nabi Isa as :”Bisakah aku menjadi teman seperjalanan Anda?”. Setelah tawaran ini diterima mereka akhirnya berjalan bersama. Sesampainya di tepi sungai, mereka beristirahat untuk makan. Disampingnya ada 3 buah roti. Mereka makan dua buah rotinya, masih tersisa satu lagi. Nabi Isa kemudian berdiri menuju sungai untuk minum, kemudian ketika kembali ke tempat duduknya beliau tidak menemukan roti yang tersisa satu lagi tadi. Nabi Isa bertanya kepada teman seperjalanannya:”Siapa yang mengambil rotinya?” Lelaki itu menjawab:”Saya tidak tahu.”
Setelah istirahat makan mereka kembal melanjutkn perjalanan. Di perjalanan mereka melihat ada dua anak kijang, nabi Isa memanggil salah satu anak kijang tersebut kemudian menyembelihnya. Setelah membakar bagian leher anak kijang ttersebut, mereka memakannya.

Setelah makan Nabi Isa mendekati sisa tulang dari anak kijang tadi, dan berdoa”Dengan izin Allah, hidup dan bangkitlah lagi”si anak kijang ini tiba-tiba hidup dan bangkit, dan menjauhi mereka.
Setelah peristiwa tersebut, nabi Isa bertanya kepada teman seperjalanannya: “Aku bertanya atas nama Allah yang telah menunjukkan mukjizat tadi,, siapakah yang mengambil rotinya?” Lelaki itu kembali menjawab: “Saya tidak tahu”.

Setelah menempuh perjalanan kembali, beberapa lama kemudian mereka terhalang oleh sebuah sungai. Kemudian Nabi Isa a.s berjalan diatas air, sambil memegangi tangan leleki itu, hingga sampailah mereka di sisi lain sungai tersebut. Setelah melangkahi sungai, Nabi Isa a.s bertanya:”Demi hak Allah SWT yang telah menunjukkan mukjizat tadi, siapa yang mengambil roti ketiga tadi?” Sang lelaki kembali menjawab: “Saya tidak tahu.”

Sesaat kemudian, mereka tiba di gurun, Mereka duduk di sana.  Nabi Isa as kemudian mengumpulakan pasir menjadi sebuah gudukan. Beliau berdoa, “Dengan izin Allah, jadilah ‘emas!” Gudukan pasir itu pun berubah menjadi emas. Nabi Isa membaginya menjadi tiga dan berkata kepada lelaki teman seperjalanannya tadi:”Sepertiganya unuk saya, sepertiganya untuk kamu, dan sepertiganya untuk yang mengambil roti ketiga tadi.” Mendengar hal itu, si lelaki itu berkata:” yang mengambil roti ketiga tadi adalah saya.” Ujarnya mengakui kebenaran yang sebenarnya. Nabi Isa kemudian berkata,”kalau demikian semua emasnya untukmu saja’, dan akhirnya beliau memisahkan diri darinya.

Ketika si lelaki duduk di tengah padang pasir, , tiba-tiba terlihat dua orang pengelana. Pengelana ini datang dan ingin membunuhnya. Si lelaki menawarkan kepada kedua pengelana tersebut; “emas ini kita bagi tiga, tapi sebelumnya tolong salah satu diantara kalian pergi ke kota untuk membeli makanan.” Mereka menerima tawaran ini dan memutus salah satu dari mereka untuk pergi ke kota. Orang yang pergi ke kota ini dalam perjalanannya berpikir: “Mengapa harus aku bagi emasnya kepada mereka? Jika aku memberi racun pada makanannya, aku bisa membunuh mereka. Dengan demikian semua emas akan menjadi miliku”. Ia pun pergi membeli makanan. Setelah meracuni makanannya ia kembali pada mereka. Mereka yang duduk menunggu pun berdiskusi juga,”mengapa kita harus memberikan sepertiga emasnya untuk dia, kita bunuh saja dia, jadi emasnya kita bagi berdua saja.” Sepulangnya orang ke tiga dari kota, mereka membunuhnya. Namun setelahnya mereka tetap memakan makanan yang dibawanya, merekapun turut meninggal dunia. Dengan demikian emas itu pun kini tidak ada pemiliknya. Nabi Isa as sekali lagi melewati gurun pasir tadi dan melihat apa yang terjadi disana. “Inilah hakikat dunia. Maka jauhilah ia.”

Nafsu diciptakan dengan karakteristik tidak akan kenyang dengan semua kenikmatan yang ada di dunia. Apa yang diinginkan Tuhan dari manusia pun adalah hal-hal yang tidak diinginkan oleh nafsu. Oleh karena itu, manusia senantiasa berada dalam perjuangan menghadapi pemberontakan dan halangan-halangan mentaati perintah Allah SWT. Dalam kondisi demikian bukan berarti manusia tidak memiliki penolong dan jalan keluar. Oleh karena sebenarnya telah diberikan bentuk-bentuk pertolongan jika manusia mampu memenuhi hak iradahnya di jalan ini. Dimulai dari Allah SWT sebagai Tuhan semesta alam, para nabi, kitabullah, para awliya(waliyullah) dan hati nurani kita akan selalu menjadi penolong bagi kita…


Sabtu, 16 Mei 2015

Menuju Cahaya!

Cahaya itu ada, sangat jelas! Selamat untuk orang yang sudah sampai. Ada yang diberi dan ada yang harus mencari. Berletih-letihlah Anda, orang yang sedang menuju. Berbahagialah meski belum sampai, dan janganlah berhenti. Kar'na bisa jadi, sejatinya Anda sudah sampai, namun belum diizinkan untuk melihat, agar Anda berjalan lebih jauh, berada lebih dekat, hingga suatu saat Anda mengerti, Anda tak mau kemana-mana lagi.

Beranilah!


Semua hal baik perlu dicoba, jangan takut |  "Bagaimana kalau gagal?" | Gagalnya orang yang mengusahakan  kebaikan lebih mulia dari orang baik yang tidak melakukan apa-apa | "Gagal diatas kebaikan" | Dan sejatinya tak ada kata "gagal" bagi orang yang mengusahakan kebaikan | Karena jika  demikian, sejatinya dia telah berhasil, berhasil menjadi orang baik | Dan Jika  berhasil melakukan kebaikan, Dia telah berhasil diatas keberhasilan | Dan itulah kemenangan yang nyata, "kemenangan yang mulia!"||
Tapi jangan  sekali-kali mencoba keburukan | Mengusahakan hal buruk maupun menghasilkannya adalah sama-sama keburukan meski kadarnya berbeda | Mengusahakan keburukan adalah satu langkah menuju kegagalan, karna berusaha menanggalkan diri dari lingkar  "kebaikan" | Sedang  menghasilkan keburukan hakikatnya adalah kegagalan yang nyata, dan adalah kekalahan yang hina||
"Usahakanlah kebaikan! mengusahakan kebaikan adalah satu langkah menjadi orang baik | Dan  menjadi orang yang menang!"||



Rabu, 11 Maret 2015

Bahagia itu Keputusan

            Bahagia itu mudah dan sederhana. Melihat anak kecil yang lucu, bahagia. Hujan turun, bahagia. Lapar kemudian makan, bahagia, dll. Seseorang akan mudah bahagia apabila dia melihat setiap kejadian dalam hidupnya secara utuh, dan dirinya benar-benar hadir dalam hidupnya. Sebaliknya seseorang akan sulit bahagia apabila yang difikirkan adalah kekhawatiran-kekhawatiran yang belum jelas, dan khayalan-khayalan tentang sesuatu yang belum terjadi. "Bagaimana kalau?"

           Orang yang mudah bahagia, baginya selagi masih ada hal-hal kecil yang bisa membuatnya tertawa dia pantang bersedih. kalau toh tak ada yang bisa membuatnya tertawa, maka dia akan mencari. Orang yang mudah bahagia selalu bersyukur, bahkan ketika tak ada satu alasan pun yang membuatnya harus bersyukur, dia akan menciptakan sendiri alasan untuk bersyukur, "Aku bahagia karena telah diberi kesempatan untuk melihat dunia ini."

              Sebaliknya, orang yang sulit bahagia, dia cenderung untuk menyesali, bahkan ketika banyak sekali nikmat yang seharusnya membuatnya bersyukur, dia akan mengeluh karena suatu hal kecil yang sebenarnya tak sebanding dengan nikmat yang diterimanya. Bahkan ketika tak ada satupun alasan yang pantas untuk dirinya mengeluh, dia akan membuat-buat alasan itu sendiri. Bahkan ia bisa menyesali "Mengapa saya dilahirkan."

               Bahagia itu sebenarnya adalah niat. Ya, niat! Seseorang akan mudah bahagia apabila niatnya adalah untuk bahagia. Anda juga demikian, membaca tulisan ini apabila niat awal anda bahagia, maka anda akan bahagia ketika menemukan kata-kata yang lucu misalnya, atau bahkan ketika tak ada satu kalimat pun yang membuat Anda tertawa, Anda akan tetap bahagia dengan cara Anda sendiri.

               Jadi kesimpulannya adalah, "Bahagia itu keputusan Anda!". Putuskan, "Saya mau berbahagia, apapun yang terjadi, titik!". Maka selamat! Hidup Anda bahagia.

Selasa, 10 Maret 2015

Membangun Karakter

            Membangun karakter itu mudah sejatinya apabila didukung dengan lingkungan yang berkarakter. Karakter itu sendiri sejatinya secara alami akan tumbuh seiring perkembangan dan pertumbuhan seseorang. Seseorang yang lahir di lingkungan orang-orang yang berbahasa jawa akan bisa dan mahir berbahasa jawa. Artinya adalah, pada tahap awal kehidupan seseorang yaitu dari kanak-kanak hingga remaja, apa yang ada pada seseorang adalah akumulasi pengetahuan serta respon internal orang tersebut terhadap lingkungannyan yang mencakup keluarga dan masyarakat. Baru pada tahap remaja, seseorang mulai bisa berfikir dan memilah apa yang sesuai untuknya, dan apa yang tidak sesuai untuknya. Perkembangan karakter sedikit banyak dipengaruhi oleh seberapa luas pergaulannya, dan lebih banyak dengan siapa mereka bergaul.
             Membangun karakter akan menjadi sulit apabila memulainya pada usia remaja ke atas. Seseorang yang semasa kecilnya hidup di lingkungan yang tidak berkarakter, atau berperadaban rendah, dan menghabiskan hampir seluruh masa tersebut di lingkungan itu akan mengalami kegalauan yang besar ketika bergaul dengan orang-orang yang berperadaban lebih tinggi. Dia akan merasa dirinya begitu berbeda, dia melihat betapa karakter yang ada pada lingkungan baru tersebut sama sekali baru dan tidak ada pada dirinya. Pergaulan pun menjadi canggung, dan tak jarang yang terjadi adalah lingkungan barunya tersebut meremehkan bahkan mentertawakannya karena melihat betapa rendah seseorang tersebut dimata mereka.
             Jika demikian yang terjadi,  hal pertama yang perlu dilakukan seseorang adalah, mengakui bahwa dirinya baru dan mau belajar. Kepribadian yang selama ini mengkristal, sifat-sifat yang kurang beradab yang ada tidak mungkin diruntuhkan seketika. Perlahan tapi pasti, menyisipkan nilai-nilai baru, serta membuang hal-hal yang sudah tidak berguna yang membebani kepribadiannya mutlak dilakukan. Kontinuitas lah yang akan mengubah kepribadiannya yang lama menjadi manusia baru yang berkarakter. Konsekuensinya adalah seseorang tersebut harus siap di ejek, ditertawakan dan dihina. Namun yang terpenting adalah keberanian untuk mendobrak, serta kemauan belajar yang terus-menerus untuk memungut sejengkal demi sejengkal karakter baru, menjadikannya bagian dari kepribadiannya, dan kesungguhan untuk sejengkal-demi sejengkal membuang sifat-sifat buruk, dan sifat yang kurang beradab, serta menggantinya dengan nilai-nilai karakter baru tersebut.

Senin, 09 Maret 2015

Bejo dan Sepatu Barunya


Namaku Samijo, tapi temen-temen memanggilku "Bejo." Aku kuliah di Gundar,  Sore itu, di suatu  sudut kota depok yang tak pernah mati, aku bermaksud  menge-sol kan sepatu lama-ku yang sudah lama "mangap" di bagian depannya, yang sudah ku cuci terlebih dahulu. Kebetulan sekali, sore itu temanku baru saja mengembalikan uang 50 k yang doi pinjem beberapa hari sebelumnya.  
Dengan uang 50 k, aku bergegas mencari tukang sol. Jalan margonda cukup lengang sehingga dengan mudah aku menyeberang. Setelah menyeberang, aku harus memilih antara belok kanan, ke arah kampus yang biasanya di situ ada tukang sol-sepatu di sela2 gang kost-an mahasiswa, atau belok kiri ke arah pasar kemiri. Akhirnya kuputuskan untuk mengambil arah kiri karena beberapa hari yang lalu di situ aku berpapasan dengan tukang sol sepulang dari ngampus.
"Siapa tahu doi lewat situ lagi" pikirku.
Setelah sekian lama berjalan kaki menyusuri gang-gang pasar, tak juga kudapati tukang sol yang melintas, atau setidaknya ada yang buka lapak di salah satu kios pasar. " Ini nih, kalo lagi ngga butuh, ber-seliweran, pas lagi butuh, ngga ada satupun yang nongol" pikirku mulai jenuh.  
Kuputuskan untuk terus berjalan hingga ke ujung pasar yang nantinya akan  tembus jalan margonda, sembari mengamati keadaan pasar.  "Yah, siapa tahu bisa belajar something".  Hitung2 untuk mengganti jogging pagi ku yang tak sempat aku tunaikan.
Semakin masuk ke dalam pasar, keadaan semakin ruwet, dan jalan semakin becek. Terpikir dalam benakku, "seandainya ada di Detos sepatu seharga 50 K, pasti aku beli dan ngga perlu kesini." Tapi faktanya "Ngga ada dan ngga akan  pernah ada."
Hingga ujung pasar tak juga kutemui satu pun tukang sol-sepatu. Tapi setidaknya aku jadi tahu harus kemana aku kalau sewaktu-waktu butuh buah-buahan, atau
harus kemana kalau aku mau mengecilkan baju, dan banyak hal lain selama ini tak ku sadari ada di sekitar domisiliku di Depok.  
Kini aku berjalan di sepanjang jalan Margonda hendak kembali menuju kostan-ku. Sore ini begitu sejuk. Jalan cukup ramai namun tetap lenggang. Margonda tampak lebih lebar dari biasanya. Tanaman-tanaman hias yang berada diantara dua jalan yang berlawanan arah, sepanjang jalan Margonda, tampak menghijau dan melambai-lambai tertiup angin dari kendaraan lewat.  
Hari sudah mulai gelap ketika tiba-tiba seorang penjual sepatu keliling membangunkan ku  dari lamunan akan keindahan Margonda. Insting marketingnya segera muncul ketika ada orang yang melihatnya. Dengan panjang lebar dia jelaskan keunggulan sepatunya, bahkan dengan demonstrasi menyulut dengan korek api, memelintir dll.
Penampilannya sangat sederhana. Melekat di badannya celana jins  kumal, dan seoblong kaos. Kulitnya legam, mungkin sudah berhari-hari disengat panasnya mentari kota deepok. Namun dibalik kesederhanaannya, ku akui kemampuan menjualnya begitu memikat, bahkan mungkin lebih baik dari mahasiswa yang belajar marketing sekalipun.
Setelah dijelaskan panjang lebar, bukanya tertarik untuk membeli, malah timbul rasa sesal dalam benakku,  "Kenapa aku tadi berhenti, kan cuma bawa uang 50 k", "Kan ngga enak kalo ngga jadi beli".
Dengan  sopan ku sampaikan bahwa ku  menghargai kalau produknya bagus, dan sebenarnya aku  berminat untuk beli, akan tetapi karena suatu hal, Bla2.. ngga jadi beli. Namun, si penjual tetep kekeh meyakinkan dan  menurunkan harganya menjadi 125 K. "Kalo bawa uang segitu mah kubayar, karna memang lagi perlu buat dipake besok ngampus" pikirku.
Akhirnya aku tegaskan, "Gw ada 50 K, kalo dapet gw beli, kalo ngga, ngga beli." Si penjual terus menawar, beberapa kali namun selalu aku bantah. "Entah akunya
yang lagi Bejo atau si penjual yang lagi butuh duit?." Akhirnya sepatu itu dilepas dengan harga 50 K.  "What? 50k..?" "Ngga nyangka banget di kota Depok yang serba mahal ini bisa dapet sepatu seharga 50 K.", "Uang segitu mah, cuman bisa buat makan 2X, di warung padang." ,"Ngga salah aku dikasi nama Bejo,..hehe.." Pikirku sembari meneruskan jalan.
Aku Bahagia banget sore ini bisa dapet sepatu baru, murah lagi. Tapi bukan itu masalahnya. Aku seneng banget karena besok ngga perlu lagi bingung mau pake sepatu siapa? pas ngampus...hehe...
Aku terus bersyukur sembari berjalan. Nampaknya Azan maghrib sudah berkumandang.  Sesampainya di kost-an, aku segera siap-siap dan bergegas untuk mendirikan sholat maghrib.


Minggu, 08 Maret 2015

Membahagiakan Orang Tua

            
Banyak di antara kita yang bercita-cita membahagiakan orang tua setelah sukses nanti. Namun pernahkan kita bertanya pada diri sendiri, apakah saat ini kita sudah bisa membahagiakan mereka? 
Jika saat ini kita belum bisa membuat mereka bahagia, lalu siapa yang bisa menjamin bahwa kelak kita bisa mebuat mereka bahagia? Tidak ada yang tahu apakah kelak kita bisa sesukes yang kita harapkan, sehingga bisa membahagiakan mereka seperti yang kita harapkan. Atau, siapa yang bisa menjamin setelah sukses kelak kita akan memiliki waktu untuk orang tua kita, dan siapa yang bisa menjamin bahwa setelah kita sukses kelak, orang tua kita masih dalam keadaan sehat wal'afiat?
Jika membantu ibumu mencuci piring saat ini bisa membuatnya bahagia, menurut saya itu lebih baik dari pada menghajikan ibumu setelah sukses kelak, karena itu belum terjadi. Bukan berarti mengurangi rasa optimis kita untuk membahagiakan mereka dengan pencapaian kita di masa yang akan datang, akan tetapi jika saat ini kita bisa membahagiakan mereka dengan hal-hal yang kita bisa lakukan saat ini, mengapa tidak?
Terlebih menurut saya, orang tua kita tidaklah terlalu melihat seberapa besar yang bisa kita berikan untuk mereka. Akan tetapi bagaimana kita selalu ada untuk mereka disaat mereka benar-benar membutuhkan kita untuk ada, itulah yang terpenting.

Semoga kita menjadi pribadi yang senantiasa menyejukkan hati kedua orang tua kita. Semoga kelak kita bisa menjadi sesukses yang kita harapkan. Semoga kita bisa menemani hari tua mereka dalam kesejahteraan dan kesehatan yang baik. Dan semoga kelak kita dipertemukan kembali dengan mereka di Surga-Nya. Aamiin.

Sabtu, 07 Maret 2015

Jiwa Perindu

Jiwa Perindu

Manusia adalah jiwa-jiwa perindu. Dia merindukan teman-temannya, dia merindukan sahabatnya, dia merindukan keluarganya, dia merindukan bapak-ibunya.
Bagaimana mungkin dia tidak Merindukan Tuhannya, Dzat yang menghembuskan nafas di setiap detik kehidupannya, yang Maha Mencukupi segala kekurangan, yang Maha Mendengar setiap kata hatinya, yang menjaganya disaat terjaga dan terlelap.
Wahai diri yang lalai, sudah cukup! Kegersangan hatimu adalah bukti akan rindu yang tak kunjung terobati, semakin diabaikan sakit itu akan semakin menjadi-jadi. Maka segeralah menghadap-Nya, basuhlah hatimu dengan mata air rahmat dan kasih-Nya.
Sehingga kau dapati, hati yang gersang kerontang perlahan menghijau dan mekar bak taman-taman surga. Lantas kemudian, jagalah! Karna sejatinya kau akan slalu rindu, dan selalu merindu, hingga pertemuan dengannya di keabadian. Karna kau adalah Jiwa-jiwa Perindu.


Minggu, 22 Februari 2015

Separuh Jiwa



Separuh Jiwa 

               Jiwa Ini serasa Kosong, aku melihat bagian diriku ada pada orang lain, sehingga sering merasa bergantung. Serasa sepi kalo ngga ada mereka, sehingga seolah-olah jiwa ini sering minta tolong sama mereka. Mereka ada, dan hadir, tapi mereka bukan bagian dari diriku.

Aku minta Allah mengisi sebagian yang kosong ini, agar tidak dimasuki syaitan. Jika jiwa ini penuh, jiwa ini kuat. Separuh adalah dariku, separuhnya berupa kehadiran, Hidayah dan bimbingan Allah. Cukuplah Allah sebagai penolongku. Allah sebagai Penghiburku.

Separuh jiwa ini kosong, mintalah Allah untuk mengisinya. Hati diisi oleh jiwa, yang separuhnya adalah jiwa kita, Yang separuhnya lagi adalah singgahsana Allah. Apabila yang separuhnya diisi selain Allah, maka guncanglah jiwa, karena tak ada sesuatupun yang mampu memenuhi separuh bagian itu kecuali Allah, dan memang itu adalah singgahsana Allah.

Kalaupun ada, yang selain Allah itu fana, sehingga seolah-olah qalbumu merasa tercukupi, padahal, kehadiran yang selain Allah yang bersifat sementara itu hanya akan membuat qalb kita merasa sakit dan kosong ketika kita menyadari bahwa mereka telah pergi. Saat  qalb sakit dan setengah kosong, jiwa kita mudah terguncang, albu ini merasa perlu segera diisi kembali sehingga sering mencari pelarian-pelarian, yang dalam hal ini orang sering terjerumus, karena saat terguncang, dengan mudah syaitan akan masuk qalbu.

So, hanya Allah lah yang berhak mengisi separuh jiwa dalam qalb kita. Karena jiwa kita abadi, dan Allah pun abadi serta tak terhingga, sehingga mampu memuaskan setiap jiwa, setiap saat dan selama-lamanya. Berharaplah hanya kepada Allah. Berbuat baiklah pada sesama, tapi jangan pernah berharap, walau hanya sebutir debu.

Hanya Yang Tak Terhingga lah yang mampu memuaskan setiap Jiwa, Hanya Yang Tak Terikat Oleh Ruang Dan Waktu lah yang bisa hadir disetiap saat kapanpun kita butuhkan, dan akan selalu butuh. Hanya Yang Maha Kekal lah yang Abadi.

                                                                                    Subhanakallohumma wabihamdika ashaduallailahaillalloh waastaghfiruka waatubuilaik.

Jumat, 13 Februari 2015

Memperbaiki Diri



 Memperbaiki Diri

                Setiap hari saya dibangkitkan dari mati*, tidakkah saya berfikir? Ingat mati hendaknya bukanlah membuat kita malas hidup. Justru sebaliknya membuat kita semangat untuk hidup. Hari ini saya lebih tua satu hari dari hari kemarin. Apa yang sudah saya perbuat?

                Setiap hari saya dibangkitkan dari mati, tidakkah saya berfikir? Adakah hari ini lebih baik dari kemarin, sehingga termasuk orang-orang yang beruntung? Atau termasuk orang-orang yang merugi, yang hari demi hari sama? Atau yang hari ini lebih buruk dari kemarin? Naudzubillah.

                Ibu yang bijak berpesan: "Anakku, boleh kiranya kamu menolak menghadiri undangan pesta nan meriah. Tapi jangan sekali-kali menolak menghadiri undangan takziah."

                Karena di situ kamu diingatkan. Bahwa setiap detik yang kamu lalui haruslah bermakna. Semua yang kamu lakukan hanyalah untuk dirimu, bahkan menolong orang pun sejatinya adalah untuk kebaikanmu di akhirat, akan tetapi bukan hanya itu masalahnya. Waktu hidupmu yang sementara menuntutmu! Ya,menuntutmu untuk memberi manfaat bagi sebanyak-banyaknya manusia.

                Setiap hari saya dibangkitkan dari mati, tidakkah saya berfikir? Semoga kita senantiasa menjadi pribadi yang hari-harinya dilalui dengan perbaikan, serta menjadi pribadi yang bisa memberi sebanyak-banyaknya manfaat bagi sesama.

*dalam suatu riwayat, mati = tidur. Saat tidur Allah menggenggam/ menahan jiwa kita, lalu sebagian ada yang dikembalikan dan ada yang tidak. Orang yang bangun dari tidur, diibaratkan orang yang bangkit dari mati, atau diberi kesempatan hidup satu hari lagi, setiap harinya, tapi kebanyakan manusia tidak berfikir.

Sabtu, 31 Januari 2015

Pelajaran Tentang Doa

                                                        
                                                     Pelajaran Tentang Doa

            
   "Sangatlah dungu orang yang menginginkan terjadinya sesuatu yang tidak dikehendaki Allah pada suatu waktu."

               Kita sering keliru menyikapi pengabulan atas doa. Ini disebabkan kita tidak menakar kedudukan kita di sisi Allah, tapi malah menakar Allah di sisi kita.

              Allah menyapa kita dengan terang melalui asma terindah-Nya. Sayangnya kita tidak menghiraukan sapaan-Nya dan lebih memperhatikan permintaan kita kepada-Nya.

               Kehadirannya yang nyata terhijab oleh khayalan kita semua. Padahal apa yang kita inginkan senantiasa dikabulkan menurut kadar-Nya, bukan menurut kadar kita. Sesuai dengan kehendaknya, bukan sesuai dengan kemauan kita.

               Berserahlah pada keputusan-Nya. Tundukan keinginanmu pada kehendak-Nya. Engkau terpilih, engkau tak akan tersisih.
                                                                                                        *Dari Buku Al-Hikam

Sabtu, 18 Oktober 2014

Pahala Dunia

Image source: Dok. pribadi

PAHALA DUNIA

 Ibnu Rajab menceritakan bahwa ada seorang hamba yang kehabisan perbekalan sewaktu di Makkah. Dia benar-benar kelaparan, dan hampir mati karena kekurangan gizi. Suatu hari ketika ia berjalan tertatih-tatih di seputar Makkah, dia menemukan seuntai kalung mahal. Dia memasukkan kalung tersebut ke dalam sakunya dan segera pergi ke masjid. Dalam perjalanannya, dia bertemu seorang laki-laki yang bercerita bahwa dia telah kehilangan seuntai kalung. Ketika digambarkan tentang kalung itu, dia  yakin bahwa itu adalah kalungnya. Lalu dia berikan kalungnya tanpa meminta upah. Kemudian dia berkata, “Ya Allah, telah aku serahkan itu kepadamu, maka balaslah aku dengan yang lebih baik."

Kemudian dia pergi ke laut dan memulai perjalanan dengan perahu kecil. Tidak lama kemudian, badai laut dengan angina besar melanda, menghantam perahunya hingga pecah berkeping-keping. Laki-laki itu mencoba bertahan pada sebatang kayu. Tetapi angina besar mengombang-ambingkannya ke kiri dan ke kanan. Hingga akhirnya dia terdampar di sebuah pantai. Di sana dia menemukan sebuah masjid yang dipenuhi dengan orang yang sedang shalat berjamaah, dia pun bergabung. Dia menemukan juga beberapa kertas berisikan ayat-ayat Al-Quran dan dia membacanya. Orang-orang di pulau itu bertanya, Apakan Kau bisa membaca Al-Quran?” dia mengiyakan. Kata mereka, “Ajarilah anak-anak kami membaca Al-Quran.” Dia pun mulai mengajari mereka, dan mendapatkan upah dari pekerjaannya.

Suatu hari mereka melihatnya sedang menulis dan mereka berkata, “Maukah kau juga mengajari anak-anak kami menulis?” Sekali lagi, ia mengiyakan lalu dia pun mendapat upah dari pekerjaannya itu. 

Tak lama kemudian mereka berkata pada orang itu, “Ada seorang gadis yatim yang bapaknya sudah almarhum dan termasuk orang yang saleh, Maukah kau menikah dengannya?” Dia setuju untuk menikahinya. Dia bercerita, “Aku menikah dengannya dan malam pertama pernikahanku, aku melihat dia memakai kalung yang persis dengan yang aku temukan dulu. Aku memintanya untuk menceritakan tentang kalung itu. Katanya, ayahnya kehilangan kalung itu sewaktu di Makkah. Seorang pemuda menemukan dan mengembalikan pada ayahku. Dia pun mengatakan ayahnya senantiasa berdoa agar putrinya dianugerahi pria yang jujur seperti pemuda tadi.

Dia serahkan sesuatu hanya demi Allah, maka Allah membalasnya dengan yang lebih baik. “Sesungguhnya Allah itu baik dan tulus, dan Dia tidak menerima selain yang baik dan tulus”


                                                                                                                            Dikutip dari Aidh Al-Qarni, dari buku Enjoy Aja Lagi, karya Uje